Taufiq

Pernahkah Anda membaca penggalan puisi berikut:

Kemudian berhanyutanlah nilai-nilai luhur luar biasa tingginya/Nilai keimanan, kejujuran, rasa malu, kerja keras, tenggang rasa, pengorbanan/Tanggung jawab, ketertiban, pengendalian diri/remuk berkeping-keping/Akhlak bangsa remuk berkeping-keping/Dari barat sampai ke timur/Berjajar dusta-dusta itulah kini Indonesia/Sogok menyogok menjadi satu/Itulah tanah air kita Indonesia.

Itulah bagian puisi berjudul “Kami Muak dan Bosan” karya Taufiq Ismail. Ia bukan hanya cetusan perasaan Taufiq, tapi juga mengandung ajakan untuk menegakkan kembali nilai-nilai luhur di atas. Agaknya kita perlu menyambut ajakan itu. Paling tidak agar tidak memperparah kondisi Indonesia. Kalau Anda punya solusi untuk keluar dari masalah, itu akan lebih baik lagi. Namun, sebelum melaksanakannya berdiamlah sejenak, minta bimbingan Allah, sebagaimana yang diperintahkan Allah: Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu. (QS. Al Qashash: 21). Soalnya, Anda berhadapan dengan jalan yang sangat terjal.

(11/09/2022)

Medsos

Seorang mahasiswa bertanya tentang apa yang harus dilakukan agar generasi milenial (gemi) bisa memperoleh pendidikan kewarganegaraan melalui media sosial (medsos)? Ini menyiratkan: gemi tidak bisa lepas dari medsos dan masih membutuhkan pendidikan kewarganegaraan. Untuk apa? Untuk membentuk warga negara yang cerdas, demokratis dan berakhlak mulia demi mencapai cita-cita demokrasi. Kalau tujuan ini tercapai, mereka berkarakter positif dan bisa bertanggung jawab terhadap negara. Pertanyaan ini membuat kita lega. Gemi tidak mau dibohongi oleh medsos. Sikap ini bukan mustahil muncul dari pengalaman Filipina. Di sana, geminya dibohongi oleh medsos yang melakukan propaganda untuk memenangkan Ferdinand Marcos Jr (Bongbong). Medsos digunakan untuk mengubah citra keluarga besar Bongbong. Tidak jarang medsos memanipulasi sejarah keluarga besar Bongbong. Namun, kelegaan itu berujung kekhawatiran. Kita khawatir tidak ada pihak yang bersedia menciptakan berbagai kursus pendek yang menarik tentang pendidikan kewarganegaraan di youtube, misalnya. Maka marilah kita berdoa: Ya Allah, jangan Kau biarkan kami mengurus urusan kami sendiri tanpa pertolongan-Mu walaupun hanya sesaat.

(08/09/2022).

Alam

Siapa sih yang tidak merindukan pemandangan alam yang menyejukkan mata? Siapa pula yang tidak merindukan pemandangan permukaan danau bagai cermin biru memantulkan gumpalan kapas putih? Siapa juga yang tidak merindukan pemandangan awan berarak di sekitar gunung ibarat lukisan nan indah? Demi memuaskan kerinduan itu, kita rela membelanjakan uang untuk berwisata alam. Setelah berhasil memuaskan kerinduan, lalu apa? Semangat bergelora. Rasa bahagia tiba. Kita pun siap berkarya.  Bagaimana dengan objek wisata alam yang ditinggalkan? Akan tetap sebagai objek. Ia bisa tetap, bisa pula berubah. Idealnya ia tetap, sehingga bisa dinikmati oleh generasi berikutnya persis sama dengan yang kita nikmati. Apalagi Allah pernah berfirman: Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan (QS. Al Qashash: 36). Namun, tidak sedikit objek itu beralih fungsi dan rusak. Kasihan generasi berikutnya.

(07/09/2022)

Metaverse

Semuanya seperti menjadi rutin saja. Kita mencari informasi lewat mesin. Memasukkan kata kunci, lalu muncul apa yang kita cari. Kita menggunakan sebuah aplikasi lewat gadget, kemudian urusan kita beres. Yang rutin itu tampaknya seperti kejadian biasa saja. Namun, ketika muncul buku Matinya Kepakaran karya Tom Echols tahun 2018, barulah kita kaget. Ternyata ada akibat buruk dari yang kita anggap biasa itu. Orang yang terbiasa mengandalkan mesin pencari informasi berbasis internet itu sok tahu. Mereka tidak memiliki argumen berdasarkan prinsip dan data. Anehnya, mereka merasa bisa mengalahkan para ahli.  Mereka menafikan peran guru. Ini mendurhakai Allah. Soalnya, Allah pernah berfirman: Bertanyalah kepada orang yang punya pengetahuan, kalau kamu tidak tahu (QS. An Nahl: 43). Kini muncul metaverse, internet yang ditingkatkan. Ia memungkinkan kita keluyuran secara virtual:  menonton konser virtual dan melihat karya seni digital. Ia bisa menciptakan kemampuan berteleportasi dari satu pengalaman ke pengalaman lainnya. Luar biasa. Kita diuji dengan berlimpahnya nikmat teknologi.

(06/09/2022)

Kenaikan Harga BBM

Pemerintah mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada 3 September 2022. Itu fakta. Pemerintah juga menyampaikan alasannya: agar subsidi BBM dinikmati oleh mereka yang berhak. Cukup fair. Apakah tidak ada alasan lain? Entahlah! Yang jelas, mereka yang tidak puas tentu akan mencari tahu alasan yang sebenarnya. Pencarian itu bisa dilakukan lewat mesin pencari informasi. Menggunakan berbagai platform dan berbagai aplikasi. Kalau kelak terbukti ada alasan lain, mereka akan mengatakan: pemerintah tidak mengungkapkan alasan kenaikan BBM besubsidi secara lengkap. Ini akan mengurangi kredibilitas pemerintah di mata mereka. Maka kenaikan harga BBM bersubsidi mempertaruhkan kredibilitas pemerintah. Bukan mustahil ia juga mempertaruhkan masa depan pemerintah. Bagaimana kehidupan masyarakat pasca kenaikan harga BBM bersubsidi? Memang kehidupan mereka akan makin sulit. Namun, Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya sendirian, sebagaimana firman-Nya: Dan Dia selalu bersama kalian, di mana saja kalian berada (QS. Al Hadid: 4).

(04/09/2022)

Sertifikat

Kami tidak bisa memberi souvenir yang bisa dijadikan kenangan. Bapak terima saja sertifikat ini, katanya sembari mengangsurkan sertifikat yang sudah berpigura itu. Saya menerimanya dengan senyum terbuka sembari mengucapkan terima kasih. Memang sertifikat itu secarik kertas. Tidak bisa diuangkan (kalau seripikat tanah bisa “disekolahkan” untuk memperoleh uang). Tapi, ia bukan kertas biasa. Ia disiapkan jauh hari secara serius. Sebagai hasil pemaknaan IAIN Madura terhadap diri saya. Pemaknaan itu terhubung dengan hasil pembelajaran dan pengalaman saya. Maka sertifikat itu merupakan bagian dari nilai dan keberhargaan diri saya. Namun, keberhargaan itu tidak datang berkat usaha saya sendiri saja. Ia muncul juga karena ridha Allah dan pertolongan manusia. Jangan heran kalau saya harus peduli terhadap sesama manusia. Ini merupakan perintah Allah: Dan tolong-menolong lah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. (QS. Al Maidah: 2). Tolong-menolong ini merupakan bentuk konkret kepedulian.

(03/09/2022)

A&A

Dari puncak bukit di pulau Padar ini, terlihat tiga pantai yang dikawal oleh bukit-bukit cadas. Di kejauhan menghampar  pula laut luas yang juga dikawal bukit. Aroma keindahan menyeruak ke relung hati yang menyaksikannya. Ke sinilah Ahnaf dan Alif (putra ketiga dan keempat saya) mampir, dalam perjalanan dari Labuan Lombok ke Labuan Bajo akhir April 2017. Lima tahun kemudian, mereka diminta oleh guru masing-masing menceritakan perjalanan ke sana. Mereka menuliskannya. Lucunya, yang mereka ceritakan adalah refleksi terhadap apa yang mereka saksikan. Mereka tidak hanya mendeskripiskan keindahan alam, tetapi juga mengajak pembaca untuk mengenal pencipta keindahan itu: Allah Swt. Mereka seolah-olah mempraktikkan firman Allah: Tidakkah kamu pikirkan bagaimana Allah meninggikan langit (QS. Al Ghasiyyah: 18). Saya bertanya, dari mana kalian dapat ide itu? Dari Ayah, jawab mereka serempak. Saya memang pernah memprovokasi mereka agar sering bepergian. Agar bisa berbagi cerita kepada orang lain dengan cara kalian sedniri. Untuk apa, kata Ahnaf? Agar kalian merasa berharga atas kehadiran di dunia ini, jawab saya.

(01/09/2022)

Hamedi

Assalamualaikum,wr.wb Bapak Prof Abrar, saya mahu mencalonkan bapak sebagai external examiner tesis student Ph.D saya yang membuat penelitian berjudul “The Semiotic and Cognitivist Analysis of Three Indonesian Horror Movies”. Demikian chat Prof Hamedi yang saya terima pada 26/08/2022. Kalau pencalonan saya diterima University of Malaya (UM), Kuala Lumpur (KL), Malaysia, saya akan mendapat kebaikan dari Prof Hamedi: pengetahuan bertambah, dapat uang, dan bisa keluyuran ke KL. Kebaikan ini menambah kebaikan dia sebelumnya: menampung saya menginap di rumahnya ketika pertama datang di KL, membimbing saya menulis disertasi di UM dengan sepenuh hati, dan meminjamkan mobil barunya untuk pengurusan wisuda. Mengapa dia sangat baik hati? Satu jawaban yang pasti, hatinya bersih. Ini terkonfirmasi lewat firman Allah: Apabila dalam dirinya terdapat hati yang bersih, maka akan lahir di sana akhlak yang terpuji. Sebaliknya, bila dalam diri seseorang tersimpan hati yang kotor, maka akan lahir di sana akhlak yang bejat.” (QS. Al Hajj: 46).

(31/08/2022)

Jokowi

Saat Panembahan Al Saud Nasution (PASN) lahir, Presiden Jokowi ikut menyaksikan. Ini terlihat dari pernyataan Kahiyang, anaknya: Bapak, Ibu mendampingi, beserta mama mertua. Maka bisa dibayangkan betapa sayangnya Presiden Jokowi kepada Kahiyang. Dia lupakan semua urusan kenegaraan demi membesarkan hati Kahiyang ketika melahirkan. Dia ikut harap-harap cemas menantikan kelahiran PASN. Dia berbahagia saat menyadari PASN lahir selamat dan sehat. Kita tentu saja ikut senang dengan kebahagiaan Presiden Jokowi. Apakah kita juga ikut senang dengan implementasi kebijakan publik pemerintahan Presiden Jokowi selama ini? Kalau implementasi itu menguntungkan rakyat, tentu kita senang. Presiden Jokowi sudah menolong rakyatnya. Itu akan mengundang pertolongan Allah. Ini ditegaskan oleh Rasulullah saw: Allah akan selalu menolong hambaNya yang menolong saudaranya sendiri (HR Muslim). Kalau hanya menguntungkan segelintir orang, implemetasi kebijakan itu diskriminatif. Bukan mustahil malah menzalimi orang banyak.

(30/08/2022)

Sambo

Cerita tentang Ferdy Sambo belum berakhir. Dia melakukan banding terhadap keputusan Majelis Kode Etik Profesi Polisi (KEPP). Kelak dia harus menerima hasil bandingnya. Soalnya, keputusan Majelis KEPP bersifat final dan mengikat. Apakah keputusan Majelis KEPP kelak akan mengakahiri seluruh cerita Sambo? Tidak. Semua cerita tentang hidup dunia Sambo baru akan berakhir setelah dia wafat. Lalu, apa gunanya bagi kita cerita tentang Sambo? Cerita itu merupakan palajaran berharga bagi orang-orang yang cerdas. Ini sesuai dengan firman Allah, Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (QS. Yusuf: 111). Wajar bila kita suka menyimak cerita tentang orang lain. Namun, ada yang lebih penting dari itu, yakni: membuat cerita tentang diri kita sendiri. Kita perlu menentukan cerita kita sendiri. Dalam cerita itu, kita harus meyakinkan, akan mendapatkan akhir yang menggembirakan.

(27/08/2022).