Kolektor

Ketika mengetahui ada seseorang yang mengoleksi barang berharga seperti mobil Mercedes-Benz, rasa ingin tahu kita berkembang. Tanpa sadar muncul pertanyaan: mengapa dia mengoleksinya? Berbagai jawaban bisa diberikan, yakni ingin: (i) memperoleh kepuasan emosional, (ii) tetap terhubung dengan masa kecil, (iii) memperoleh pembelajaran, (iv) mendokumentasikan sejarah, (v) mendatangkan kepuasan sosial, (vi) melakukan investasi, (vii) berinteraksi dengan sesama kolektor, (viii) mendapatkan sensasi. Semua jawaban ini sah. Namun, semua keinginan itu belum bermanfaat buat banyak orang. Padahal Rasulullah pernah bersabda: sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat (menebar kebaikan) kepada seluruh manusia (HR. Muslim). Maka akan lebih bermanfaat, bila koleksi buku sebuah perpustakaan pribadi yang tidak digunakan lagi (karena pemiliknya meninggal) dihibahkan ke perpustakaan sekolah. Akan lebih bermanfaat pula bila tempat koleksi mobil Mercedes-Benz (setelah pemiliknya meninggal) dijadikan lokasi tur anak-anak sekolah.

(23/08/2022)   

Karomani

Karomani (Aom) sudah mencapai puncak karir sebagai dosen. Tahun 2015 dia menjadi profesor ilmu komunikasi. Tahun 2020 dia menjadi Rektor Unila. Ribuan orang berdecak kagum. Ratusan orang mengucapkan tahniah. Namun, pada 20 Agustus 2022 dini hari, dia terjaring operasi tangkap tangan KPK. Berbarengan dengan itu KPK menyita bukti uang sekitar Rp 2 Milyar. Bagaimana kini sikap mereka yang dulu menyanjung Aom? Ada yg bilang, almamaternya kena getahnya; biarkan proses peradilan berjalan; dia tidak amanah; dia harus tanggung risikonya; dan kasian kawan ini. Semua respon itu masuk akal. Namun, ada sikap yang mulia: meraih tangan Aom ke atas agar dia segera bangkit. Caranya? Menyadarkannya agar tidak mengeluh, tidak bersedih, segera bertobat dan mengadukan kesusahannya kepada Allah. Yang terakhir ini merupakan perintah Allah. Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahanku (QS Yusuf: 86)

(21/08/2022).

Tiga Malam Menuju Rinca

Gunung Rinjani yang tertutup awan tebal melepas perjalanan kami meninggalkan Pelabuhan Labuhan, Lombok, pada suatu siang di bulan April.

Tulisan ini telah dimuat di Koran Tempo Edisi Akhir Pekan Tanggal 3-4 Juni 2017 dan dapat diakses pada link berikut