Apakah sebuah kekaguman pada telaga di atas awan akan melahirkan kerinduan pada telaga berikutnya? Pertanyaan itu berbisik pelan di benak saya, saat berdiri di tepi Embung Bansari, Temanggung, pada 9 Agustus 2026 pukul 09.30 pagi. Ini adalah kali kedua saya jatuh cinta pada pesona embung dan alam raya. Cinta pertama itu mekar beberapa bulan lalu, tepatnya 13 April 2026, saat saya terpaku menatap keindahan Embung Manajar yang memeluk pinggang Gunung Merbabu.
Saya tidak memiliki jawaban pastinya. Namun, semesta di Embung Bansari hari itu begitu magis. Udaranya murni tanpa noda, membawa hawa sejuk yang membelai sukma. Sejauh mata memandang, hamparan hijau kebun tembakau dan sayuran membentang bagai permadani alam. Di kejauhan, Gunung Sumbing berdiri dengan keanggunan yang kokoh. Di sisinya, Gunung Sindoro seolah melambai, berbisik jenaka mengajak kami mendaki puncaknya. Lebih jauh lagi, barisan sakral Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, dan Ungaran berjejer di cakrawala, melahirkan simfoni visual yang menawan jiwa.
Langkah kaki saya ke tempat ini sebenarnya bermula dari sebuah melodi. Pada Sabtu pagi, 8 Agustus 2026, saya menonton video musik legendaris “Akhir Cinta” karya Panbers. Visual video tersebut merekam perjalanan syahdu menuju Kledung demi menatap Gunung Sumbing. Terpikat oleh keindahan yang tertangkap layar, sebuah niat pun tumbuh. Saya lalu mengajak seluruh anggota keluarga untuk menelusuri jejak visual tersebut pada keesokan harinya, Minggu pagi.
Takdir di Warung Soto
Ketika roda perjalanan membawa kami tiba di Secang sekitar pukul tujuh pagi, kami memutuskan berhenti sejenak. Kami menikmati sarapan di sebuah warung hangat bernama Warung Soto Pak Dhe. Di sana, sang pemilik warung bertanya ramah kepada istri saya, Riska, tentang arah tujuan kami. Riska menjawab mantap, “Kledung.”
Namun, seulas senyum dan saran tulus mengubah segalanya. “Jangan ke Kledung, ke Embung Bansari saja. Pemandangannya jauh lebih indah,” ujar pemilik warung sembari memperlihatkan beberapa lembar foto keindahan Bansari.
Sebuah keajaiban kecil terjadi: Riska langsung terpikat, saya pun mengangguk setuju. Seluruh keluarga kemudian sepakat memutar kemudi menuju Embung Bansari.
Dua tanya kemudian mengusik kalbu. Mengapa dari sekian banyak tempat, kami harus sarapan di Warung Soto Pak Dhe? Mengapa pula kami begitu mudah melarutkan rencana awal demi mengikuti usul asing sang pemilik warung? Apakah ini sekadar kebetulan yang jenaka?
Saya adalah manusia yang tidak pernah percaya pada kebetulan. Bagi saya, setiap detik kehidupan adalah untaian aksara dari cerita yang sedang ditulis indah oleh Allah.

Dalam keheningan di tepi embung, saya merenung. Saya memilih percaya, perjalanan kami menuju Embung Bansari hari ini telah diskenariokan oleh-Nya, tidak lama setelah kami digetarkan oleh keindahan Embung Manajar di Merbabu. Salahkah jika saya berprasangka baik pada takdir seperti ini Entahlah! Namun, getaran di dada saya terus membisikkan kebenaran itu.


Mereguk Kenikmatan Alam Secara Optimal
Embung Bansari tidak lahir dari sebuah kebetulan di puncak bukit yang sunyi. Telaga buatan ini adalah buah cinta dan kerja keras warga Kampung Bansari yang bergotong royong memahat kaki Gunung Sindoro. Melalui tangan dingin Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Sembada, tempat ini disulap menjadi ruang bersandar yang nyaman bagi siapa saja yang merindukan keindahan. Di sini, setiap sudut menyajikan bentang alam yang melahirkan kenangan abadi. Membuktikan rekayasa manusia mampu bersanding mesra dengan keanggunan semesta.
Sebagai denyut nadi desa, BUMDes Tirta Sembada paham betul cara memuliakan para tamu yang datang. Mereka menyediakan pelataran parkir yang luas, area perkemahan dan ruang sakral musala berikut toiletnya yang terjaga kebersihannya. Tak jauh dari telaga, berdiri food court bertingkat dua; lantai dasar menjadi tempat mencecap kuliner hangat, sementara lantai atas menjadi panggung berswafoto dengan latar kemegahan Gunung Sumbing dan Sindoro. Dari saung-saung yang menghadap ke embung, pandangan mata bisa berkelana bebas ke cakrawala, menembus kabut tipis demi menyapa puncak Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, hingga Ungaran.
Melihat bagaimana desa bersungguh-sungguh merawat alam demi kesejahteraan warga, hati saya tergerak untuk ikut mereguk kemurnian di sekitar Gunung Sindoro secara utuh. Bersama istri dan kelima buah hati, kami memulai sebuah pendakian keluarga. Meski deru ojek bersiap mengantar hingga Pos 1, kami memilih jalan sunyi dengan berjalan kaki. Langkah demi langkah kami ayunkan bukan sekadar untuk membakar kalori, melainkan sebagai bentuk ziarah kecil untuk menyatu bersama alam.
Keputusan itu berbuah manis pada setiap jengkal tanah yang kami pijak. Di sepanjang jalan mendaki, mata kami dimanjakan oleh lukisan alam yang terhampar hijau di kanan dan kiri jalan. Kami menghirup napas kehidupan lewat udara pegunungan yang bersih sepuas-puasnya. Langkah kami bahkan membawa kami begitu dekat dengan hamparan kebun tembakau yang subur. Memberi kesempatan berharga untuk menyapa dan berbincang langsung dengan dua petani yang tengah memetik lembaran daun hijau kehidupan mereka.
Langkah demi langkah membawa kami menembus batas lelah, hingga 45 menit kemudian, kaki kami menapak di Pos 1. Di sini, di atas ketinggian 1.576 meter di atas permukaan laut (mdpl), kami berdiri tepat di separuh jalan menuju puncak abadi Sindoro yang menjulang 3.153 mdpl. Bagi sebagian orang, puncak adalah satu-satunya tujuan. Namun bagi kami, perjalanan ini memberi pelajaran berharga tentang kearifan: hidup bukanlah tentang memaksakan diri menaklukkan alam. Tetapi, tentang mengenali, menghormati, dan bersyukur atas batas kemampuan yang dianugerahkan kepada kita.
Di usia saya yang telah melewati angka 67 tahun, mencapai titik ini adalah sebuah kemenangan jiwa yang tak ternilai harganya. Saya memilih menyudahi pendakian di sini. Bukan karena menyerah, melainkan karena memahami kebahagiaan tidak selalu berada di tempat tertinggi. Bagi saya, seperti dinukil dalam Al-Qur’an, Surah At-Taubah, Ayat 7, kebahagiaan tertinggi sebagai ciptaan Allah adalah memperoleh ridha-Nya.
Pos 1 menjadi ruang edukasi nyata bagi anak-anak kami, mengajarkan mereka arti menghargai proses dan mencintai bumi dengan bersahaja. Di sisa waktu yang ada, kami mengalokasikan seluruh rasa untuk benar-benar menetap, menghirup kedamaian, dan mereguk keindahan alam Sindoro secara optimal. Kebeningan alam yang kami resapi dengan penuh syukur itu, kini abadi dalam deretan potret berikut:



