Etika (Bagian II)

Yang memperoleh keutamaan adalah yang mematuhi etika. Siapa mereka? Yang menjalani kehidupannya dengan tenang. Kapan? Ketika mereka sudah memiliki sikap dan tindakan yang terukur. Semua itu konon diorientasikan untuk: (i) memenuhi  kehendak Allah, (ii) memperoleh rekognisi manusia, (iii) memuaskan tuntutan lingkungannya. Tentang yang pertama, Allah berfirman: Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah: 5). Soal yang kedua, manusia perlu rekognisi untuk melengkapi eksistensi kemanusiaannya. Agar bisa hidup bersama dengan orang lain secara nyaman. Tentang yang ketiga, manusia berusaha memuaskan tuntutan lingkungannya agar hasil kerjanya dianggap bernilai. Harapannya, nilai ini bisa disebarluaskan. Sadar atau tidak etika  selalu terkait dengan profesi. Untuk mengingatkan pelaku sebuah profesi tentang etika kewajiban, dirumuskanlah Kode Etik. Misalnya Kode Etik Kedokteran Indonesia untuk para dokter dan Kode Etik Jurnalistik untuk para wartawan. Kode etik lantas menjadi panduan keterampilan teknis sebuah profesi (bersambung).

(21/11/2022).

Author: Ana Nadhya Abrar

Gagal menjadi jurnalis profesional, tapi berhasil meraih jabatan profesor jurnalisme. Itulah peruntungan hidup Prof. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., Ph.D. yang dikukuhkan sebagai guru besar Jurnalisme di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 10 Maret 2022. Di samping mengajar jurnalisme, dia juga rajin menulis. Selain ratusan artikel dan kolom untuk media massa, dia juga telah menulis dan menyunting puluhan buku. Penulisan biografi adalah spesialisasinya sebagaimana tergambar dari pidato pengukuhannya sebagai guru besar dengan judul “Menarik Garis Batas Jurnalisme dalam Penulisan Biografi”. -Hasril Caniago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *