Beutong Ateuh (bagian I)

Informasi tentang Beutong Ateuh yang sampai ke tangan penulis membuat gentar. Simaklah: untuk sampai ke sana, medannya bukan alang kepalang. Harimau atau kawanan gajah bisa tiba-tiba menghadang jalan setapak. Info lain: Tanggal 23 Juli 1999, di Beutong Ateuh, terjadi salah satu peristiwa paling mengerikan dan juga merupakan satu dari sekian banyak pembantaian selama operasi militer yang dilaksanakan di Aceh, yakni Peristiwa Beutong Ateuh atau juga dikenal sebagai Peristiwa Tengku Bantaqiah. Info yang lebih baru: Secara umum kalau sore sepi. Pelintas jalan minim. Kecuali kalau sudah masuk daerah Beutong Nagan Raya. Selama di gunung, sepi pemukimannya. Menyadari kenyataan ini muncul pertanyaan, perlukah perjalanan diteruskan ke Meulaboh dari Takengon via Beutong Ateuh? Soalnya penulis dkk berangkat sore hari. Pada titik ini kami berhitung. Menggunakan akal, membuat neraca untung rugi. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw: Kemuliaan seorang laki-laki pada agamanya, kehormatannya pada akalnya, dan kesempurnaannya pada akhlaknya (Quraish Shihab, 2019).

(20/10/2022) -bersambung

Di Balik Danau Laut Tawar

Inilah Danau Laut Tawar. Terhampar di Dataran Tinggi Gayo. Luasnya konon 5.472 hektar. Ia menjadi tempat wisata bagi orang Aceh. Di sisi baratnya terdapat Takengon, ibu kota Aceh Tengah. Sebagian besar penduduknya merupakan suku Gayo, yang dikenal sebagai pedagang. Pemandangan ke arah danau sangat indah. Sekalipun didera panas terik, memandang ke tengah danau selalu menyenangkan. Udaranya selalu sejuk. Maka kenikmatan yang dirasakan menyusup lewat mata masuk ke dalam hati. Kebahagiaan pun datang menjelma. Namun, Danau Laut Tawar tidak terjadi dengan sendirinya. Allah yang berkehendak Danau Laut Tawar ada. Ini sesuai dengan firman-Nya: Sesungguhnya di langit dan di bumi ada bukti-bukti (kekuasaan Tuhan), bagi orang-orang yang beriman (QS. Al Jasiyah: 3). Inilah yang ada di balik Danau Laut Tawar itu. Ini pula yang perlu dibaca dan ditadaburi. Agar kita tetap menyembah-Nya. Kalau sudah begini, kita akan terpelihara dari kejahatan, sebagaimana firman-Nya: Hai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, supaya kamu terpelihara dari kejahatan (QS. Al Baqarah: 21).

(19/10/2022)

Hidup Bijaksana

Pemandangan indah ini terhampar menjelang Anda memasuki Takengon dari Gunung Salak. Danau Laut Tawar terbentang luas dikelilingi oleh bukit-bukit yang menjulang ke langit. Di tepi danau terdapatTakengon yang dipenuhi oleh rumah-rumah penduduk dan pepohonan nan hijau.  Namun, bukit di latar depan sebelah kiri sudah mulai gundul. Ia mengurangi keindahan pemandangan. Di tengah-tengah segala perjuangan melestarikan fungsi lingkungan hidup, ada saja perbuatan yang merusak alam. Perbuatan ini bisa membuat orang kehilangan gairah menikmati alam. Agaknya  dari sinilah kita perlu menghimbau agar pengusaha hidup lebih bijaksana. Mengobarkan semangat mereka untuk hidup berdampingan dengan alam secara damai. Memang Allah menyiapkan semua kebutuhan manusia. Simaklah firman-Nya: Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, Maka mengapa kamu masih berpaling? (QS. Al An’am: 95). Namun, tidak berarti kita boleh sesuka hati mengeksploitasi alam. Dengan segala keterbatasan, kita perlu mencanangkan hidup lebih akrab dengan alam. Agar segala bentuk kerakusan terhadap pemanfaatan alam segera terkikis.

(18/10/2022)

Menjadi Penikmat Alam Sejati

Kalau Anda berkendaraan dari Lhokseumawe ke Takengon melalui Gunung Salak, Anda akan melihat pemandangan alam di atas. Dari pinggir jalan km 27, terlihat Gunung Salak di kejauhan. Gunungnya terlihat membiru. Sedangkan hutan dan semak di bawahnya kelihatan menghijau. Semuanya menciptakan suasana yang menyenangkan. Begitu memesona. Membuat hati dan pikiran terasa tenang. Kondisi inilah yang dirindukan oleh penikmat alam sejati. Lalu untuk apa? Untuk meyakinkan dirinya, alam ciptaan Allah itu memang indah. Sebuah firman Allah tentang keindahan alam berbunyi: Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia (yang terdekat) dengan hiasan (berupa) bintang-bintang (QS, As Saffat: 6). Firman-Nya yang lain: …………lalu Kami menumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah (yang) kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) (QS, An Naml: 60). Kesadaran memeluk penikmati alam sejati: betapa dekatnya dia dengan Allah. Dia tidak ingin merusak alam. Tanpa sadar dia ingin berpartisipasi untuk memelihara keindahan alam.

(17/10/2022)

Mendayagunakan Kemampuan Otak

Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan (QS. Ali ‘Imran: 109). Maka kita tak perlu menggerutu kalau kehilangan harta. Kita tak perlu menyesal telah mengalami musibah. Kita bahkan tak perlu putus asa dengan bencana alam yang menelan ribuan korban jiwa. Semua itu sudah pulang kepada pemiliknya yang sah. Kita pun suatu saat kelak akan kembali ke haribaan-Nya. Namun, kita perlu mengambil hikmah dari semua ketidaknyamanan itu.  Untuk apa? Mendidik diri agar tidak sombong. Kalau dibandingkan dengan Arasy Allah, bumi yang kita tempati ini konon hanya sebesar biji pasir. Lalu, apa sebenarnya pegangan kita dalam menjalani kehidupan ini? Utamanya, mendayagunakan kemampuan otak. Soalnya, otak bisa: (i) menyimpan informasi hampir tidak terbatas, (ii) mentransfer informasi dengan kecepatan 431 km per jam, (iii) memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, (iv) menilai seseorang secara akurat hanya dalam 0,1 detik, dan (v) menggambarkan secara kasar keadaan di sekitar kita.

(16/10/2022)

Track Record

Partai Nasdem mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden (Capres) 2024 pada 3 Oktober 2022. Tidak lama kemudian, PSI mencalonkan Ganjar Pranowo sebagai Capres 2024. Lepas dari perbedaan cara dan gaya pen-capres-an kedua tokoh itu, kita sudah punya dua Capres 2024. Keduanya merupakan alumni UGM dan sama-sama pernah menjadi gubernur: Anies di DKI Jakarta dan Ganjar di Jawa Tengah. Namun, keduanya punya track record yang berbeda. Perbedaan ini agaknya bisa menjadi dasar bagi kita untuk memilih salah satu dari mereka kelak. Track record Ganjar bisa ditelusuri antara lain lewat buku Rembang Melawan: Membongkar Fantasi Pertambangan Semen di Pegunungan Kendeng (2015) dan Kontroversi Ginanjar (2016). Track record Anies bisa diperoleh antara lain lewat buku Tak Tumbang Dicerca, Tak Terbang Dipuja (2021) Anies Baswedan: Gagasan, Narasi, dan Karya (2022). Dari penelusuran track record itu, paling tidak kita bisa membayangkan siapa yang adil di antara keduanya. Menjadi pemimpin yang adil merupakan amanah Allah, sebagaimana firman-Nya: Wahai Daud, Kami telah menjadikan kamu khalifah di bumi, maka berilah putusan antara manusia dengan hak (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu (QS. Shad: 22).

(09/10/2022)

Cemas

Sebuah berita di Detikcom, 03/10/2022-17.50:  Ketua PSSI Mochamad Iriawan atau Iwan Bule mendapat desakan mundur buntut tragedi Kanjuruhan. Iwan Bule tak ambil pusing. Dia mengaku tak mempermasalahkan adanya desakan tersebut. “Ooo… apa namanya, desakan ya, biar semua orang bisa bicara apa saja ya,” kata Iwan Bule lalu tersenyum saat ditanya di Mapolres Malang. Dia akan fokus dalam penanganan korban Tragedi Kanjuruhan. Apa respon kita? Cemas. Iwan melanggar etiket, tidak sopan. Dia senyum di tengah suasana duka. Iwan tidak etis. Dia tidak tidak peduli dengan desakan mundur. Tapi, dia masih bermoral. Dia menangani korban Tragedi Kanjuruhan. Kalau dia ingin disebut etis, usai menangani korban Tragedi Kanjuruhan, dia mundur sebagai Ketua Umum PSSI. Mungkinkah itu terjadi? Entahlah! Kita tidak tahu apa yang ada dalam hati Iwan. Kalau hatinya sakit, kita semakin cemas. Dia dalam bahaya. Simaklah firman Allah ini: Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta (QS. Al Baqarah: 10).

(04/10/2022)

Melindungi dan Melayani itu Dipraktikkan

Polisi Los Angeles, AS, punya motto keren: to Protect and to Serve. Melindungi dan Melayani. Motto ini sangat populer di kalangan warga dunia berkat film serial tv LAPD. Motto ini ternyata diadopsi juga oleh Polri. Lihatlah makna pertama Brata III Polri: Menggambarkan tugas Polri secara universal yaitu   melindungi dan melayani masyarakat (to protect and to serve) (kalsel.polri.go.id). Masyarakat bahkan menjadi pusat pengabdian Polri (makna ketiga Brata III Polri). Pertanyaannya lantas, sudahkah Polri mempraktikkannya? Pertanyaan ini terasa logis mengingat korban jiwa tragedi Kanjuruhan hingga 02/10/2022-10.30 mencapai 174 orang, 11 orang luka berat, dan 298 orang lainnya luka ringan (detik.com, 02/10/22-14.41). Kalau Polri memang sungguh-sungguh melindungi dan melayani penonton pertandingan bola antara Persebaya dan Arema tentu jumlah korbannya tidak akan sebanyak itu. Mungkin penulis berlebihan. Namun, yang ingin diingatkan di sini, motto melindungi dan melayani itu bukan hanya untuk membentuk citra Polri, tetapi untuk dipraktikkan dengan penuh kesabaran. Kalau sudah begini, pada akhirnya hasilnya akan terasa manis, sebagaimana firman Allah: Sabar selalu pahit awalnya, tapi manis pada akhirnya (QS. Ali Imran: 186).

(03/10/2022)

Tak Punya Sensitivitas Nilai Suporter

Berikut ini berita yang disiarkan detik.com, 2 Oktober 2022-9:24: Sebanyak 130 orang meninggal dunia dan 20 orang kritis. Siapa mereka? Penonton pertandingan bola Persebaya lawan Arema.  Mengapa meninggal? Diawali oleh serbuan suporter Arema ke lapangan di Stadion Kanjuruhan. Polisi kewalahan dan melepaskan gas air mata ke lepangan dan tribun. Setelah itu korban berjatuhan: suporter panik, berlarian dan terinjak-injak. Mengapa polisi harus melepaskan gas air mata? Bukankah FIFA sudah melarangnya? Konon penonton sudah anarkhis, menyerang petugas dan merusak mobil. Kalau polisi punya sensitivitas terhadap nilai suporter, tentu mereka tidak akan melepaskan gas air mata kepada pentonton. Nilai suporter jauh lebih mahal ketimbang harga mobil dan fasilitas stadion yang dirusak. Suporter itu masih muda. Mereka punya potensi besar untuk berkembang. Bukan mustahil ada di antara mereka yang bisa jadi pemimpin bangsa ini. Kalaupun mereka melampiaskan kekesalannya karena kesebelasan idolanya kalah, mustahil mereka mengajak polisi perang. Islam membolehkan perang, tapi terhadap orang yang menganiaya, sebagaimana firman Allah: Telah diizinkan (berperang) bagi siapa yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu (QS. Al Hajj: 39).

(02/10/2022)

Society 5.0

Pemerintah sudah mengadopsi society 5.0 dalam rencana strategisnya. Apakah masyarakat awam paham dengan istilah society 5.0? Seperti biasa, pemerintah beranggapan kelak masyarakat akan mengerti sendiri. Pemerintah merasa tak perlu mengajari masyarakat konsep yang terkandung dalam istilah society 5.0. Yang penting baginya, Indonesia tidak ketinggalan dibandingkan negara lain. Indonsia pun merasa pantas jadi anggota negara G-20. Tahun 2022 Indonesia bahkan menjadi presidensi negara G-20. Tekad untuk tidak pernah ketinggalan tentu saja baik. Namun, tekad itu harus diikuti oleh pembelajaran dan penghayatan yang benar tentang society 5.0. Persoalannya, apakah pemerintah paham betul society 5.0 merupakan penyempurnaan dari industri 4.0? Kalau paham, kenapa Indonesia tidak meniru negara yang melahirkan society 5.0, Jepang, yang menggunakan society 5.0 sebagai pendekatan yang lebih terfokus pada manusia (human centered society)? Kenapa Indonesia tidak menjadikan society 5.0 untuk menjaga peradaban dan keberadaban manusia? Untuk keluar dari kemelut ini, tentu saja pemerintah harus bekerja keras. Kalau niat pemerintah tulus, tentu Allah akan membantu, sebagaimana firman-Nya: Dan Dia selalu bersama kalian, dimana saja kalian berada (QS. Al Hadid: 4).