Bepergian (bagian II)

Setiap hari tak terhitung jumlah orang yang bepergian. Mereka terus bergerak mencari kepuasan. Konflik, pertikaian dan perang tak pernah dianggap sebagai hambatan serius. Namun, mereka mengalami kelelahan juga. Lucunya, kelelahan tidak membuat mereka kehilangan gairah bepergian. Setelah istirahat secukupnya,  mereka bepergian lagi. Mereka seakan-akan menginternalisasikan petuah Imam Syafi’i ini: Sesungguhnya aku melihat air yang tergenang lama-kelamaan rusak. Jika air tersebut mengalir maka air tetap jernih, dan jika terhenti maka tidak jernih. Mereka pun terbiasa bepergian. Bepergian tidak hanya dilakukan oleh badan. Ia bisa juga dilakukan oleh pikiran. Pikiran usang pergi, pikiran baru datang. Maka jangan pertahankan pikiran usang. Segera ganti dengan pikiran baru. Ikuti dengan doa yang diajarkan Rasulullah saw: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak, amal, dan hawa nafsu yang jelek. Kita siapkan  mengobarkan api semangat membuang pikiran usang. Begitu ada buku edisi kedua, segera kita lupakan edisi pertamanya. Kita sambut kedatangan pikiran baru teriring harapan bisa membentuk masa depan bersama yang lebih baik (bersambung).

(02/12/2022)

Bepergian (bagian I)

Ibnu Batutah berasal dari Maroko. Dia pernah berkelana ke berbagai pelosok dunia pada abad pertengahan. Sepulang berkelana, dia berkata: bepergian akan mengubah dirimu dari orang yang tidak bisa berbicara menjadi orang yang banyak bercerita. Lewat pesan itu, Batutah menggelorakan semangat untuk bepergian. Untuk apa? Agar memperoleh cerita baru, gaya hidup anyar, dan lingkungan baru. Kita mulai tertarik bepergian. Imam Syafi’i merupakan pendiri Mazhab Syafi’i. Dia berasal dari Gaza dan wafat di Kairo Lama. Dia berpesan: bepergian mendatangkan lima manfaat, yakni: (i) mengobati kegelisahan, (ii) mendatangkan pekerjaan, (iii) memperoleh ilmu pengetahuan, (iv) melatih kesantunan dan, (v) menambah teman. Kita pun semakin tertarik bepergian. Namun, sebelum memutuskan untuk bepergian, simaklah firman Allah ini: Maka tidaklah mereka bepergian di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul), dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu memikirkannya?  (QS. Yusuf: 109). Kini bepergianlah (bersambung).

(01/12/2022)

Belajar (bagian III)

Kita punya dua kehidupan: nyata (real) dan maya (virtual). Dalam kehidupan nyata kita dilarang untuk berdusta. Tetapi, kehidupan maya memfasilitasi kita berdusta. Semakin sering kita menempuh kehidupan maya, semakin sering pula kita saksikan ekspresi palsu. Bagi sebagian besar orang ini jadi masalah. Soalnya, perasaan manusia sulit diajak berdusta. Sulit pula menerima dusta. Maka kita harus sesedikit mungkin menjalani kehidupan maya. Allah berfirman:  Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mukminun: 115). Mungkin ada yang berkomentar, daripada repot membagi waktu, kenapa tidak sekalian saja cabut dari kehidupan maya? Tidak bisa! Teknologi sudah menciptakannya. Hasil ciptaan itu makin lama makin canggih. Dunia bisa dalam genggaman manusia yang memegang smart phone. Berbagai urusan bisa diselesaikan oleh berbagai aplikasi dalam sekejap. Kita akan tertinggal kalau tidak memanfaatkannya. Kita pelajari dan hindari saja dusta yang dihasilkannya. Agar kita tetap memperoleh kebenaran (habis).

(30/11/2022)

Belajar (bagian II)

Membaca remaja sekarang, terkesan mereka hidup pragmatis. Mereka ingin meraih kesuksesan dengan cepat. Namun, mereka mudah tertekan. Tidak jarang mereka ditelikung depresi kalau obsesinya tidak tercapai. Mengapa? Konon mereka dibentuk oleh sekolah yang seolah pabrik untuk menghasilkan manusia sukses secara instan. Media pun berkontribusi terhadap keadaan ini. Maka remaja harus segera disadarkan mereka adalah makhluk budaya. Otomatis mereka perlu mengadopsi kebudayaan adalah proses belajar. Perwujduannya melalui penggunaan akal budinya. Mereka memproses dirinya menggunakan pengetahuan yang berjenjang secara optimal. Kecuali itu, orang tua dan guru harus demokratis terhadap remaja. Menyantuni kecerdasan mereka.  Membuang jauh-jauh sikap otoriter terhadap mereka. Menggantinya dengan usaha melengkapi kekurangan mereka. Allah berfirman: Pimpinlah kami ke jalan yang lurus (QS. Al Fatihah: 6). Melengkapi kekurangannya, remaja perlu juga mengamalkan petuah Ibnu ‘Athaillah berikut: Sadarilah akan sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah akan membantumu dengan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Akuilah kehinaan dirimu di hadapan Allah niscaya Allah akan membantumu dengan kemuliaan-Nya. Akuilah semua ketidakberdayaanmu, niscaya Allah akan membantumu dengan kekuasaan-Nya (bersambung).

(29/11/2022)

Belajar (bagian I)

Kita boleh miskin harta, tapi jangan miskin pengetahuan. Prinsip ini sering kali kita dengar. Bahkan kita sampaikan juga kepada ana-ponakan kita. Lalu, siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap perolehan pengetahuan anak? Orang tuanya, tentu saja. Rasulullah saw bersabda: Sebagian dari kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarkan menulis, mendidik, memberi nama yang baik dan menikahkannya apabila sudah baligh. (HR. Ibnu Hibban). Maka orang tua menyekolahkan anaknya. Anak belajar di sekolah.  Namun, mereka bisa juga belajar di perpustakaan, lewat internet, dan dari kehidupan sehari-hari. Dari belajarlah mereka memperoleh pengetahuan. Pengetahuan adalah kekuatan. Ia bisa menjadi sumber daya untuk menciptakan kemajuan hidup. Ia bisa bisa pula menjadi panduan untuk mengembangkan potensi diri. Kelak anak malah menggunakannya untuk bekerja, mengolah berbagai sumber daya. Kalau pada satu saat mereka tidak mampu, hendaklah mereka memandangnya sebagai masalah sementara. Masalah itu akan segera selesai setelah belajar lagi. Belajar lantas bisa menjadi investasi untuk mencapai hasil yang spektakluer (bersambung).

(28/11/2022)

Waktu (bagian III)

Tambang batu bara ilegal di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, meninggalkan kerusakan alam yang tak terkira. Penanaman kelapa sawit di Papua Barat juga menghancurkan hutan di sana. Orang Asli Papua di sekitar hutan itu seperti tercerabut dari akarnya. Namun, pengrusakan alam itu belum berhenti. Perusak yang bersembunyi di balik nama perusahaan pertambangan dan konsesi hutan dengan sigapnya mencari korban baru. Lalu kapan mereka berhenti merusak alam? Mungkin kita tak berdaya mencegahnya. Bukankah mereka bekerja sama dengan pihak keamanan dan menyuap penguasa? Namun, Allah tidak akan membiarkannya merusak alam terus-menerus. Simaklah firman-Nya: Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsung pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan (QS. Yunus: 81). Berarti akan ada waktu untuk menghentikannya. Akan ada pula waktu untuk merestorasinya. Marilah kita bersabar menunggu waktu itu sembari mencari orang kuat yang akan diusulkan kepada partai politik menjadi pemimpin nasional. Untuk apa? Agar memimpin Indonesia berpihak kepada rakyat. Bukan pada oligarki (habis).

(25/11/2022)

Waktu (bagian II)

Tenggat waktu (deadline) bagi sebagian orang dianggap tidak menyenangkan. Mereka merasa dibatasi dalam bekerja. Namun, ia sangat diperlukan dalam pekerjaan kolektif. Kalau satu kerja dari rantaian sebuah kerja sama telat rampung, semesta kerja sama akan terganggu. Relasi antar manusia dalam semesta kerja sama bisa rusak.  Sebaliknya, kalau seseorang bisa menepati tenggat waktu, dia akan dinilai mampu. Bukan mustahil pekerjaan baru sudah menanti. Dalam kaitan ini, Rasulullah saw bersabda: Ambillah dari pekerjaan-pekerjaan yang kamu sekalian mampu melaksanakannya, karena Allah tidak akan bosan sehingga kamu sendiri yang bosan, dan sesungguhnya pekerjaan yang paling disukai Allah adalah pekerjaan yang berkesinambungan meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, tenggat waktu merupakan wujud tanggung jawab terhadap orang lain. Berbarengan dengan itu, ia merupakan wujud penghargaan terhadap diri sendiri (self reward). Manusia senang bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Kepuasan ini menjadi fondasi untuk menggapai kepuasan berikutnya, menggapai hasil sesuai rencana. Maka, bersahabatlah dengan tenggat waktu (bersambung).

(24/11/2022)

Waktu (bagian I)

Menghargai waktu sudah diajarkan sejak kita masih kecil. Contoh sederhana: tidak boleh telat masuk kelas. Tidak boleh telat makan. Memang tidak boleh telat ini dan itu mendidik kita berdisiplin. Namun, ia membantu kita menghargai masa sekarang. Masa sekarang adalah realitas. Ia berhubungan dengan masa lalu dan masa datang. Peristiwa yang terjadi sekarang tidak pernah berdiri sendiri. Ia memiliki kaitan dengan masa lalu dan akan memproses masa depan. Maka kita diharapkan bisa menangkap kewajiban atas waktu. Setidaknya terdapat dua kewajiban penting. Pertama, tidak membiarkan waktu kosong. Soal ini Rasulullah saw bersabda: Dua nikmat Allah yang tertipu olehnya kebanyakan manusia; nikmat sehat dan nikmat waktu luang (HR. Bukhari dan Ibnu Abbas). Ini menunjukkan, ketika sepi dari kesibukan dunia, kita kerjakan  urusan akhirat. Kedua, merenung untuk memperoleh kesadaran tentang kebaikan orang di masa lalu. Hasilnya, misalnya, ternyata ayah, kakek dan buyut kita dulu sudah merintis dan berdoa untuk kesuksesan kita. Kalau memang begini, tentu kita harus menghargai para orang-orang tua dulu (bersambung).

(23/11/2022)

Etika (bagian III)

Dulu, orang biasa adalah yang tidak terlilit hutang. Bebas merdeka. Tidak melanggar Undang-Undang dan Kode Etik. Namun, sekarang ciri-ciri di atas sudah menjadi karakteristik orang luar biasa. Soalnya, orang biasa sekarang biasa berhutang. Mencicil kredit tiap bulan merupakan rutinitas. Orang biasa juga harus berafiliasi dengan kelompok tertentu sebagai jaminan hidup sejahtera. Seorang patron juga mencari dukungan. Orang biasa tidak setakut dulu melanggar UU dan Kode Etik.  Kalau sudah begini, apakah masih perlu membahas etika? Tetap perlu karena ia bisa menjamin terciptanya masa depan bersama yang baik. Tentang hal ini, Rasulullah saw bersabda: Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu (HR. Ali Bin Abi Thalib). Anak-anak akan menjalani masa depannya bersama makhluk lain. Orang tua perlu menunjukkan jalan yang akan ditempuh. Mereka tidak bisa mengelak dari kewajiban itu. Kewajiban ini sering kali disebu etika masa depan. Etika sekarang untuk masa depan (habis).

(22/11/2022). 

Etika (Bagian II)

Yang memperoleh keutamaan adalah yang mematuhi etika. Siapa mereka? Yang menjalani kehidupannya dengan tenang. Kapan? Ketika mereka sudah memiliki sikap dan tindakan yang terukur. Semua itu konon diorientasikan untuk: (i) memenuhi  kehendak Allah, (ii) memperoleh rekognisi manusia, (iii) memuaskan tuntutan lingkungannya. Tentang yang pertama, Allah berfirman: Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah: 5). Soal yang kedua, manusia perlu rekognisi untuk melengkapi eksistensi kemanusiaannya. Agar bisa hidup bersama dengan orang lain secara nyaman. Tentang yang ketiga, manusia berusaha memuaskan tuntutan lingkungannya agar hasil kerjanya dianggap bernilai. Harapannya, nilai ini bisa disebarluaskan. Sadar atau tidak etika  selalu terkait dengan profesi. Untuk mengingatkan pelaku sebuah profesi tentang etika kewajiban, dirumuskanlah Kode Etik. Misalnya Kode Etik Kedokteran Indonesia untuk para dokter dan Kode Etik Jurnalistik untuk para wartawan. Kode etik lantas menjadi panduan keterampilan teknis sebuah profesi (bersambung).

(21/11/2022).