Warisan (bagian III)

Dalam masyarakat tradisional ada sebuah nilai agung menyangkut hubungan anak dan ayah. Nilai itu berbunyi: kalau seorang anak lebih unggul dari ayahnya, itulah nilai tertinggi buat anak. Itulah tanda kemajuan dalam keluarga. Maka seorang anak berusaha lebih baik dari ayahnya. Kalau dia gagal, nilai dia dan ayahnya jadi berkurang. Sebuah contoh, kalau ayahnya seorang insinyur, sementara anaknya hanya lulusan SMA, keluarganya akan merasa terhina. Sekarang masih ada yang mengamalkan nilai itu dan ada pula yang tidak. Lepas dari perdebatan tentang praktik itu, seorang ayah perlu mengeksplorasi kecerdasan anak, memilih yang dominan dan memfasilitasinya. Agar bisa mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri berdasarkan informasi dan pengetahuan yang diterimanya dari gurunya dan berbagai media. Kalau sudah begini, ayah sudah mewariskan kebaikan  buat anaknya. Anak itu cerdas lho. Allah berfirman: Ingatlah ketika Tuhan berkata kepada malaikat-malaikat. Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dari tanah. Dan ketika dia telah kubentuk dengan sempurna dan Kutiupkan ke dalamnya ruh-Ku, hendaklah kamu tunduk dan merendah diri kepadanya. Lantas malaikat semuanya merendahkan diri (QS. Shad: 71-73). (habis).

(19/11/2022).

Warisan (bagian II)

Apakah Megawati mewarisi kemampuan Bung Karno mengarahkan masyarakat ke orientasi kemerdekaan? Entahlah. Yang jelas Megawati dan Bung Karno pernah menjadi Presiden Indonesia. Apakah Buya Hamka mewarisi kemampuan ayahnya, Syekh Abdul Karim Amarullah, dalam berdakwah? Entahlah. Yang jelas keduanya pernah menerima doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, Kairo. Apakah kita pewaris Ayah kita? Entahlah! Yang jelas kita wajib mengasihi orang tua kita, sebagaimana firman Allah: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al Isra: 24). Mengasihi orang tua berarti peduli pada kepentingan, cita-cita dan obsesinya. Kita wujudkan kerinduannya yang belum terpuaskan. Kita badalkan hajinya kalau dia belum sempat berhaji sebelum wafat. Maka wajar saja kalau Megawati ingin nama Bung Karno dibersihkan dari segala fitnah dan tuduhan bekerja sama dengan PKI. Persoalannya, apakah bukti kerasnya memang tidak ada. Kesahihan sebuah kebenaran tak bisa hanya datang dari manusia, tetapi dari realitas itu sendiri (bersambung).

(18/11/2022).

Warisan (bagian I)

Buku ini bertolak dari catatan Musfiroh, adik Lukman Hakim (Lukman), tentang ide, gagasan, dan renungan Moh. Saad (Pak Saad) yg terungkap menjelang kematiannya. Saat itu Pak Saad buta. Dia melewati hari-hari terakhirnya di kamar tidurnya. Namun, idenya mengalir baik air bah. Musfiroh mendokumentasikan semua ide tersebut. Lukman menyunting kumpulan ide dan gagasan itu menjadi sebuah buku. Suatu kerja sama yang baik antara Musfiroh dan Lukman demi berbuat baik kepada almarhum Pak Saad. Berbuat baik kepada orang tua, sekalipun sudah meninggal, memang perlu. Allah berfirman: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orangtuamu, hanya kepada-Ku tempat kembalimu (QS. Luqman: 14). Apakah Musfiroh dan Lukman penerus Pak Saad? Entahlah! Yang jelas mereka melihat nilai-nilai luhur yang terkandung dalam buku ini. Mereka berpikir, nilai-nilai itu penting juga diwarisi kepada pembaca. Maka buku ini menjadi warisan Pak Saad buat pembacanya (bersambung).

(17/11/2022).

Keluhan (bagian III)

Semua pemimpin ingin memajukan masyarakatnya. Mereka bercerita tentang aneka program yang bisa dikerjakan. Namun, tidak jarang mereka dianggap membingungkan masyarakat. Anehnya, yang mengeluh itu bukan masyarakat, tapi orang yang bisa menggantikan sang pemimpin. Dia menyebut masyarakat tidak bisa mengikuti ide sang pemimpin. Lalu siapa sebenarnya yang mengeluh? Sekali lagi, bukan masyarakat, tapi orang yang punya kapasitas untuk jadi pemimpin. Apakah masyarakat mengeluh menjadi kambing hitam? Tidak, ternyata. Mungkin mereka tak ingin cepat tua. Bukankah sebuah hasil penelitian di RRT menunjukkan, banyak warga di sana yang berusia di atas 90 salah satunya karena tidak suka mengeluh? Agaknya mereka mempraktikkan firman Allah: Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. Al Anfal: 61). Memang tidak semua calon pemimpin pada Pemilu 2024 benar-benar ingin membawa perdamaian. Namun, kita sangsi kepada mereka. Kita melakukannya dengan rendah hati dan bertata krama. Bagaimanapun kehadiran mereka tetap diperlukan. Paling tidak sebagai sumber informasi (habis).

(16/11/2022). 

Keluhan (bagian II)

Mengeluh itu sifat bawaan manusia. Ini ditunjukkan oleh firman Allah: Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (QS. Al Ma’arij: 19). Maka mengeluh merupakan sifat azali manusia. Namun, haruskah manusia menyerah pada yang azali itu? Tentu saja tidak. Manusia harus tetap melawannya. Kalau berhasil, tentu mereka akan mendapat kebaikan Allah dan simpati manusia. Persoalannya, dari mana asal keluhan? Dari kebodohan manusia. Kebodohan itu konon berasal dari sifat gelap mereka. Yakni sombong, dendam, dengki, kikir, bohong dan ujub. Ketika semua sifat ini bersimaharajelala dalam diri, kita mudah mengeluh. Ambil contoh, seorang individu pamer tentang keberhasilannya menerbitkan sebuah buku. Sayang, sedikit orang yang memberikan ucapan selamat. Dia mengeluh dan lantas berkata: kok tidak banyak yang memberi ucapan selamat. Bukankah tidak mudah menerbitkan sebuah buku? Tanpa sadar ia membuka peluang munculnya sifat sombong. Seolah-olah keberhasilan menerbitkan buku hanya karena kehebatannya sendiri. Padahal tanpa izin Allah, buku itu tidak akan pernah terbit (bersambung).

(15/11/2022).

Keluhan (bagian I)

fin.co.id, 26-10-2022, melaporkan keluhan Pelatih Manchester City (MC), Pep Guardiola. Awal berita itu berbunyi: Pep Guardiola mengeluh setelah laga Dortmund vs Manchester City yang berakhir imbang 0-0. Mengapa dia mengeluh? Karena Riyad Mahrez gagal mengeksekusi tendangan penalti ke gawang Dortmud. Konon, setelah mengambil kepelatihan MC, Pep mencatat MC sudah 25 gagal mencetak gol dari titik putih dari 80 penalti di seluruh kompetisi. Statistik ini sangat berarti buat Pep. Pengakuan masyarakat terhadap reputasi Pep seolah-olah memiliki rumpang. Bagaimana kita harus memaknai keluhan ? Bukankah keluhan bisa dirasakan menusia biasa? Ketika harapan tidak terpuaskan, tanpa sadar mereka mengeluh. Tatkala rencana tidak berjalan lancar, mereka langsung mengeluh. Mengeluh seakan-akan menjadi hal yang biasa. Namun, Allah melarang hamba-Nya mengeluh, sebagaimana firman-Nya: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al Ankabut: 2). Maka kita akan selalu diuji. Kalau sudah begini, kita hadapi saja ujian dengan penuh penahanan diri.  Tentu saja pelaksanaannya tidak semudah membalik telapak tangan (bersambung).

(14/11/2022).

Kejenuhan (bagian III)

Keteraturan sering kali dituduh sebagai sumber kejenuhan. Namun, keteraturan itu tidak berlaku begitu saja. Ia merupakan jalan yang disiapkan untuk kelancaran sebuah profesi. Ia sudah dirumuskan dan dibiasakan dalam waktu yang relatif lama.  Lihatlah, dalam lingkungan masyarakat ilmiah berlaku nilai-nilai yang berdasarkan nalar. Peneliti mencari kebenaran menggunakan hukum-hukum obyektif. Dalam lingkungan pengusaha, kepercayaan menjadi sangat penting. Seorang pengusaha tidak akan berbisnis dengan orang yang tidak bisa dipercaya. Dalam lingkungan  wartawan, realitas di lapangan menjadi bahan dasar penulisan berita. Bertolak dari realitas itulah kemudian wartawan mencari narasumber untuk konfirmasi realitas. Maka kita harus realistis menghadapi keteraturan itu. Allah mengakui aturan-aturan itu, sebagaimana firman-Nya:  Demi langit yang mempunyai jalan-jalan (QS. Az Zariyat: 7). Jalan-jalan itu harus ditempuh demi mencapai tujuan. Kalau kejenuhan itu muncul saat mengikuti aturan itu, misalnya karena kita tertekan, ada yang salah pada sikap kita. Kita perlu mengoreksi sikap:  aturan itu konsekuensi. Konsekuensi setelah menjalankan sebuah profesi. Bukan imbalan karena memilih profesi itu (habis).

(13/11/2022). 

Kejenuhan (bagian II)

Sekarang muncul berbagai teknologi untuk simulasi dan komunikasi digital.  Ada virtual reality, warp drive dan telepati elektronik.  Dengan teknologi itu, manusia bisa melihat dan merasakan fakta. Namun, fakta tersebut bukan sesuatu yang empiris. Ia tidak punya fondasi, bahkan tidak riil. Mulanya teknologi simulasi itu bisa menjadi pintu keluar manusia dari kejenuhan. Namun, lama-kelamaan ia melahirkan kejenuhan juga. Soalnya, ketika manusia berinteraksi dengan dunia 3D, mereka mudah meluncur pada tindakan ekstrim. Ketika manusia menjelajah seluruh isi alam semesta dengan warp drive, mereka tidak pernah puas. Saat menggunakan telepati elektronik, sekalipun tanpa menggunakan mulut, telinga dan mata, tetap saja tidak memberi kedamaian di hati. Kejenuhan muncul lagi. Untuk keluar dari kejenuhan, Allah berfirman: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Ra’d: 28). Ya, dengan mengingat Allah, kejenuhan bisa sirna. Secara praktis, kejenuhan muncul karena kehidupan yang tidak bercorak. Agar kehidupan bewarna, dibutuhkan kecakapan menghadapi hidup. Kecakapan itu bisa dibangun oleh berbagai literasi, mulai dari literasi lingkungan hidup, literasi numerasi, literasi digital, literasi keberagaman, literasi kearifan lokal hingga literasi finansial (bersambung).

(12/11/2022).

Kejenuhan (bagian I)

Dunia tak lepas dari kontestasi politik. Para kontestan saling berebut pengaruh. Mereka menggunakan berbagai saluran komunikasi yang berkekuatan hegemonik Untuk apa? Untuk memperoleh citra positif di kalangan masyarakat. Citra itu bisa saja tanpa referensi. Bisa pula tanpa punya akar realitas. Tapi, mereka tidak peduli. Toh, citra itu hanya untuk satu periode saja. Setelah itu akan terjadi lagi kontestasi. Terjadi lagi perebutan citra positif. Jokowi masih memperebutkan citra positif, ternyata. Dia mengucapkan “setelah ini jatah Prabowo”. Ungkapan itu disampaikannya saat menceritakan pengalamannya menang di semua kontestasi politik, termasuk dua kali menang pilpres (detik.com, 09/11/2022-07:04). Dia menggiring masyarakat untuk respek pada dirinya yang seolah-olah mendukung Prabowo pada pilpres 2024. Dia seakan-akan ingin membalas kebaikan Prabowo pada pilgub DKI Jakarta 2012. Padahal siapa pun mengerti, jagoan Jokowi adalah Ganjar Pranowo. Bukan mustahil masyarakat merasa jenuh dengan pencitraan Jokowi ini. Lalu ada yang berkomentar: Kok sibuk mengurusi pencitraan. Islam melarang pencitraan, sebagaimana terungkap dalam firman Allah: Maka janganlah kamu sekalian menyucikan diri sendiri. Dialah yang paling mengetahui orang yang bertakwa. (QS. An-Najm: 32) (bersambung).

(11/11/2022).

Kecerdasan (bagian III)

Orang cerdas selalu mempraktikkan kecerdasannya. Dia berusaha menemukan apa yang dia cari. Dia menjadikan tujuan hidup di atas segala-galanya. Kekayaan dan fasilitas hidup merupakan sarana untuk mencapai tujuan hidup. Maka dia merumuskan tujuan hidup secara saksama. Bisa saja kekayaannya susut dalam usaha mencapai tujuan hidup. Bisa pula fasilitas hidupnya berkurang dalam mengejar tujuan hidup. Namun, dia tidak galau. Dia menganggapnya sebagai hasil transaksi belaka. Yang penting tujuan hidupnya tercapai. Saat tujuan tercapai, dia puas, tapi tidak lebai. Dia memformulasikan tujuan hidup mulia yang baru. Dia tetap produktif memanfaatkan waktu. Dia mempraktikkan firman Allah: Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh sungguh urusan yang lain (QS. Al-Insyirah : 7). Begitulah ritme kehidupan orang cerdas. Dia memiliki sifat keilahian. Dia tahan terhadap tekanan dan persaingan hidup. Termasuk persaingan politik. Dia tidak mengeluh menghadapi halang rintang. Tentu tidak mudah menemukan orang seperti ini. Namun, kita tetap berharap Indonesia di masa depan dipimpin oleh orang cerdas (habis).

(10/11/2022).