Bepergian (bagian I)

Ibnu Batutah berasal dari Maroko. Dia pernah berkelana ke berbagai pelosok dunia pada abad pertengahan. Sepulang berkelana, dia berkata: bepergian akan mengubah dirimu dari orang yang tidak bisa berbicara menjadi orang yang banyak bercerita. Lewat pesan itu, Batutah menggelorakan semangat untuk bepergian. Untuk apa? Agar memperoleh cerita baru, gaya hidup anyar, dan lingkungan baru. Kita mulai tertarik bepergian. Imam Syafi’i merupakan pendiri Mazhab Syafi’i. Dia berasal dari Gaza dan wafat di Kairo Lama. Dia berpesan: bepergian mendatangkan lima manfaat, yakni: (i) mengobati kegelisahan, (ii) mendatangkan pekerjaan, (iii) memperoleh ilmu pengetahuan, (iv) melatih kesantunan dan, (v) menambah teman. Kita pun semakin tertarik bepergian. Namun, sebelum memutuskan untuk bepergian, simaklah firman Allah ini: Maka tidaklah mereka bepergian di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul), dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu memikirkannya?  (QS. Yusuf: 109). Kini bepergianlah (bersambung).

(01/12/2022)

Author: Ana Nadhya Abrar

Gagal menjadi jurnalis profesional, tapi berhasil meraih jabatan profesor jurnalisme. Itulah peruntungan hidup Prof. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., Ph.D. yang dikukuhkan sebagai guru besar Jurnalisme di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 10 Maret 2022. Di samping mengajar jurnalisme, dia juga rajin menulis. Selain ratusan artikel dan kolom untuk media massa, dia juga telah menulis dan menyunting puluhan buku. Penulisan biografi adalah spesialisasinya sebagaimana tergambar dari pidato pengukuhannya sebagai guru besar dengan judul “Menarik Garis Batas Jurnalisme dalam Penulisan Biografi”. -Hasril Caniago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *