Tanpa terbendung harga-harga makanan dan barang merangkak naik menyusul kenaikan harga BBM bersubsidi. Tibalah saatnya bagi kita untuk mengevaluasi strategi pengeluaran. Dari evaluasi itu, agaknya strategi yang perlu dipertimbangkan adalah berhemat. Berhemat bukan berarti pelit, bukan pula selalu hitung-hitungan mencari yang termurah. Namun, untuk memenuhi kebutuhan dan menghadapi kemungkinan terburuk di masa depan. Bagaimana caranya? Kita yakin betul terhadap rupiah yang kita belanjakan itu memang perlu. Maka diperlukan pencatatan pengeluaran. Dari catatan ini, kita bisa berimajinasi tentang cara belanja yang lebih cerdas. Misalnya: mengurangi belanja di convenience store dan mall, tidak malu membeli barang secondhand dan tidak makan di restoran. Kendati begitu, berbisnis dengan Allah perlu terus dilakukan. Yaitu bisnis yang sesuai dengan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kita Allah (Al Qur’an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan , mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi (QS. Fatir: 29).
Author: Ana Nadhya Abrar
Tolak Komunisme
Allah pernah berfirman: Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS. Al-Insyirah: 5). Ayat ini meyakinkan kita untuk selalu optimisme dalam menghadapi kehidupan. Makna ayat ini seolah tercermin dalam perjalanan sejarah bangsa kita. Setelah menderita lahir batin dijajah asing, bangsa kita merdeka. Kita senang. Menyusul terlalu lamanya orde lama berkuasa, kita kembali menderita. Muncul orde baru. Kita juga senang. Ternyata pada ujung orde baru kita menderita pula. Ia tumbang dan digantikan orde reformasi. Begitulah, bangsa kita memiliki sejarah kebangsaan yang sangat panjang. Catatan sejarah itu telah menggoreskan berbagai pengalaman yang sangat pahit dan menyakitkan. Wajar kalau kita menolak kehidupan kelam masa lalu itu. Satu penyebab penderitaan bangsa kita di masa lalu adalah komunisme. Penganut paham ini biasanya aktif di PKI. PKI pernah melakukan pemberontakan terhadap Indonesia sebanyak dua kali: 18 September 1948 di Madiun dan 30 September 1965 di Jakarta. Kedua pemberontakan itu melahirkan tragedi kemanusiaan yang besar. Tentu kita tak ingin bangsa ini mengalami tragedi kelam itu lagi. Maka kita harus menolak komunisme dan menolak pula kegiatan politik komunis.
(30/09/2022)
Website
Peningkatan literasi sains masyarakat (LSM) berguna untuk bersaing di tingkat global. Negara-negara maju terus bergerak maju untuk mencapai tingkat LSM yang mantap. Amerika Serikat mencanangkan tahun 2061 sebagai pencapaian tingkat LSM yang mantap. Sedangkan Republik Rakyat Tiongkok malah lebih awal, tahun 2049. Bagaimana Indonesia? Belum diperoleh informasi tentang target pencapaian tingkat LSM yang mantap. Namun, tidak berarti Indonesia diam-diam saja. Ia melakukan peningkatan LSM dari SD sampai PT dan menggunakan semua media. Kini, peningkatan LSM bisa dilakukan pula melalui website. Artinya masyarakat bisa memperoleh pengetahui tentang sains lewat website. Dalam konteks ini, tentu kita berharap pihak-pihak yang merasa memiliki pengetahuan tentang sains bisa mendokumentasikannya dalam sebuah website. Semakin banyak website tentang sains, semakin besar pula kesempatan masyarakat untuk peningkatan LSM-nya. Penulis sudah memulainya, yakni di https://abrarbirugo.id. Dengan membuat website, kita sebenarnya berusaha berbuat kebaikan. Kalau kita berbuat kebaikan dan bertakwa, Allah akan selalu menyertai, sebagaimana firman-Nya: Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. An-Nahl: 128).
(29/09/2022)
Eksistensi
Niklas Luhman pernah berkata: Seseorang tidak eksis kalau tidak berkomunikasi. Seorang individu hanya bisa eksis kalau berkomunikasi. Persoalannya lantas, bagaimana kalau seseorang diam saja tapi minta orang lain yang bicara atas namanya? Apakah dia sudah dianggap eksis? Atau dia malah dianggap mengganggu ketertiban? Ambil contoh: Lukas Enembe. Sejak KPK menetapkannya sebagai tersangka penerima gratifikasi oleh KPK, dia diam saja. Sampai 28/09/2022, dia belum bicara. Yang bicara adalah pengacara dan dokter pribadinya. Pembicarannya sudah melebar kemana-mana. Sampai ke pergantian Gubernur Papua oleh Paulus Waterpau, yang sekarang menjadi Penjabat Gubernur Papua Barat. Padahal dunia Enembe terguncang. Dia bisa kehilangan jabatannya. Eksistensinya dihadapkan pada kehampaan. Namun, dia tetap merdeka. Dia bebas memilih kemungkinan-kemungkinan. Salah satu kemungkinan itu adalah: menyadari keterbatasan eksistensinya sebagai hamba Allah. Dalam keadaan begini, kita sarankan Enembe untuk memperoleh kekuatan. Ini sesuai dengan firman Allah: Dan Tuhan berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina (QS. Ghafir: 60).
(28/09/2022)
Papua
Otonomi khusus (Otsus) Papua telah gagal. Demikian judul buku Socratez Sofyan Yoman yang terbit pada 2012. Dalam buku itu, terdokumentasi ide: “kesejahteraan bukan akar masalah Papua, melainkan status politik dan sejarah integrasi”. Sebelum itu, persisnya tahun 2006, muncul surat terbuka Amiruddin al Rahab kepada Gubernur Papua saat itu, Barnabas Suebu. “Selamatkan Otonomi Khusus Papua”. Rupanya harapan itu tak kunjung terwujud. Lihatlah pernyataan Menkopolhukam Mahfud MD pada 23 September 2022: “Negara turunkan uang sampai Rp 1000,7 triliun melalui dana Otsus. Rakyatnya miskin sejak ada Undang-undang Otsus. Sejak zaman Lukas Enembe itu Rp 500 triliun lebih, rakyatnya tetap miskin”. Lalu, apa yang harus dilakukan pemerintah? Nico Gere muncul dengan sebuah buku Merawat Kedaulatan Indonesia di Papua pada 2015. Agaknya buku ini bisa menjadi rujukan bersama pihak-pihak yang bertikai di Papua. Soal mempersatukan hati mereka, hanya Allah yang bisa, sebagaimana firman-Nya: Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah dapat menyatukan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al Anfal: 63).
(26/09/2022)
Prestasi
Tiada yang tahu perasaan seorang anak kecil mendengar pertanyaan: juara berapa waktu naik kelas kemarin? Dia tidak pernah membayangkan akan mendapat pertanyaan ini. Namun, dia menjawab juga: juara lima. Setelah itu, dia berpikir, mengapa orang lain peduli pada dirinya? Agaknya makna terpenting pertanyaan itu adalah mendorong sang anak agar berprestasi. Soalnya, prestasi yang luar biasa bisa menjadi kunci kekayaan. Lalu, dari mana datangnya prestasi? Jawabannya tegas: gairah. Gairah yang memerintahkan kita bekerja. Gairah juga yang medorong kita berani mengambil risiko. Maka pertanyaannya lantas: bagaimana menemukan gairah itu? Dari cinta. Cinta pada profesi atau pekerjaan bisa menimbulkan gairah. Namun, mencintai pekerjaan tidak langsung membuat hidupnya jadi tenang. Ada satu unsur lagi yang menjamin hidup jadi tenang. Menjadikan Allah sebagai tujuan hidup, sebagaimana firman-Nya: Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah (QS. Al-An’am: 163).
(24/09/2022)
Enembe
Ketika Lukas Enembe menjadi Bupati Puncak Jaya selama dua periode (2001-2012), kondisi finansialnya tentu meningkat. Dia bisa hidup lebih nyaman. Ketika Enembe terpilih sebagai Gubernur Papua juga dua kali (2013 dan 2018), dia tak terkendala soal finasial. Dia bisa menyiapkan investasi untuk kehidupan di masa tua. Rasa percaya dirinya makin tinggi. Namun, memasuki tahun keempat periode kedua sebagai Gubernur Papua, Enembe terlilit masalah. Dia didakwa KPK mengorupsi uang sebanyak Rp 560 milyar. KPK tentu sudah mengkalkulasikan ini dengan benar. Pada awalnya pengacara Enembe tidak percaya dengan dakwaan itu. Masyarakat Papua pun tak rela KPK memeriksa Enembe. Namun, kini KPK konon bisa memeriksa Enembe. Tapi, di Papua. Kita pun menunggu hasilnya. Sembari menunggu, kita perlu mempertahankan kesadaran: uang bukan segala-galanya. Ia hanya sarana untuk mencapai kebahagiaan. Harta yang kita kuasasi kini hanya titipan Allah. Simaklah firman Allah berikut: Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah, dipusakakannya kepada hambaNya yang dikehendakiNya (QS. Al A’raf: 128).
(23/09/2022)
Logika
Masih ingatkah Anda dengan buku “Alam Pikiran Yunani”? Buku itu merupakan mahar pernikahan Bung Hatta dan istrinya, Siti Rahmiati. Strukturnya: jenis filsafat, lalu nama filusufnya. Maka tersebutlah nama-nama Thales, Xenophanes, Phytagoras, Sokrates, Plato, Aristoteles, hingga Plotinos. Pada bagian akhir buku itu Bung Hatta menulis, semua filusuf Yunani itu lari dari Roma karena Kaisar Jutinianus menutup semua sekolah filsafat Yunani. “Demikianlah berakhir dengan kehilangan nama “suatu kerajaan pikiran yang seribu tahun lebih usianya,” tambah Bung Hatta. Kerajaan pikiran itu boleh saja hilang. Tetapi, pikirannya sudah mengembara kemana-mana, termasuk ke Indonesia. Rakyat Indonesia sudah mempraktikkan berbagai jenis filsafat Yunani itu, termasuk filsafat klasik. Yakni logika, hukum berpikir secara teratur. Namun, sekarang praktik logika ini tidak selalu jernih. Lihatlah, Allah yang menciptakan manusia. Tentu Dia sudah siap dengan rezeki untuk hamba-Nya. Ini ditegaskan Allah lewat firman-Nya: Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki (QS. Al-Rum: 40). Lalu mengapa masih saja orang yang berkeluh-kesah soal rezeki?
(16/09/2022)
Respek
Rasanya kita tidak pernah mengenal nama itu dalam pergaulan sosial kita. Mendadak sontak dia jadi terkenal dan menjadi pembicaraan banyak orang. Kita terkesima. Sepertinya kita tidak pernah melihat tetangga itu berceramah di lingkungan kita sendiri. Tiba-tiba dia menjadi penceramah kondang di seantero nusantara. Kita pun kaget. Itulah yang terjadi di era masyarakat informasi. Berkat penguasaan informasi, seorang manusia bisa menjadi terkenal dan diundang berceramah. Maka masyarakat informasi bisa meciptakan perubahan masyarakat secara spektakuler. Berkat perubahan itu, ada yang mengaku tidak butuh guru lagi. Soalnya, dia bisa memperoleh pengetahuan apa saja melalui media sosial, media interaktif, dan media online. Namun, dia tetap saja harus respek pada guru dan manusia lain. Soalnya, respek pada orang lain merupakan salah satu unsur dari humanisme. Orang yang tidak respek pada orang sebenarnya sedang mengalami proses dehumanisasi. Kecuali itu, respek pada orang lain juga untuk memelihara amanah Allah. Soalnya, Allah pernah berfirman: Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. At-Tin: 4).
(15/09/2022)
Rumah
Kita hanya bisa tidur kalau mata sudah mengantuk. Tempatnya tidak jadi soal. Di ruang kerja di kantor pun bisa tidur. Tidak perlu rumah mewah. Kalau mata belum mengantuk, di istana pun kita tak bisa tidur. Persoalannya, rumah bukan hanya tempat untuk tidur. Ia bisa pula mendatangkan kenyamanan, kehangatan, dan kebahagiaan. Ia bisa juga menjadi tempat memanjakan diri sendiri. Ia, bahkan, bisa menjadi tempat berkumpul, bercengkerama dan berkeluh-kesah seluruh anggota keluarga. Maka tidak mudah membangun dan mencari sebuah rumah yang ideal untuk ditempati. Salah satu ciri rumah yang ideal adalah rumah yang berkah. Untuk memperoleh keberkahan itu, Allah menyuruh kita berdoa: Dan Berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberkati (QS. Al Mukminun: 29). Kecuali itu, Rasulullah saw pernah bersabda: Janganlah kalian menjadikan rumah -rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan menjauh dari rumah yang dibacakan surah Al Baqarah (HR. Muslim).
(13/09/2022)