Penghargaan Terhadap Sejarah Bisa Melahirkan Kreativitas

Segala puji bagi Allah Swt.

Inilah fotoku di depan air mancur kompleks Stadthuys Melaka pada 8 Juli 2025:

Tentu saja aku senang bisa kembali berfoto di sini. Ini menjadi kejutan (surprise) pertamaku di tahun ini. Betapa tidak, aku berencana berkunjung ke kompleks Stadthuys dan berfoto dengan latar belakang air mancur tersebut pada 2028. Rencana ini terdokumentasi pada Refleksi 2, 25 November 2023 berjudul Mempraktikkan Hidup Sederhana di dalam buku Refleksi Kritis Seorang Profesor Jurnalisme Yang Naif, Buku Pertama. Rencana itu kutulis ulang dalam Refleksi 49, 2 November 2024 berjudul Mengendalikan Diri di dalam buku Refleksi Kritis Seorang Profesor Jurnalisme Yang Naif, Buku Kedua. Dalam rencana yang terakhir ini, aku menulis sebagai berikut:

Berkunjung ke Melaka, Malaysia, dengan istri, pada 10 November 2028 dan berfoto di depan air mancur di kompleks Stadthuys (hal. 247).

Namun, Allah berkehendak lain. Dia memberiku kesempatan mewujudkan mimpi itu tiga tahun lebih awal, persisnya 8 Juli 2025. Aku terkesima. Aku menatap lama-lama air mancur itu. Kegembiraan melingkupiku. Bergegas aku berdiri di depan air mancur itu dan minta istriku, Riska, memotret diriku. Lalu jadilah foto seperti yang terdokumentasi di awal tulisan ini.

Persoalannya, mengapa aku harus berfoto di depan air mancur itu pada 2028? Jawabannya tertulis dalam Refleksi 2, 25 November 2023 berjudul Mempraktikkan Hidup Sederhana sebagai berikut:   

Dengan foto itu, aku punya foto diri di tempat yang sama sebanyak dua kali: 25 Maret 2018 dan 14 November 2023. Untuk  menghasilkan kedua foto itu, aku sudah merealisasikan sumber daya kulturalku. Kalau kemudian aku berniat berfoto di tempat yang sama lima tahun lagi, pada 2028, itu sebenarnya merupakan simbol usahaku untuk tetap hidup sehat secara fisik dan ekonomis. Dengan kesehatan yang prima, aku bisa merealisasikan sumber daya kulturalku dan tetap bersemangat untuk berkarya. Bukan sekadar untuk menciptakan romantisme kehidupan (hal. 16).

Penjelasan ini melahirkan pertanyaan berikutnya, mengapa harus Melaka? Mengapa tidak Auckland? Atau mengapa tidak Toronto? Jawabanku tegas: aku ingin menghargai sejarah perjuangan sultan dan rakyat Melaka melawan penjajahan. Mereka sudah berjuang melawan Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang yang pernah menduduki negeri mereka. Mereka tidak kenal lelah berjuang melawan pendudukan keempat negara itu. Mereka korbankan segala yang mereka punya, mulai harta benda, waktu sampai nyawa. Sungguh berat penderitaan mereka.

Maka aku ke Melaka dan berfoto di depan air mancur Stadthuys sebagai simbol penghargaanku terhadap perjuangan sultan dan rakyat Melaka menentang penjajahan. Bila diangkat ke tingkat yang lebih makro, itu merupakan simbol penghargaanku terhadap sejarah. Ada nilai-nilai luhur yang bisa dipetik dari sejarah. Nilai-nilai ini bisa direkonstruksi pada masa kini demi masa depan yang lebih baik. Wajar kalau aku berpendapat: penghargaan terhadap sejarah bisa melahirkan kreativitas.

Ambil contoh profesor. Yang mengangkat seorang dosen jadi profesor adalah Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek). Namun, pengangkatan itu bertolak dari kreativitas sang dosen. Kalau dia kreatif, tentu dia bisa memenuhi segala persyaratan menjadi profesor. Kalau tidak, dia tidak akan bisa menjadi profesor. Artinya, yang membedakan seorang dosen yang profesor dan tidak profesor adalah kreativitas.  

Kreativitas tumbuh sesuai dengan prosesnya. Ia butuh suasana yang kondusif untuk bisa berkembang. Salah satu suasana itu adalah penghargaan terhadap sejarah. Ketika seorang dosen ingat dengan sejarah lingkar awal dirinya, dia akan memiliki kesadaran tentang posisi dirinya. Dia akan berkata pada dirinya sendiri: saya berasal dari lingkungan intelektual, malu rasanya kalau tidak menjadi intelektual. Atau dia berkata: saya sudah berkorban banyak meninggalkan keluarga di kampung, malu rasanya kalau tidak sukses. Atau dia berkata: saya merupakan lulusan Universiti Malaya (UM), sebuah perguruan tinggi ternama di Asia Tenggara, malu rasanya kalau tidak punya karya yang bisa diandalkan. 

Maka penghargaan terhadap sejarah merupakan titik awal untuk menjadi kreatif. Dalam kaitan dengan diriku, kedatanganku ke Kampus UM pada 9 Juli 2025 merupakan simbol penghargaanku terhadap sejarahku berkuliah di UM. Lihatlah, aku melakukan napak tilas ke Faculty of Arts and Social Sciences (FASS), UM. Dari napak tilas ini, semoga aku selalu memiliki penghargaan yang tinggi terhadap sejarahku berkuliah di UM. Aamiin.

Tidak banyak lulusan UM yang menjadi profesor di UGM.  Yang kutahu, selain aku, ada Wakhid Slamet Ciptono dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Kendati hanya kami berdua, tentu kami tidak boleh larut saja di dalam kiprah alumni perguruan-perguruan tinggi yang lain. Kami perlu eksis juga di tengah puluhan alumni perguruan tinggi luar negeri lainnya. Tegasnya, kami tidak boleh mempermalukan UM.

Sebagai dokumentasi napak tilas itu, aku berfoto di Kampus FASS, UM seperti ini:

Di kampus inilah aku berkuliah S-3 pada 2005-2010

Untuk menambah kesadaran tentang sejarah perkuliahanku di UM, aku pasang juga foto Riska (istriku), Azalia (anak kelimaku), dan Aileen (anak keenamku) seperti berikut:

Sekarang Azalia dan Aileen berfoto di sini.
Siapa tahu suatu saat kelak mereka berkuliah di UM.
Riska, Azalia, dan Aileen berfoto di taman sebelum pintu masuk UM
Proses transfer dan konstrruksi ilmu pengetahuan di kampus ini tak pernah berhenti. Semoga kelak Azalia dan Aileen juga tidak pernah berhenti mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.

Tentu saja aku tidak mengajak Riska, Azalia dan Aileen hanya untuk menemaniku napak tilas ke UM. Aku juga mengajak mereka berwisata sejarah ke Melaka. Di sana, mereka juga berfoto seperti ini:

 Agaknya Riska, Azalia dan Aileen senang bisa berkunjung ke Melaka

Kecuali itu, aku sempat pula berfoto bersama Azalia dan Aileen di Melaka seperti berikut:

Sayang sekali ketika sampai di sini museumnya sudah tutup
Berfoto bertiga beranak di depan pintu masuk Museum Sejarah dan Etnografi Melaka
Apakah hard rock cafe Melaka ini masih eksis sepuluh tahun lagi?
Kalaupun tidak, kami sudah pernah berfoto di halaman depannya.
Di Melaka juga ada “walk”, namanya jonker walk.
Azalia, Aileen dan Aku sempat berfoto di bawah gapura Jonker Walk

Bagiku berfoto bersama Azalia dan Aileen tidak sekadar untuk membuat dokumentasi. Tetapi juga untuk menunjukkan betapa sayangnya aku kepada mereka. Aku ingin mereka mengerti menimba pengalaman sebanyak-banyaknya dari kunjungan kami ke Kuala Lumpur dan sekitarnya akan bermanfaat untuk pengembangan dirinya. Aku ingin mereka paham aku tidak keberatan membelanjakan uang dan membuang waktu demi kebaikan mereka.  

Kalau Azalia dan Aileen pulang dan sampai di Jogja kelak, mereka bisa melihat foto itu kembali dan memaknai sesuai dengan kemampuannya. Mereka juga bisa membaca tulisan ini dan mengembarakan pikirannya tentang apa yang sudah mereka lakukan. Akhirnya, mereka merasa bersyukur memperoleh kebahagiaan yang tidak dimiliki semua kawan sebayanya.

Tidak lengkap rasanya kebahagiaan Azalia dan Aileen berkunjung ke Malaysia bila mereka tidak berkunjung ke Genting Highlands. Profil singkatnya tertulis dalam Wikipedia sebagai berikut:

Dataran Tinggi Genting atau Genting Highlands (2000 m di atas muka laut) adalah puncak gunung dari pegunungan Titiwangsa di Malaysia serta menjadi tempat resort terkenal dengan nama yang sama. Berada di perbatasan negara bagian Pahang dan Selangor, tempat ini dapat dicapai dengan satu jam berkendara roda empat dari Kuala Lumpur atau melalui kereta gantung Genting Skyway yang saat ini merupakan yang tercepat di dunia dan terpanjang di Asia Tenggara).

Genting Highlands didirikan oleh Lim Goh Tong dari FujianCina, pada awal tahun 1960-an. Sejak itu, Genting Highlands berkembang pesat dan menghasilkan perusahaan-perusahaan lainnya di bawah Genting Bhd, seperti perusahaan kertas, stasiun pembangkit tenaga listrik, perusahaan perkebunan, perumahan, perusahaan minyak, kapal pesiar, dan lain – lain.

Kini Genting memperoleh julukan Las Vegas-nya Malaysia. Dari julukan ini bisa dibayangkan Genting sudah menjadi tempat memperoleh kesenangan dunia. Secara praktis, menyenangkan diri sendiri belum tentu menghasilkan kebahagiaan. Soalnya, semua bentuk kegiatan yang menyenangkan diri sendiri hanya mendatangkan kebahagiaan di dunia saja. Ia tidak akan bertahan lama. Ia juga tidak akan berdampak untuk kebahagiaan akhirat.

 Lalu bagaimana cara memperoleh kebahagiaan hakiki? Kebahagiaan hakiki yang dimaksud adalah bahagia di dunia dan akhirat. Untuk mencapai ini, kita mesti melakukan penanaman modal akhirat. Kecuali itu kita berdoa sesuai dengan yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al Baqarah, Ayat 201:

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.

Maka kami berkunjung ke Genting pada 10 Juli 2025 hanya sekadar untuk menyenangkan diri sesaat saja. Kami ingin melihat bagaimana orang menyenangkan diri dengan semua fasilitas hiburan yang ada di situ. Kami sudah akan merasa senang melihat orang lain memperoleh kesenangan. Namun, aku memberikan kesempatan kepada Azalia dan Aileen untuk menaiki gondola. Dari gondola ini mereka bisa melihat pemandangan yang indah ke pegunungan di kejauhan dan hutan yang dilewati gondola.

Pemandangan itu terekam dalam foto-foto berikut:

Riska, Azalia dan Aileen ketika berada di dalam Skyway. Mereka sangat menikmati perjalanan menuju Genting. Udara yang dingin dan pemandangan yang indah, membuat mereka happy.
Betapa indahnya pemandangan alam yang kami saksikan dari atas gondola
Aileen sempat memotretku di atas gondala.

Kecuali itu, aku dan Riska sempat juga berfoto dengan latar belakang “Sky Casino” seperti ini:

Usai menyenangkan diri sesaat di Genting, kami pulang ke Kuala Lumpur naik bus. Kami langsung menuju penginapan. Kami hanya bisa mandi dan salat maghrib. Soalnya, jam 8 malam kami akan dijemput oleh dosen pembimbingku ketika menulis disertasi di UM, Prof. Hamedi Mohd. Adnan (Pak Hamedi)

Seperti biasa, menjelang kepulanganku ke Jogja, Pak Hamedi selalu mentraktirku makan. Malam ini dia mentraktirku makan malam karena besok aku sekeluarga akan pulang ke Jogja. Namun, ada perbedaan suasana dalam kesempatan dia mentraktirku malam ini. Kali ini dia dikawani oleh istrinya. Ini menciptakan suasana penuh kekeluargaan.

Ketika makan malam, aku mengobrol dengan Pak Hamedi soal perkembangan politik mutakhir Malaysia dan rencananya setelah pensiun sebagai dosen UM. Sementara Riska mengobrol dengan istri Pak Hamedi dengan hangat. Lalu bagaimana Azalia dan Aileen? Mereka hanya menjadi pendengar yang baik saja.

Agaknya kami menghabiskan waktu 1,5 jam menikmati makan malam dan mengobrol. Aku merasa nyaman. Soalnya, Pak Hamedi tampil biasa-biasa saja. Dia tidak tampil dengan pencitraan sebagai mantan dosen pembimbingku. Sebaliknya, dia malah tampil ibarat kawan lama yang sudah lama tidak berjumpa. Mengobrolnya enak. Kalau tidak ingat waktu, rasanya aku akan terus saja mengobrol dengannya.

Maka perpisahan dengan Pak Hamedi di serambi penginapan kami dilingkupi kesedihan. Aku tidak sanggup menatapnya lama-lama. Aku khawatir menangis. Terlampau banyak kebaikannya yang tercurah padaku. Kebaikan itu tidak hanya kuperolah ketika aku menjadi mahasiswa bimbingannya menulis disertasi. Setelah aku menjadi profesor pun, dia tetap berbuat baik padaku. Dia juga mengajak diriku menguji disertasi mahasiswa bimbingannya, mulai dari Li Jianmo, Shafinaz Binti Ahmad Shaharir, Muhamad Gibraltar, Puteri Wahyuni, Li Jingfang sampai Ghozian Aulia Pradhana.

Cepat-cepat aku mengulurkan tanganku sembari mengucapkan banyak terima kasih. Tanpa pertolongan Pak Hamedi, mustahil aku menjadi doktor jurnalisme, kataku dalam hati.

Pak Hamedi menerima uluran tanganku sembari tersenyum. Dia menatapku senang. Aku terharu. Aku berharap suatu suatu saat bisa berjumpa dia lagi. Aku juga berdoa, semoga Allah senantiasa merahmati Pak Hamedi sekeluarga. Aamiin.

Ketika mobil Pak Hamedi meninggalkan halaman penginapan kami, aku masih terpaku. Aku mengawasi mobilnya sampai hilang dari pandanganku. Dari arah pintu masuk penginapan, terdengar Azalia memanggilku. Dia minta aku segera masuk. Aku tersentak. Aku berjalan gontai menuju pintu masuk penginapan.

Saat berada di kamar, aku segera membuka cendera mata yang dititipkan kepada Riska oleh istri Pak Hamedi. Isinya macam-macam, mulai dari sambel, kue kering, permen hingga plakat. Masya Allah. Pak Hamedi dan istrinya layaknya orang tua buat anak-anakku. Sungguh mulia hati mereka. Apakah mungkin terbalas olehku kebaikan mereka kepadaku sekeluarga? Entahlah! Malam ini benar-benar malam yang menegaskan hubungan yang baik antara Pak Hamedi sekeluarga dan aku sekeluarga. Hubungan ini terasa sangat akrab, bahkan mesra. Ya, aku merasa tali silaturahim kami makin erat. Aku merasa plakat seperti tersaji di bawah ini merupakan simbol keinginan Pak Hamedi agar aku tidak memalukan UM. Aku akan penuhi pesan Pak Hamedi dengan segala kemampuanku, kataku dalam hati.

Kalau dikaitkan dengan ketentuan Allah yang membimbimbingku mengunjungi Melaka pada 8 Juli 2025, hikmahnya adalah agar aku bisa membentuk kesadaran tentang betapa besarnya peran Pak Hamedi dalam membimbingku menjadi manusia. Dia tidak hanya membimbingku menjadi doktor jurnalisme, tetapi juga mengajariku tentang humanisme. Aku benar-benar memperoleh pembelajaran yang lengkap dari kunjunganku sekeluarga ke Kuala Lumpur dan sekitarnya pada 7-11 Juli 2025. Berbarengan dengan itu, aku berjanji kepada diriku sendiri untuk datang kembali ke Malaysia pada Juli 2030. Di samping akan menjumpai Pak Hamedi tentu saja aku akan berfoto dengan latar belakang air mancur di Stadthujs.

Ana Nadhya Abrar

Referensi

Abrar, A.N. (2024). Refleksi Kritis Seorang Profesor Jurnalisme Yang Naif, buku pertama. Yogyakarta.

Abrar, A.N. (2025). Refleksi Kritis Seorang Profesor Jurnalisme Yang Naif, buku kedua. Yogyakarta.

Al-Qur’an.

Internet: https://id.wikipedia.org/wiki/Genting_Highlands#