Menjadi Penikmat Alam Sejati

Kalau Anda berkendaraan dari Lhokseumawe ke Takengon melalui Gunung Salak, Anda akan melihat pemandangan alam di atas. Dari pinggir jalan km 27, terlihat Gunung Salak di kejauhan. Gunungnya terlihat membiru. Sedangkan hutan dan semak di bawahnya kelihatan menghijau. Semuanya menciptakan suasana yang menyenangkan. Begitu memesona. Membuat hati dan pikiran terasa tenang. Kondisi inilah yang dirindukan oleh penikmat alam sejati. Lalu untuk apa? Untuk meyakinkan dirinya, alam ciptaan Allah itu memang indah. Sebuah firman Allah tentang keindahan alam berbunyi: Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia (yang terdekat) dengan hiasan (berupa) bintang-bintang (QS, As Saffat: 6). Firman-Nya yang lain: …………lalu Kami menumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah (yang) kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) (QS, An Naml: 60). Kesadaran memeluk penikmati alam sejati: betapa dekatnya dia dengan Allah. Dia tidak ingin merusak alam. Tanpa sadar dia ingin berpartisipasi untuk memelihara keindahan alam.

(17/10/2022)

Author: Ana Nadhya Abrar

Gagal menjadi jurnalis profesional, tapi berhasil meraih jabatan profesor jurnalisme. Itulah peruntungan hidup Prof. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., Ph.D. yang dikukuhkan sebagai guru besar Jurnalisme di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 10 Maret 2022. Di samping mengajar jurnalisme, dia juga rajin menulis. Selain ratusan artikel dan kolom untuk media massa, dia juga telah menulis dan menyunting puluhan buku. Penulisan biografi adalah spesialisasinya sebagaimana tergambar dari pidato pengukuhannya sebagai guru besar dengan judul “Menarik Garis Batas Jurnalisme dalam Penulisan Biografi”. -Hasril Caniago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *