Perasaan Ketinggalan (bagian III)

Tidak jarang media menjadi pemicu lahirnya perasaan ketinggalan. Tetapi, media tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Soalnya, dalam diri manusia terdapat dorongan untuk menggunakan dan menghindarkan media. Bagi yang menggunakan media, tentu dia mengharapkan kepuasan dari media. Bagi yang tidak ingin, tentu dia tidak mengharapkan kepuasan apa-apa. Tidak mudah memang untuk menjadi bagian dari kelompok yang terakhir ini. Soalnya, ada pengaruh faktor sosial yang memantik.  Misalnya penggunaan media sosial. Hampir semua orang menggunakan media sosial. Kita tak ingin merasa ketinggalan. Sikap ini perlu diwaspadai. Ia bisa meluncur pada latah. Latah tidak berasal dari kebutuhan. Hanya ikut-ikutan.  Kalau tidak ikut, galau. Dunia terasa tak indah lagi. Padahal Allah pernah berfirman: Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia (yang terdekat) dengan hiasan (berupa) bintang-bintang. (QS. As Saffat: 6). Maka diperlukan pemahaman tentang sikap hidup yang penuh. Misalnya mempertanyakan diri sendiri. Who we are? Dengan terus mempertanyakan dan merumuskan jawabannya, kita akan terus-menerus memformulaskan idenditas diri. Dengan identitas inilah kita bisa memutuskan perasaan ketinggalan mana yang harus ditinggalkan (habis).

(06/11/2022)

Author: Ana Nadhya Abrar

Gagal menjadi jurnalis profesional, tapi berhasil meraih jabatan profesor jurnalisme. Itulah peruntungan hidup Prof. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., Ph.D. yang dikukuhkan sebagai guru besar Jurnalisme di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 10 Maret 2022. Di samping mengajar jurnalisme, dia juga rajin menulis. Selain ratusan artikel dan kolom untuk media massa, dia juga telah menulis dan menyunting puluhan buku. Penulisan biografi adalah spesialisasinya sebagaimana tergambar dari pidato pengukuhannya sebagai guru besar dengan judul “Menarik Garis Batas Jurnalisme dalam Penulisan Biografi”. -Hasril Caniago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *