Tak Sekadar Tadabur Alam

Segala puji bagi Allah Swt.

Di musala itu hanya ada dua orang. Seorang laki-laki, dan yang lainnya perempuan. Sang perempuan itu menyambut kami dengan ramah. Dia menunjukkan kamar mandi dan tempat berwudhu. Usai berwudhu, dia masuk ke musala.

Kami berada di sana untuk salat subuh pada 2 Juni 2023. Kami mengikuti petunjuk yang diberikan. Usai berwudhu kami masuk musala dan menunaikan salat subuh. Usai salat subuh, sang imam menyapa kami. Dia lantas bercerita pajang lebar tentang Kampung Pitu, Padukuhan Nglanggeran Wetan, Kalurahan Nglanggeran, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunung Kidul. Ternyata dia bukan hanya imam musala, juga salah seorang sesepuh adat di Kampung Pitu.

Mengikuti silsilah Kampung Pitu, sang imam merupakan generasi ketiga dari awal berdirinya Kampung Pitu. Leluhurnya berasal dari Klaten.  Namun, ada yang lebih senior dari dirinya, yakni Yatnorejo, yang merupakan generasi kelima dari awal berdirinya Kampung Pitu. Yatnorejo kini membuka home stay di Kampung Pitu. Bagi yang ingin bermalam di Kampung Pitu, mereka bisa bermalam di home stay milik Atnorejo dan berbincang-bincang soal Kampung Pitu.

Kepada sang imam, kami mengungkapkan keinginan kami untuk menikmati matahari terbit di salah satu puncak gunung api purba yang berjarak sekitar 100 m dari musala. Dia mempersilakan kami. Tiba-tiba jamaah perempuan tadi berkata, Mau saya siapkan kopi? Nanti bisa saya antar ke puncak.

Membayangkan bisa menikmati kopi hangat di puncak sembari menyeruput kopi panas, tentu nikmat sekali. Kami pun setuju. Karena kami berdelapan, kami harus mengeja satu per satu keinginan anggota romobongan kami. Perempuan itu mendengarkan dengan saksama. Ternyata dia merupakan istri sang imam.

Sesampainya di puncak Kampung Pitu, kami lega. Pandangan kami lepas ke bawah. Lembah-lembah terlihat masih tidur. Di kejauhan kami melihat kelap-kelip cahaya lampu. Angi bertiup semilir.

Keindahan alam yang kami saksikan seolah-olah menjadi tangan Allah yang dijulurkan kepada saya. Saya segera menyambutnya seraya beucap, patuh dan setia kepada Allah. Dengan begitu, hati saya jadi tentram. Saya pun bisa mereguk kenikmati alam sepuas-puasnya.

Kami tidak percaya berada di puncak kampung dalam ketinggian 740 meter di atas permukaan laut. Soalnya, pemandangan ke bawah sangat dalam dan pemandangan jauh sangat lebar. Namun, menurut informasi, ketinggian puncak ini hanya 740 meter dari permukaan laut.

Memang saya hanya melihat keindahan alam. Namun, keindahan itu menghubungkan saya dengan Allah. Mendadak saya merasa hanyut terbawa gelombang menuju Allah. Terasa Allah hadir dn bergabung dengan saya. Maha Besar Engkau ya Allah. Sambil menunggu matahari terbit, kami pun berfoto untuk membuat kenangan: suatu saat kami pernah ke sini. Siapa tahu foto-foto ini bisa jadi inspirasi buat siapa saja yang membaca tulisan ini. Inilah foto-foto itu:

Kami kaget. Cuaca mendung. Lama menunggu, kami tidak kunjung menyaksikan matahari terbit. Kedua foto di atas menjadi buktinya. Keduanya menunjukkan hari sudah mulai siang. Matahari sudah terbit.

Namun, menjelang pukul 6 pagi, tiba-tiba kami lihat matahari muncul dari arah timur. Saya pun cepat-cepat berfoto dengan latar belakang matahari terbit itu. Inilah fotonya:

Sebelum itu, Saya sempatkan juga berfoto dengan anak-anak saya dan sahabat saya, Muhammad Supraja. Ini fotonya:

Setelah matahari agak meninggi, saya berfoto dengan istri dan anak-anak saya seperti ini:

Kami tidak menyesal tidak bisa melihat matahari terbit sejak awal. Semua foto di atas sudah menunjukkan kepuasan kami bisa berada di sini. Kecuali itu, kami merasa beruntung bisa berkunjung ke puncak Kampung Pitu. Kampung ini konon merupakan tanah bertuah. Di sini ada peraturan: hanya tujuh keluarga yang boleh tinggal di sana. Tak kurang, tak lebih. Konon pula, tak semua orang kuat atau sanggup tinggal di sana.

Kami juga memperoleh pelajaran dari kisah perjalanan Kampung Pitu. Soalnya, kisah itu menyebutkan:

Kampung Pitu berasal dari kakak beradik Iro Dikromo dan Tirtosari yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah.  Mereka bisa sampai ke Kampung Pitu karena berhasil memenangkan sayembara Kraton Jogja. Hadiahnya adalah: mereka bisa menempati lahan kosong dan berhak jadi penduduk kampung di sekitar Telaga Guyangan. Namun, mereka juga berkewajiban pohon pusaka bernama Kinah Gadung Wulung maka diperbolehkan tinggal di sana. Hanya kedua orang inilah yang bisa tinggal di sekitar telaga guyangan. Tempat mereka tinggal inilah yang kemudian diberi nama Kampung Pitu. Mengapa harus Kampung Pitu? Karena Iro Dikromo dan Tirtosari sudah berikrar: keturunan mereka kelak boleh tinggal di kampung itu sebanyak tujuh kepala keluarga. Tidak boleh lebih. Maka, setiap ada potensi penambahan kepala keluarga harus siap-siap pindah ke tempat lain. Masyarakat mematuhinya. Mereka malah menjadikannya sebagai tradisi yang harus dipatuhi sebagai bentuk penghargaan terhadap leluhur.

Kompas.com

Lihatlah betapa besarnya penghargaan mereka terhadap leluhur. Ini terasa logis. Leluhur sudah bersusah payah meninggalkan warisan buat anak keturunannya. Mereka telah mengembangkan imajinasi mereka tentang yang terbaik untuk untuk masa depan anak cucunya. Maka tidak ada pilihan lain buat anak keturunan Iro Dikromo dan Tirtosari selain memelihara tradisi yang ditinggalkannya.

Tidak mudah bagi kami bisa mencapai puncak Kampung Pitu ini. Satu-satunya akses jalan menuju ke kampung itu adalah lewat jalan semen yang diapit batuan andesit raksasa di kanan-kiri. Sepanjang jalan kami harus waspada karena kelokan yang berliku. Belum lagi tanjakan yang curam. Sudah begitu, kadang-kadang jalan semen tiba-tiba saja beralih jadi makadam.

Beruntung sopir jip Suzuki Katana yang kami tumpangi cukup handal. Mereka sangat professional. Kamipun bisa sampai di puncak Kampung Pitu dengan selamat dalam waktu sekitar 35 menit. Kami bisa tadabur alam. Kami bisa pula menimba kearifan dari penduduk Kampung Pitu. Berikut foto mobil jip Suzuki Katana yang menjadi tumpangan kami ke Puncak Kampung Pitu pp.

Kopilimo, 2 Juni 2023:10.30

Ana Nadhya Abrar

Author: Ana Nadhya Abrar

Gagal menjadi jurnalis profesional, tapi berhasil meraih jabatan profesor jurnalisme. Itulah peruntungan hidup Prof. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., Ph.D. yang dikukuhkan sebagai guru besar Jurnalisme di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 10 Maret 2022. Di samping mengajar jurnalisme, dia juga rajin menulis. Selain ratusan artikel dan kolom untuk media massa, dia juga telah menulis dan menyunting puluhan buku. Penulisan biografi adalah spesialisasinya sebagaimana tergambar dari pidato pengukuhannya sebagai guru besar dengan judul “Menarik Garis Batas Jurnalisme dalam Penulisan Biografi”. -Hasril Caniago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *