Menjelajah Mahakarya Alam, Menemui Jiwa Merdeka

Apakah sebuah kekaguman pada telaga di atas awan akan melahirkan kerinduan pada telaga berikutnya? Pertanyaan itu berbisik pelan di benak saya, saat berdiri di tepi Embung Bansari, Temanggung, pada 9 Agustus 2026 pukul 09.30 pagi. Ini adalah kali kedua saya jatuh cinta pada pesona embung dan alam raya. Cinta pertama itu mekar beberapa bulan lalu, tepatnya 13 April 2026, saat saya terpaku menatap keindahan Embung Manajar yang memeluk pinggang Gunung Merbabu.

Saya tidak memiliki jawaban pastinya. Namun, semesta di Embung Bansari hari itu begitu magis. Udaranya murni tanpa noda, membawa hawa sejuk yang membelai sukma. Sejauh mata memandang, hamparan hijau kebun tembakau dan sayuran membentang bagai permadani alam. Di kejauhan, Gunung Sumbing berdiri dengan keanggunan yang kokoh. Di sisinya, Gunung Sindoro seolah melambai, berbisik jenaka mengajak kami mendaki puncaknya. Lebih jauh lagi, barisan sakral Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, dan Ungaran berjejer di cakrawala, melahirkan simfoni visual yang menawan jiwa.

Langkah kaki saya ke tempat ini sebenarnya bermula dari sebuah melodi. Pada Sabtu pagi, 8 Agustus 2026, saya menonton video musik legendaris “Akhir Cinta” karya Panbers. Visual video tersebut merekam perjalanan syahdu menuju Kledung demi menatap Gunung Sumbing. Terpikat oleh keindahan yang tertangkap layar, sebuah niat pun tumbuh. Saya lalu mengajak seluruh anggota keluarga untuk menelusuri jejak visual tersebut pada keesokan harinya, Minggu pagi.

Takdir di Warung Soto

Ketika roda perjalanan membawa kami tiba di Secang sekitar pukul tujuh pagi, kami memutuskan berhenti sejenak. Kami menikmati sarapan di sebuah warung hangat bernama Warung Soto Pak Dhe. Di sana, sang pemilik warung bertanya ramah kepada istri saya, Riska, tentang arah tujuan kami. Riska menjawab mantap, “Kledung.”

Namun, seulas senyum dan saran tulus mengubah segalanya. “Jangan ke Kledung, ke Embung Bansari saja. Pemandangannya jauh lebih indah,” ujar pemilik warung sembari memperlihatkan beberapa lembar foto keindahan Bansari.

Sebuah keajaiban kecil terjadi: Riska langsung terpikat, saya pun mengangguk setuju. Seluruh keluarga kemudian sepakat memutar kemudi menuju Embung Bansari.

Dua tanya kemudian mengusik kalbu. Mengapa dari sekian banyak tempat, kami harus sarapan di Warung Soto Pak Dhe? Mengapa pula kami begitu mudah melarutkan rencana awal demi mengikuti usul asing sang pemilik warung? Apakah ini sekadar kebetulan yang jenaka?

Saya adalah manusia yang tidak pernah percaya pada kebetulan. Bagi saya, setiap detik kehidupan adalah untaian aksara dari cerita yang sedang ditulis indah oleh Allah.

Birunya langit, hijaunya alam dan indahnya Embung Bansari.

Dalam keheningan di tepi embung, saya merenung. Saya memilih percaya, perjalanan kami menuju Embung Bansari hari ini telah diskenariokan oleh-Nya, tidak lama setelah kami digetarkan oleh keindahan Embung Manajar di Merbabu. Salahkah jika saya berprasangka baik pada takdir seperti ini Entahlah! Namun, getaran di dada saya terus membisikkan kebenaran itu.

Membuat memori baru di bawah gagahnya G. Sumbing bersama keluarga tercinta
Di antara kokohnya G. Sumbing dan birunya langit di atas Embung Bansari,ada kehangatan keluarga yang terasa melengkapi.

Mereguk Kenikmatan Alam Secara Optimal

Embung Bansari tidak lahir dari sebuah kebetulan di puncak bukit yang sunyi. Telaga buatan ini adalah buah cinta dan kerja keras warga Kampung Bansari yang bergotong royong memahat kaki Gunung Sindoro. Melalui tangan dingin Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Sembada, tempat ini disulap menjadi ruang bersandar yang nyaman bagi siapa saja yang merindukan keindahan. Di sini, setiap sudut menyajikan bentang alam yang melahirkan kenangan abadi. Membuktikan rekayasa manusia mampu bersanding mesra dengan keanggunan semesta.

Sebagai denyut nadi desa, BUMDes Tirta Sembada paham betul cara memuliakan para tamu yang datang. Mereka menyediakan pelataran parkir yang luas, area perkemahan dan ruang sakral musala berikut toiletnya yang terjaga kebersihannya. Tak jauh dari telaga, berdiri food court bertingkat dua; lantai dasar menjadi tempat mencecap kuliner hangat, sementara lantai atas menjadi panggung berswafoto dengan latar kemegahan Gunung Sumbing dan Sindoro. Dari saung-saung yang menghadap ke embung, pandangan mata bisa berkelana bebas ke cakrawala, menembus kabut tipis demi menyapa puncak Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, hingga Ungaran.

Melihat bagaimana desa bersungguh-sungguh merawat alam demi kesejahteraan warga, hati saya tergerak untuk ikut mereguk kemurnian di sekitar Gunung Sindoro secara utuh. Bersama istri dan kelima buah hati, kami memulai sebuah pendakian keluarga. Meski deru ojek bersiap mengantar hingga Pos 1, kami memilih jalan sunyi dengan berjalan kaki. Langkah demi langkah kami ayunkan bukan sekadar untuk membakar kalori, melainkan sebagai bentuk ziarah kecil untuk menyatu bersama alam.

Keputusan itu berbuah manis pada setiap jengkal tanah yang kami pijak. Di sepanjang jalan mendaki, mata kami dimanjakan oleh lukisan alam yang terhampar hijau di kanan dan kiri jalan. Kami menghirup napas kehidupan lewat udara pegunungan yang bersih sepuas-puasnya. Langkah kami bahkan membawa kami begitu dekat dengan hamparan kebun tembakau yang subur. Memberi kesempatan berharga untuk menyapa dan berbincang langsung dengan dua petani yang tengah memetik lembaran daun hijau kehidupan mereka.

Langkah demi langkah membawa kami menembus batas lelah, hingga 45 menit kemudian, kaki kami menapak di Pos 1. Di sini, di atas ketinggian 1.576 meter di atas permukaan laut (mdpl), kami berdiri tepat di separuh jalan menuju puncak abadi Sindoro yang menjulang 3.153 mdpl. Bagi sebagian orang, puncak adalah satu-satunya tujuan. Namun bagi kami, perjalanan ini memberi pelajaran berharga tentang kearifan: hidup bukanlah tentang memaksakan diri menaklukkan alam. Tetapi, tentang mengenali, menghormati, dan bersyukur atas batas kemampuan yang dianugerahkan kepada kita.

Di usia saya yang telah melewati angka 67 tahun, mencapai titik ini adalah sebuah kemenangan jiwa yang tak ternilai harganya. Saya memilih menyudahi pendakian di sini. Bukan karena menyerah, melainkan karena memahami kebahagiaan tidak selalu berada di tempat tertinggi. Bagi saya, seperti dinukil dalam Al-Qur’an, Surah At-Taubah, Ayat 7, kebahagiaan tertinggi sebagai ciptaan Allah adalah memperoleh ridha-Nya.

Pos 1 menjadi ruang edukasi nyata bagi anak-anak kami, mengajarkan mereka arti menghargai proses dan mencintai bumi dengan bersahaja. Di sisa waktu yang ada, kami mengalokasikan seluruh rasa untuk benar-benar menetap, menghirup kedamaian, dan mereguk keindahan alam Sindoro secara optimal. Kebeningan alam yang kami resapi dengan penuh syukur itu, kini abadi dalam deretan potret berikut:

Langkah kecil, cerita besar.Meniti jalur Sindoro bersama tim penjelajah tangguh kesayang keluarga.
Skenario Sang Pencipta yang membentang tanpa batas.Berdiri di sini, merasakan betapa kecilnyakita di hadapan keagungan semesta.
Langkah kaki boleh lelah,namun semangat untuk menjelajahi keagungan semesta tak pernah padam.

Merajut Silaturahmi di Tanah Ketitang

Usai jiwa ini dipuaskan oleh kemegahan alam, sebuah tanya mengapung di udara siang. Ke mana kaki harus melangkah selanjutnya? Langit baru menunjuk angka setengah dua, terlalu dini untuk menyudahi hari dan kembali ke Jogja. Namun, bertahan di Embung Bansari pun tak lagi ramah bagi anak-anak; raga kecil mereka telah lelah, terpanggang untaian sinar matahari sejak pagi mendera. Di antara bimbang yang menggelayut, sebuah petunjuk luhur menepis ragu.

Pesona alam rupanya membuka pintu berkah yang lain. Seketika, hati ini digerakkan oleh kerinduan untuk menyambung tali kasih, merajut kembali silaturahmi yang sempat berjarak. Ingatan saya terbang pada Sjafira Hasna (Hasna), lentera ilmu yang dahulu luhur menyelesaikan tesisnya di bawah bimbingan saya. Ingatan saya menerawang ke sebuah hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan Bukhari: siapa yang merindukan kelapangan rezeki dan umur yang berkah, hendaklah ia menjahit kembali jemari persaudaraan. Ia lantas menjadi kompas yang memantapkan langkah kami.

Kabar pun dikirim lewat udara. Bak gayung bersambut, Hasna membuka pintu hatinya dengan penuh suka cita. Sebuah titik koordinat dikirimkan—sebuah alamat di Ketitang, Kecamatan Jumo, Temanggung, tempat bernaungnya rumah masa kecilnya.

Tepat pukul dua siang, roda kendaraan mulai berputar meninggalkan Embung Bansari. Di bawah panduan peta digital, kami membelah hamparan bumi Temanggung. Sepanjang mata memandang, rona hijau sawah dan kelebatan hutan menari-nari, membasuh mata yang lelah. Rasa bahagia tumbuh subur di dalam dada, mekar bertangkai-tangkai mengiringi deru perjalanan.

Satu setengah jam berlalu, kami tiba di sebuah gerbang kehangatan. Di sanalah Pak Trijoko Untung Wiratno, sang ayah yang telah menginjak usia 64 tahun, berdiri menyambut kami. Tak berselang lama, senyum tulus sang ibunda turut melengkapi pertemuan itu. Tangan mereka terbuka lebar, memeluk kedatangan kami dengan kehangatan yang menjalar hingga ke sanubari. Kami pun dipersilakan masuk, tenggelam dalam kenyamanan sebuah rumah yang penuh berkah.

Di ruang tamu itu, untaian kisah mulai mengalir dari bibir Pak Joko. Beliau adalah pelopor, sarjana pertama yang lahir dari rahim Desa Ketitang. Meski mewarisi tanah dan rumah dari ayahnya yang dahulu seorang lurah, Pak Joko bukanlah pencari kemudahan. Garis hidupnya pernah melanglang buana ke tanah Aceh hingga Pekanbaru sebagai punggawa Bank BUMN. Namun, sebuah prinsip suci membuatnya berani mengambil jalan sunyi: pensiun dini demi menjaga diri dari noda riba.

Sore yang hangat di kediaman Pak Joko. Mendengar langsung kisah hidup sang manusia merdeka,sembari menikmati kebersamaan yang tulus dan bersahaja.