Merajut Silaturahmi di Tanah Ketitang
Usai jiwa ini dipuaskan oleh kemegahan alam, sebuah tanya mengapung di udara siang. Ke mana kaki harus melangkah selanjutnya? Langit baru menunjuk angka setengah dua, terlalu dini untuk menyudahi hari dan kembali ke Jogja. Namun, bertahan di Embung Bansari pun tak lagi ramah bagi anak-anak; raga kecil mereka telah lelah, terpanggang untaian sinar matahari sejak pagi mendera. Di antara bimbang yang menggelayut, sebuah petunjuk luhur menepis ragu.
Pesona alam rupanya membuka pintu berkah yang lain. Seketika, hati ini digerakkan oleh kerinduan untuk menyambung tali kasih, merajut kembali silaturahmi yang sempat berjarak. Ingatan saya terbang pada Sjafira Hasna (Hasna), lentera ilmu yang dahulu luhur menyelesaikan tesisnya di bawah bimbingan saya. Ingatan saya menerawang ke sebuah hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan Bukhari: siapa yang merindukan kelapangan rezeki dan umur yang berkah, hendaklah ia menjahit kembali jemari persaudaraan. Ia lantas menjadi kompas yang memantapkan langkah kami.
Kabar pun dikirim lewat udara. Bak gayung bersambut, Hasna membuka pintu hatinya dengan penuh suka cita. Sebuah titik koordinat dikirimkan—sebuah alamat di Ketitang, Kecamatan Jumo, Temanggung, tempat bernaungnya rumah masa kecilnya.
Tepat pukul dua siang, roda kendaraan mulai berputar meninggalkan Embung Bansari. Di bawah panduan peta digital, kami membelah hamparan bumi Temanggung. Sepanjang mata memandang, rona hijau sawah dan kelebatan hutan menari-nari, membasuh mata yang lelah. Rasa bahagia tumbuh subur di dalam dada, mekar bertangkai-tangkai mengiringi deru perjalanan.
Satu setengah jam berlalu, kami tiba di sebuah gerbang kehangatan. Di sanalah Pak Trijoko Untung Wiratno, sang ayah yang telah menginjak usia 64 tahun, berdiri menyambut kami. Tak berselang lama, senyum tulus sang ibunda turut melengkapi pertemuan itu. Tangan mereka terbuka lebar, memeluk kedatangan kami dengan kehangatan yang menjalar hingga ke sanubari. Kami pun dipersilakan masuk, tenggelam dalam kenyamanan sebuah rumah yang penuh berkah.
Di ruang tamu itu, untaian kisah mulai mengalir dari bibir Pak Joko. Beliau adalah pelopor, sarjana pertama yang lahir dari rahim Desa Ketitang. Meski mewarisi tanah dan rumah dari ayahnya yang dahulu seorang lurah, Pak Joko bukanlah pencari kemudahan. Garis hidupnya pernah melanglang buana ke tanah Aceh hingga Pekanbaru sebagai punggawa Bank BUMN. Namun, sebuah prinsip suci membuatnya berani mengambil jalan sunyi: pensiun dini demi menjaga diri dari noda riba.

Di sela-sela petualangan hidupnya, Pak Joko menyelipkan kisah yang paling saya tunggu—rahasia seputar kebun kopinya. Kalimat demi kalimat beliau menjadi ruang kelas baru bagi saya yang bermimpi untuk memahami bahasa pohon kopi. Infor tentang bagaimana menanam dengan sabar, memetik dengan bijak, hingga meracik rasa yang memikat meluncur dengan deras. Siapa tahu, di masa depan, garis tangan saya juga akan menuntun saya menjadi seorang peladang kopi yang tangguh.
Pak Joko mengerti benar, melahirkan sebongkah rasa dari biji kopi bukanlah perkara mudah. Baginya, setiap butir hitam itu adalah taruhan keringat, waktu, dan tetesan materi yang tak sedikit. Namun uniknya, beliau tak pernah berniat menukar peluh itu dengan lembaran rupiah. Kopi-kopi yang telah rapi dalam dekapan kemasan itu ia layangkan begitu saja kepada siapa pun yang digerakkan hati nuraninya. Masya Allah. Dialah sang manusia merdeka—jiwa yang telah lepas dari belenggu nafsu duniawi dan jerat kebendaan. Ketika tekanan dunia telah menguap dari dadanya, yang tersisa hanyalah sebentuk pengabdian suci di hadapan Illahi.
Sebagai penutup perjumpaan yang indah, langkah kaki kami dituntun Pak Joko menuju hamparan kebun kopinya. Sambil memandang jajaran pohon yang menghijau, Pak Joko berbisik rendah, “Luasnya mungkin tak seberapa jika dibanding tegalan di Sumatra atau Sulawesi. Namun, untuk ukuran kampung ini, cukuplah kebun ini menjadi tempat bersyukur.” Sore itu, di Ketitang, kami tidak hanya membawa pulang cerita, tetapi juga sekeping kearifan yang tumbuh subur di sela-sela rimbunnya daun kopi.

Demi mengabadikan ketulusan dan kehangatan yang merengkuh kami, potret bersama pun tercipta di sela-sela rimbunnya jajaran pohon kopi. Kelak, setiap kali mata ini menatap selembar kenangan tersebut, bayang kebaikan Pak Joko takkan pernah pudar dari ingatan. Beliau akan selalu hidup dalam memori saya sebagai sang penyulut lentera, pembawa secercah cahaya kecerahan dari sudut sunyi Ketitang.
***
Rejodani, 10 Agustus 2026
Ana Nadhya Abrar





















































