Kecerdasan (bagian III)

Orang cerdas selalu mempraktikkan kecerdasannya. Dia berusaha menemukan apa yang dia cari. Dia menjadikan tujuan hidup di atas segala-galanya. Kekayaan dan fasilitas hidup merupakan sarana untuk mencapai tujuan hidup. Maka dia merumuskan tujuan hidup secara saksama. Bisa saja kekayaannya susut dalam usaha mencapai tujuan hidup. Bisa pula fasilitas hidupnya berkurang dalam mengejar tujuan hidup. Namun, dia tidak galau. Dia menganggapnya sebagai hasil transaksi belaka. Yang penting tujuan hidupnya tercapai. Saat tujuan tercapai, dia puas, tapi tidak lebai. Dia memformulasikan tujuan hidup mulia yang baru. Dia tetap produktif memanfaatkan waktu. Dia mempraktikkan firman Allah: Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh sungguh urusan yang lain (QS. Al-Insyirah : 7). Begitulah ritme kehidupan orang cerdas. Dia memiliki sifat keilahian. Dia tahan terhadap tekanan dan persaingan hidup. Termasuk persaingan politik. Dia tidak mengeluh menghadapi halang rintang. Tentu tidak mudah menemukan orang seperti ini. Namun, kita tetap berharap Indonesia di masa depan dipimpin oleh orang cerdas (habis).

(10/11/2022).

Kecerdasan (bagian II)

Semua manusia ingin sejahtera. Sejahtera itu sangat nyata. Kalau manusia tidak sejahtera, hidup akan jadi terbatas. Agar jadi sejahtera, manusia perlu meningkatan kualitas diri. Terutama kecerdasan. Kecerdasan seyogyanya dipraktikkan setiap hari.  Menjadi orang cerdas berarti paham yang dimaksud orang sebelum dia mengutarakannya secara verbal (Bahasa Minang: alun takilek, alah takalam). Dengan kecerdasan orang bisa melihat makna yang tersirat dalam teks yang tersurat. Orang cerdas tidak mau kesadarannya dihegemoni oleh informasi lewat empty signifier. Orang cerdas tidak ambil pusing dengan mitos. Baginya mitos adalah masa lalu yang tidak perlu dipikirkan. Maka manusia cerdas: (i) bisa melihat yang tidak bisa dilihat manusia biasa, (ii) mengutamakan yang penting-penting saja, (iii) berbuat berdasarkan keinsafan, dan (iv) memprioritaskan dan menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan di masa depan.  Untuk menegaskan kecerdasan manusia, Allah berfirman: Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (QS. Al-Qashash: 60) (bersambung).

(09/11/2022).

Kecerdasan (bagian I)

Kecerdasan tidak bisa diajarkan di kelas. Ia terbentuk konon melalui kesadaran memaknai diri, alam dan Allah. Lewat penegasan diri sebagai intelektual, kita bisa berolah pikir dan rasa tentang realitas. Kita senantiasa gelisah dan bertanya-tanya tentang rahasia sosial-budaya. Dari sini lahir ide cerdas untuk menyelesaikan masalah.  Dengan mengambil berkah dari alam, kita bisa membentuk akal budi yang baik. Bukankah ada peribahasa yang berbunyi: alam terkembang jadi guru? Akal budi bisa menciptakan proses peningkatan intelek. Melalui komunikasi dengan Allah, istilah kerennya komunikasi transendental, kita bisa berpihak pada keselamatan dan kedamaian. Soalnya, ia berpusat pada kalbu. Ia bisa membimbing kita memperoleh gambaran tentang esensi yang sesungguhnya. Kecuali itu, Rasulullah saw pernah bersabda: Orang cerdas adalah yang mau mengoreksi dirinya dan berbuat untuk (kehidupan) setelah kematian. (HR Tirmidzi). Kecerdasan kini merupakan keniscayaan. Terlalu banyak kebenaran yang disembunyikan informasi. Terlampau banyak perkataan yang berbeda dengan perbuatan. Terlalu banyak realitas sosiaologis yang berbeda dengan realitas media (bersambung).

(08/11/2022)

Perasaan Ketinggalan (bagian III)

Tidak jarang media menjadi pemicu lahirnya perasaan ketinggalan. Tetapi, media tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Soalnya, dalam diri manusia terdapat dorongan untuk menggunakan dan menghindarkan media. Bagi yang menggunakan media, tentu dia mengharapkan kepuasan dari media. Bagi yang tidak ingin, tentu dia tidak mengharapkan kepuasan apa-apa. Tidak mudah memang untuk menjadi bagian dari kelompok yang terakhir ini. Soalnya, ada pengaruh faktor sosial yang memantik.  Misalnya penggunaan media sosial. Hampir semua orang menggunakan media sosial. Kita tak ingin merasa ketinggalan. Sikap ini perlu diwaspadai. Ia bisa meluncur pada latah. Latah tidak berasal dari kebutuhan. Hanya ikut-ikutan.  Kalau tidak ikut, galau. Dunia terasa tak indah lagi. Padahal Allah pernah berfirman: Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia (yang terdekat) dengan hiasan (berupa) bintang-bintang. (QS. As Saffat: 6). Maka diperlukan pemahaman tentang sikap hidup yang penuh. Misalnya mempertanyakan diri sendiri. Who we are? Dengan terus mempertanyakan dan merumuskan jawabannya, kita akan terus-menerus memformulaskan idenditas diri. Dengan identitas inilah kita bisa memutuskan perasaan ketinggalan mana yang harus ditinggalkan (habis).

(06/11/2022)

Perasaan Ketinggalan (bagian II)

Kesadaran tak ingin merasa ketinggalan membuat orang bersemangat mengejar ketertinggalannya. Mereka menyusun agenda tentang apa yang harus dilakukan. Mereka sangat bersemangat. Begitu bersemangatnya, sehingga mereka lupa menyiapkan diri menghadapi situasi darurat. Tragedi kemanusiaan Halloween Itaewon bisa jadi sebuah contoh soal. Masyarakat setempat berdesak-desakan menghadiri perayaan Halloween Itaewon. Mereka tidak ingin merasa ketinggalan. Mereka abai berhitung tentang kapasitas maksimum dari lokasi. Mereka meluapkan emosi, lupa membayangkan emergency exit dari sana. Akibatnya, sedikitnya 154 orang meninggal dunia. Sampai 01/11/2022 belum jelas penyebabnya. Kita tentu berempati menyadari banyaknya korban jiwa itu. Namun, kita perlu menuliskannya agar tragedi gegara ketertinggalan tidak terjadi lagi. Kita perlu juga mengidentifikasi perasaan ketinggalan seperti apa yang bisa kita tinggalkan. Lebih dari itu, kita perlu juga mendengar nasehat orang yang pernah mengejar rasa ketinggalan itu. Tentang ini, Allah berfirman: Maka sampaikanlah berita gembira kepada hamba-hamba-Ku yang mendengar kata-kata nasehat) lalu mengikuti yang baiknya (QS. Az Zumar: 17-18) (bersambung).

(05/11/2022)

Perasaan Ketinggalan (bagian I)

Seorang pelancong dan seorang dokter sama-sama tidak ingin merasa ketinggalan. Namun, objeknya berbeda. Dokter berusaha mengadopsi teknik mutakhir dalam memeriksa pasiennya. Dia mengikuti perkembangan ilmu kedokteran untuk mendukung pelaksanaan profesinya. Seorang pelancong butuh informasi mutakhir yang akurat sebelum berkunjung ke suatu tempat. Berbekal informasi itu, dia menyiapkan diri. Maka dokter dan pelancong sama-sama mengidentifikasi diri tentang yang ketinggalan pada dirinya. Untuk apa?  Untuk melengkapinya agar selamat dan sukses. Usaha ini bagus, sebagaimana diisyaratkan oleh sabda Rasulullah: Bahagialah orang yang sibuk memperhatikan aib diri sendiri ketimbang memperhatikan aib-aib orang lain. (HR Al-Tirmidzi dan Ibn Majah). Sesungguhnya, perasaan ketinggalan itu berkaitan dengan eksistensi diri. Orang merasa minder kalau ketinggalan dari orang lain. Seorang selebriti merasa belum eksis kalau, katakanlah, belum berkunjung ke Central Park, New York. Dia pun tidak ragu membelanjakan uang untuk bisa ke sana. Maka pembahasan tentang perasaan ketinggalan menuntut perspektif yang lebih luas (bersambung).

(04/11/2022)

Buket Uang (bagian II)

Buket uang kini bisa dipesan di toko. Apakah ini jadi masalah? Pada mulanya, uang yang terdapat dalam buket milik penjual buket. Dia menyusun sejumlah uang di buket. Kemudian dia menjualnya. Dari penjualan itu, dia mendapat dua keuntungan: satu dari selisih harga uang dan lainnya dari jasa menyusun buket uang. Soal yang kedua, sah. Soal yang pertama, kontoversial. Ada yang menganggap riba, ada yang tidak. Daripada menjadi masalah, lebih baik pemesannya menyerahkan uangnya sendiri. Dia hanya membayar jasa pembuatan buket uang. Pemesan dan penjual merasa sama-sama nyaman. Namun, secara psikologis, masalah buket uang itu belum selesai. Penerima buket uang bukan mustahil terus berharap buket uang. Dia pun mengabari kapan saatnya dia berbahagia. Mengabari seperti ini tidak salah. Nabi Muhammad saw pernah bersabda: Menceritakan nikmat Allah adalah syukur (HR. Imam Ahmad). Namun, ketika dia mengikutinya dengan memperluas jaringan sosialnya, agar punya kesempatan luas menerima buket uang, itu sudah bisnis. Ia membisniskan respek orang lain terhadap dirinya. Ini tidak baik, bukan? (habis).

(03/11/2022)

Buket Uang (bagian I)

Setiap saat kita tentu respek terhadap orang lain. Siapa pun dia. Seberapa besarkah respek itu? Tergantung dari seberapa besar kedekatan emosional kita dengan dia. Kapan kita menunjukkan respek itu? Setiap kali berjumpa. Setiap kali kita  mengungkapkan perasaan kita padanya. Bagaimana kalau kita tidak bisa mengucapkannya? Sampaikan lewat kartu ucapan. Atau sampaikan lewat buket bunga. Istilah populernya, Say it with flowers. Istilah ini berasal dari AS, sebuah slogan dalam kampanye hari ibu 1918. Seturut dengan perjalanan waktu, bisa-tidak bisa mengungkapkan perasaan jadi tak penting.  Buket bunga jadi trend. Ia tidak hanya dipakai pada peringatan hari ibu, juga pada momen kegembiraan lainnya. Mulai dari wisuda, pelantikan, hingga pengukuhan. Bergembira bersama merupakan anjuran Allah, sebagaimana firman-Nya: Katakanlah, dengan keutamaan Allah dan dengan rahmat-Nya, maka dengan itu semua hendaknya mereka merasa bergembira. Hal itu lebih baik daripada apa yang mereka (orang-orang kafir) kumpulkan. (QS. Yunus : 58). Namun, sekarang buket bunga sudah berganti dengan buket uang (Bersambung).

(02/11/2022)

Ruang Sosial

Indonesia sudah lama menjadi demokrasi. Demokrasi tidak langsung. Menjadikan partai politik (parpol) sebagai pembawa aspirasi masyarakat. Namun, tidak jarang parpol abai terhadap aspirasi itu. Maka diperlukan beberapa intelektual dalam sebuah parpol. Sejatinya, intelektual tidak hanya diperlukan di dalam parpol Mereka juga diperlukan dalam lembaga pemerintah dan swasta. Wajar bila intelektual menduduki posisi tinggi di dalam masyarakat. Dalam pandangan Islam, intelektual disebut ulul albab. Tentang ulul albab, Allah berfirman: …yang selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring dan senantiasa mengingat penciptaan langit dan bumi, (lalu ia berdoa), “Ya, Allah, tiadalah engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau , maka lindungilah kami dari siksa api neraka” (QS. Ali Imran: 191). Salah satu fungsi intelektual adalah menginisiasi ruang sosial dalam kehidupan masyarakat. Ruang hidup tempat masyarakat mengembangkan dirinya secara bebas dan manusiawi. Di ruang sosial ini pula mereka bebas berinteraksi satu sama lain tanpa takut kehilangan orientasi. Kalau ruang sosial ini diterapkan secara konsisten dan kontiniu, masyarakat akan otonom. Mereka siap menjalani hidupnya dengan penuh semangat.

(01/11/2022)

Solidaritas

Salam penutup surat penulis berbunyi: salam solidaritas. Salam ini juga penulis pakai ketika menulis sebuah email kepada Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo. Ketika bertemu langsung dengannya untuk sebuah wawancara, Sang Monsiyur bertanya: Mengapa menggunakan “salam solidaritas”? Penulis menjawab: untuk menghargai kemanusiaan orang yang membaca dan merasakan pengalaman hidup bersama. Dia merespon: luar biasa. Penulis senyum saja. Lalu dimulailah wawancara. Hasil wawancara itu termuat dalam biografi Paulus Effendi Lotulung: Tenang Tapi Tajam Bergulat Lahirkan Keadilan. Itu terjadi tahun 2012. Sekarang, setelah sepuluh tahun berlalu, penulis tetap menutup sebuah surat dengan “salam solidaritas”. Penulisan seperti itu sebenarnya untuk menyatakan: penulis ingin mewujudkan rasa solider dalam relasi sosial. Sebagai penguat, penulis selalu ingat sabda Rasulullah saw: Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya, hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain (HR. Ahmad). Kalau kemudian muncul pertanyaan, solidaritas yang mana? Solidaritas personal, bukan solidaritas mekanik. Dengan solidaritas ini, penulis bisa menerima orang lain apa adanya dan siap untuk terlibat dalam membentuk kehidupan bersama.

(31/10/2022)