Di sela-sela petualangan hidupnya, Pak Joko menyelipkan kisah yang paling saya tunggu—rahasia seputar kebun kopinya. Kalimat demi kalimat beliau menjadi ruang kelas baru bagi saya yang bermimpi untuk memahami bahasa pohon kopi. Infor tentang bagaimana menanam dengan sabar, memetik dengan bijak, hingga meracik rasa yang memikat meluncur dengan deras. Siapa tahu, di masa depan, garis tangan saya juga akan menuntun saya menjadi seorang peladang kopi yang tangguh.

Pak Joko mengerti benar, melahirkan sebongkah rasa dari biji kopi bukanlah perkara mudah. Baginya, setiap butir hitam itu adalah taruhan keringat, waktu, dan tetesan materi yang tak sedikit. Namun uniknya, beliau tak pernah berniat menukar peluh itu dengan lembaran rupiah. Kopi-kopi yang telah rapi dalam dekapan kemasan itu ia layangkan begitu saja kepada siapa pun yang digerakkan hati nuraninya. Masya Allah. Dialah sang manusia merdeka—jiwa yang telah lepas dari belenggu nafsu duniawi dan jerat kebendaan. Ketika tekanan dunia telah menguap dari dadanya, yang tersisa hanyalah sebentuk pengabdian suci di hadapan Illahi.

Sebagai penutup perjumpaan yang indah, langkah kaki kami dituntun Pak Joko menuju hamparan kebun kopinya. Sambil memandang jajaran pohon yang menghijau, Pak Joko berbisik rendah, “Luasnya mungkin tak seberapa jika dibanding tegalan di Sumatra atau Sulawesi. Namun, untuk ukuran kampung ini, cukuplah kebun ini menjadi tempat bersyukur.” Sore itu, di Ketitang, kami tidak hanya membawa pulang cerita, tetapi juga sekeping kearifan yang tumbuh subur di sela-sela rimbunnya daun kopi.

Berdiri di tanah tempat ketulusan bertumbuh. Di sinilah Pak Joko merawat setiap jengkal pohon kopi,bukan demi memburu rupiah, melainkan untuk merawat jiwa merdekanya.

Demi mengabadikan ketulusan dan kehangatan yang merengkuh kami, potret bersama pun tercipta di sela-sela rimbunnya jajaran pohon kopi. Kelak, setiap kali mata ini menatap selembar kenangan tersebut, bayang kebaikan Pak Joko takkan pernah pudar dari ingatan. Beliau akan selalu hidup dalam memori saya sebagai sang penyulut lentera, pembawa secercah cahaya kecerahan dari sudut sunyi Ketitang.

***

Rejodani, 10 Agustus 2026

Ana Nadhya Abrar

Penghargaan Terhadap Sejarah Bisa Melahirkan Kreativitas

Segala puji bagi Allah Swt.

Inilah fotoku di depan air mancur kompleks Stadthuys Melaka pada 8 Juli 2025:

Tentu saja aku senang bisa kembali berfoto di sini. Ini menjadi kejutan (surprise) pertamaku di tahun ini. Betapa tidak, aku berencana berkunjung ke kompleks Stadthuys dan berfoto dengan latar belakang air mancur tersebut pada 2028. Rencana ini terdokumentasi pada Refleksi 2, 25 November 2023 berjudul Mempraktikkan Hidup Sederhana di dalam buku Refleksi Kritis Seorang Profesor Jurnalisme Yang Naif, Buku Pertama. Rencana itu kutulis ulang dalam Refleksi 49, 2 November 2024 berjudul Mengendalikan Diri di dalam buku Refleksi Kritis Seorang Profesor Jurnalisme Yang Naif, Buku Kedua. Dalam rencana yang terakhir ini, aku menulis sebagai berikut:

Berkunjung ke Melaka, Malaysia, dengan istri, pada 10 November 2028 dan berfoto di depan air mancur di kompleks Stadthuys (hal. 247).

Namun, Allah berkehendak lain. Dia memberiku kesempatan mewujudkan mimpi itu tiga tahun lebih awal, persisnya 8 Juli 2025. Aku terkesima. Aku menatap lama-lama air mancur itu. Kegembiraan melingkupiku. Bergegas aku berdiri di depan air mancur itu dan minta istriku, Riska, memotret diriku. Lalu jadilah foto seperti yang terdokumentasi di awal tulisan ini.

Persoalannya, mengapa aku harus berfoto di depan air mancur itu pada 2028? Jawabannya tertulis dalam Refleksi 2, 25 November 2023 berjudul Mempraktikkan Hidup Sederhana sebagai berikut:   

Dengan foto itu, aku punya foto diri di tempat yang sama sebanyak dua kali: 25 Maret 2018 dan 14 November 2023. Untuk  menghasilkan kedua foto itu, aku sudah merealisasikan sumber daya kulturalku. Kalau kemudian aku berniat berfoto di tempat yang sama lima tahun lagi, pada 2028, itu sebenarnya merupakan simbol usahaku untuk tetap hidup sehat secara fisik dan ekonomis. Dengan kesehatan yang prima, aku bisa merealisasikan sumber daya kulturalku dan tetap bersemangat untuk berkarya. Bukan sekadar untuk menciptakan romantisme kehidupan (hal. 16).

Penjelasan ini melahirkan pertanyaan berikutnya, mengapa harus Melaka? Mengapa tidak Auckland? Atau mengapa tidak Toronto? Jawabanku tegas: aku ingin menghargai sejarah perjuangan sultan dan rakyat Melaka melawan penjajahan. Mereka sudah berjuang melawan Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang yang pernah menduduki negeri mereka. Mereka tidak kenal lelah berjuang melawan pendudukan keempat negara itu. Mereka korbankan segala yang mereka punya, mulai harta benda, waktu sampai nyawa. Sungguh berat penderitaan mereka.

Maka aku ke Melaka dan berfoto di depan air mancur Stadthuys sebagai simbol penghargaanku terhadap perjuangan sultan dan rakyat Melaka menentang penjajahan. Bila diangkat ke tingkat yang lebih makro, itu merupakan simbol penghargaanku terhadap sejarah. Ada nilai-nilai luhur yang bisa dipetik dari sejarah. Nilai-nilai ini bisa direkonstruksi pada masa kini demi masa depan yang lebih baik. Wajar kalau aku berpendapat: penghargaan terhadap sejarah bisa melahirkan kreativitas.

Ambil contoh profesor. Yang mengangkat seorang dosen jadi profesor adalah Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek). Namun, pengangkatan itu bertolak dari kreativitas sang dosen. Kalau dia kreatif, tentu dia bisa memenuhi segala persyaratan menjadi profesor. Kalau tidak, dia tidak akan bisa menjadi profesor. Artinya, yang membedakan seorang dosen yang profesor dan tidak profesor adalah kreativitas.  

Kreativitas tumbuh sesuai dengan prosesnya. Ia butuh suasana yang kondusif untuk bisa berkembang. Salah satu suasana itu adalah penghargaan terhadap sejarah. Ketika seorang dosen ingat dengan sejarah lingkar awal dirinya, dia akan memiliki kesadaran tentang posisi dirinya. Dia akan berkata pada dirinya sendiri: saya berasal dari lingkungan intelektual, malu rasanya kalau tidak menjadi intelektual. Atau dia berkata: saya sudah berkorban banyak meninggalkan keluarga di kampung, malu rasanya kalau tidak sukses. Atau dia berkata: saya merupakan lulusan Universiti Malaya (UM), sebuah perguruan tinggi ternama di Asia Tenggara, malu rasanya kalau tidak punya karya yang bisa diandalkan. 

Maka penghargaan terhadap sejarah merupakan titik awal untuk menjadi kreatif. Dalam kaitan dengan diriku, kedatanganku ke Kampus UM pada 9 Juli 2025 merupakan simbol penghargaanku terhadap sejarahku berkuliah di UM. Lihatlah, aku melakukan napak tilas ke Faculty of Arts and Social Sciences (FASS), UM. Dari napak tilas ini, semoga aku selalu memiliki penghargaan yang tinggi terhadap sejarahku berkuliah di UM. Aamiin.

Tidak banyak lulusan UM yang menjadi profesor di UGM.  Yang kutahu, selain aku, ada Wakhid Slamet Ciptono dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Kendati hanya kami berdua, tentu kami tidak boleh larut saja di dalam kiprah alumni perguruan-perguruan tinggi yang lain. Kami perlu eksis juga di tengah puluhan alumni perguruan tinggi luar negeri lainnya. Tegasnya, kami tidak boleh mempermalukan UM.

Sebagai dokumentasi napak tilas itu, aku berfoto di Kampus FASS, UM seperti ini:

Di kampus inilah aku berkuliah S-3 pada 2005-2010

Untuk menambah kesadaran tentang sejarah perkuliahanku di UM, aku pasang juga foto Riska (istriku), Azalia (anak kelimaku), dan Aileen (anak keenamku) seperti berikut:

Sekarang Azalia dan Aileen berfoto di sini.
Siapa tahu suatu saat kelak mereka berkuliah di UM.
Riska, Azalia, dan Aileen berfoto di taman sebelum pintu masuk UM
Proses transfer dan konstrruksi ilmu pengetahuan di kampus ini tak pernah berhenti. Semoga kelak Azalia dan Aileen juga tidak pernah berhenti mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.

Tentu saja aku tidak mengajak Riska, Azalia dan Aileen hanya untuk menemaniku napak tilas ke UM. Aku juga mengajak mereka berwisata sejarah ke Melaka. Di sana, mereka juga berfoto seperti ini:

 Agaknya Riska, Azalia dan Aileen senang bisa berkunjung ke Melaka

Kecuali itu, aku sempat pula berfoto bersama Azalia dan Aileen di Melaka seperti berikut:

Sayang sekali ketika sampai di sini museumnya sudah tutup
Berfoto bertiga beranak di depan pintu masuk Museum Sejarah dan Etnografi Melaka
Apakah hard rock cafe Melaka ini masih eksis sepuluh tahun lagi?
Kalaupun tidak, kami sudah pernah berfoto di halaman depannya.
Di Melaka juga ada “walk”, namanya jonker walk.
Azalia, Aileen dan Aku sempat berfoto di bawah gapura Jonker Walk

Bagiku berfoto bersama Azalia dan Aileen tidak sekadar untuk membuat dokumentasi. Tetapi juga untuk menunjukkan betapa sayangnya aku kepada mereka. Aku ingin mereka mengerti menimba pengalaman sebanyak-banyaknya dari kunjungan kami ke Kuala Lumpur dan sekitarnya akan bermanfaat untuk pengembangan dirinya. Aku ingin mereka paham aku tidak keberatan membelanjakan uang dan membuang waktu demi kebaikan mereka.  

Kalau Azalia dan Aileen pulang dan sampai di Jogja kelak, mereka bisa melihat foto itu kembali dan memaknai sesuai dengan kemampuannya. Mereka juga bisa membaca tulisan ini dan mengembarakan pikirannya tentang apa yang sudah mereka lakukan. Akhirnya, mereka merasa bersyukur memperoleh kebahagiaan yang tidak dimiliki semua kawan sebayanya.

Tidak lengkap rasanya kebahagiaan Azalia dan Aileen berkunjung ke Malaysia bila mereka tidak berkunjung ke Genting Highlands. Profil singkatnya tertulis dalam Wikipedia sebagai berikut:

Dataran Tinggi Genting atau Genting Highlands (2000 m di atas muka laut) adalah puncak gunung dari pegunungan Titiwangsa di Malaysia serta menjadi tempat resort terkenal dengan nama yang sama. Berada di perbatasan negara bagian Pahang dan Selangor, tempat ini dapat dicapai dengan satu jam berkendara roda empat dari Kuala Lumpur atau melalui kereta gantung Genting Skyway yang saat ini merupakan yang tercepat di dunia dan terpanjang di Asia Tenggara).

Genting Highlands didirikan oleh Lim Goh Tong dari FujianCina, pada awal tahun 1960-an. Sejak itu, Genting Highlands berkembang pesat dan menghasilkan perusahaan-perusahaan lainnya di bawah Genting Bhd, seperti perusahaan kertas, stasiun pembangkit tenaga listrik, perusahaan perkebunan, perumahan, perusahaan minyak, kapal pesiar, dan lain – lain.

Kini Genting memperoleh julukan Las Vegas-nya Malaysia. Dari julukan ini bisa dibayangkan Genting sudah menjadi tempat memperoleh kesenangan dunia. Secara praktis, menyenangkan diri sendiri belum tentu menghasilkan kebahagiaan. Soalnya, semua bentuk kegiatan yang menyenangkan diri sendiri hanya mendatangkan kebahagiaan di dunia saja. Ia tidak akan bertahan lama. Ia juga tidak akan berdampak untuk kebahagiaan akhirat.

 Lalu bagaimana cara memperoleh kebahagiaan hakiki? Kebahagiaan hakiki yang dimaksud adalah bahagia di dunia dan akhirat. Untuk mencapai ini, kita mesti melakukan penanaman modal akhirat. Kecuali itu kita berdoa sesuai dengan yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an, Surah Al Baqarah, Ayat 201:

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.

Maka kami berkunjung ke Genting pada 10 Juli 2025 hanya sekadar untuk menyenangkan diri sesaat saja. Kami ingin melihat bagaimana orang menyenangkan diri dengan semua fasilitas hiburan yang ada di situ. Kami sudah akan merasa senang melihat orang lain memperoleh kesenangan. Namun, aku memberikan kesempatan kepada Azalia dan Aileen untuk menaiki gondola. Dari gondola ini mereka bisa melihat pemandangan yang indah ke pegunungan di kejauhan dan hutan yang dilewati gondola.

Pemandangan itu terekam dalam foto-foto berikut:

Riska, Azalia dan Aileen ketika berada di dalam Skyway. Mereka sangat menikmati perjalanan menuju Genting. Udara yang dingin dan pemandangan yang indah, membuat mereka happy.
Betapa indahnya pemandangan alam yang kami saksikan dari atas gondola
Aileen sempat memotretku di atas gondala.

Kecuali itu, aku dan Riska sempat juga berfoto dengan latar belakang “Sky Casino” seperti ini:

Usai menyenangkan diri sesaat di Genting, kami pulang ke Kuala Lumpur naik bus. Kami langsung menuju penginapan. Kami hanya bisa mandi dan salat maghrib. Soalnya, jam 8 malam kami akan dijemput oleh dosen pembimbingku ketika menulis disertasi di UM, Prof. Hamedi Mohd. Adnan (Pak Hamedi)

Seperti biasa, menjelang kepulanganku ke Jogja, Pak Hamedi selalu mentraktirku makan. Malam ini dia mentraktirku makan malam karena besok aku sekeluarga akan pulang ke Jogja. Namun, ada perbedaan suasana dalam kesempatan dia mentraktirku malam ini. Kali ini dia dikawani oleh istrinya. Ini menciptakan suasana penuh kekeluargaan.

Ketika makan malam, aku mengobrol dengan Pak Hamedi soal perkembangan politik mutakhir Malaysia dan rencananya setelah pensiun sebagai dosen UM. Sementara Riska mengobrol dengan istri Pak Hamedi dengan hangat. Lalu bagaimana Azalia dan Aileen? Mereka hanya menjadi pendengar yang baik saja.

Agaknya kami menghabiskan waktu 1,5 jam menikmati makan malam dan mengobrol. Aku merasa nyaman. Soalnya, Pak Hamedi tampil biasa-biasa saja. Dia tidak tampil dengan pencitraan sebagai mantan dosen pembimbingku. Sebaliknya, dia malah tampil ibarat kawan lama yang sudah lama tidak berjumpa. Mengobrolnya enak. Kalau tidak ingat waktu, rasanya aku akan terus saja mengobrol dengannya.

Maka perpisahan dengan Pak Hamedi di serambi penginapan kami dilingkupi kesedihan. Aku tidak sanggup menatapnya lama-lama. Aku khawatir menangis. Terlampau banyak kebaikannya yang tercurah padaku. Kebaikan itu tidak hanya kuperolah ketika aku menjadi mahasiswa bimbingannya menulis disertasi. Setelah aku menjadi profesor pun, dia tetap berbuat baik padaku. Dia juga mengajak diriku menguji disertasi mahasiswa bimbingannya, mulai dari Li Jianmo, Shafinaz Binti Ahmad Shaharir, Muhamad Gibraltar, Puteri Wahyuni, Li Jingfang sampai Ghozian Aulia Pradhana.

Cepat-cepat aku mengulurkan tanganku sembari mengucapkan banyak terima kasih. Tanpa pertolongan Pak Hamedi, mustahil aku menjadi doktor jurnalisme, kataku dalam hati.

Pak Hamedi menerima uluran tanganku sembari tersenyum. Dia menatapku senang. Aku terharu. Aku berharap suatu suatu saat bisa berjumpa dia lagi. Aku juga berdoa, semoga Allah senantiasa merahmati Pak Hamedi sekeluarga. Aamiin.

Ketika mobil Pak Hamedi meninggalkan halaman penginapan kami, aku masih terpaku. Aku mengawasi mobilnya sampai hilang dari pandanganku. Dari arah pintu masuk penginapan, terdengar Azalia memanggilku. Dia minta aku segera masuk. Aku tersentak. Aku berjalan gontai menuju pintu masuk penginapan.

Saat berada di kamar, aku segera membuka cendera mata yang dititipkan kepada Riska oleh istri Pak Hamedi. Isinya macam-macam, mulai dari sambel, kue kering, permen hingga plakat. Masya Allah. Pak Hamedi dan istrinya layaknya orang tua buat anak-anakku. Sungguh mulia hati mereka. Apakah mungkin terbalas olehku kebaikan mereka kepadaku sekeluarga? Entahlah! Malam ini benar-benar malam yang menegaskan hubungan yang baik antara Pak Hamedi sekeluarga dan aku sekeluarga. Hubungan ini terasa sangat akrab, bahkan mesra. Ya, aku merasa tali silaturahim kami makin erat. Aku merasa plakat seperti tersaji di bawah ini merupakan simbol keinginan Pak Hamedi agar aku tidak memalukan UM. Aku akan penuhi pesan Pak Hamedi dengan segala kemampuanku, kataku dalam hati.

Kalau dikaitkan dengan ketentuan Allah yang membimbimbingku mengunjungi Melaka pada 8 Juli 2025, hikmahnya adalah agar aku bisa membentuk kesadaran tentang betapa besarnya peran Pak Hamedi dalam membimbingku menjadi manusia. Dia tidak hanya membimbingku menjadi doktor jurnalisme, tetapi juga mengajariku tentang humanisme. Aku benar-benar memperoleh pembelajaran yang lengkap dari kunjunganku sekeluarga ke Kuala Lumpur dan sekitarnya pada 7-11 Juli 2025. Berbarengan dengan itu, aku berjanji kepada diriku sendiri untuk datang kembali ke Malaysia pada Juli 2030. Di samping akan menjumpai Pak Hamedi tentu saja aku akan berfoto dengan latar belakang air mancur di Stadthujs.

Ana Nadhya Abrar

Referensi

Abrar, A.N. (2024). Refleksi Kritis Seorang Profesor Jurnalisme Yang Naif, buku pertama. Yogyakarta.

Abrar, A.N. (2025). Refleksi Kritis Seorang Profesor Jurnalisme Yang Naif, buku kedua. Yogyakarta.

Al-Qur’an.

Internet: https://id.wikipedia.org/wiki/Genting_Highlands#