Ruang Sosial

Indonesia sudah lama menjadi demokrasi. Demokrasi tidak langsung. Menjadikan partai politik (parpol) sebagai pembawa aspirasi masyarakat. Namun, tidak jarang parpol abai terhadap aspirasi itu. Maka diperlukan beberapa intelektual dalam sebuah parpol. Sejatinya, intelektual tidak hanya diperlukan di dalam parpol Mereka juga diperlukan dalam lembaga pemerintah dan swasta. Wajar bila intelektual menduduki posisi tinggi di dalam masyarakat. Dalam pandangan Islam, intelektual disebut ulul albab. Tentang ulul albab, Allah berfirman: …yang selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring dan senantiasa mengingat penciptaan langit dan bumi, (lalu ia berdoa), “Ya, Allah, tiadalah engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau , maka lindungilah kami dari siksa api neraka” (QS. Ali Imran: 191). Salah satu fungsi intelektual adalah menginisiasi ruang sosial dalam kehidupan masyarakat. Ruang hidup tempat masyarakat mengembangkan dirinya secara bebas dan manusiawi. Di ruang sosial ini pula mereka bebas berinteraksi satu sama lain tanpa takut kehilangan orientasi. Kalau ruang sosial ini diterapkan secara konsisten dan kontiniu, masyarakat akan otonom. Mereka siap menjalani hidupnya dengan penuh semangat.

(01/11/2022)

Author: Ana Nadhya Abrar

Gagal menjadi jurnalis profesional, tapi berhasil meraih jabatan profesor jurnalisme. Itulah peruntungan hidup Prof. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., Ph.D. yang dikukuhkan sebagai guru besar Jurnalisme di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 10 Maret 2022. Di samping mengajar jurnalisme, dia juga rajin menulis. Selain ratusan artikel dan kolom untuk media massa, dia juga telah menulis dan menyunting puluhan buku. Penulisan biografi adalah spesialisasinya sebagaimana tergambar dari pidato pengukuhannya sebagai guru besar dengan judul “Menarik Garis Batas Jurnalisme dalam Penulisan Biografi”. -Hasril Caniago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *