Ke Titik Nol Barus Menimba Kepuasan

Seorang bocah Bernama Aileen Arshya Abrar berfoto dengan latar belakang titik nol Barus. Tentu dia tidak mengerti makna tetenger itu. Dia juga akan segera lupa pernah berfoto disitu. Namun, apakah kita juga akan bersikap seperti Aileen?

Seorang bocah Bernama Aileen Arshya Abrar berfoto dengan latar belakang titik nol Barus. Tentu dia tidak mengerti makna tetenger itu. Dia juga akan segera lupa pernah berfoto disitu. Namun, apakah kita juga akan bersikap seperti Aileen?

Mungkin saja ada orang yang hanya menganggap tetenger itu sebagai tanda untuk memperingati sesuatu peristiwa biasa saja. Ada juga orang yang bertanya-tanya tentang apa persisnya peristiwa itu. Ada pula orang yang menganggap sebagai obyek kunjungan wisata biasa saja. Semuanya tentu sah saja.

Namun, bagiku titik nol Barus tidak sekadar obyek kunjungan wisata. Ia merupakan tempat menimba pengetahuan. Pengetahuan tentang sejarah, di tempat inilah Islam pertama kali masuk ke Indonesia. Ini ditunjukkan oleh prasasti yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo berikut:

Prasasti ini menunjukkan, Barus merupakan awal masuknya Islam ke Indonesia. Ketika itu, yang ada hanya Islam. Belum ada “Islam Nusantara”. Kata “Nusantara” itu agaknya untuk mengingatkan kita, istilah “Islam Nusantara” lahir pada saat Joko Widodo menjadi Presiden. Yakinlah Pak Presiden, sejarah sudah mencatatnya, kataku dalam hati.

Sampai di sini tentu tentu muncul pertanyaan, di mana sih Barus itu? Mengapa Barus disebut sebagai titik nol Islam di nusantara? Sesungguhnya Barus merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatra Utara. Ia terletak di Pantai Barat Sumatra, dengan ketinggian 0-3 m di atas permukaan laut.

 Menjadi daerah pertama di Indonesia yang menerima Islam memberi peluang kepada Barus untuk membentuk sebuah peradaban baru. Konon Barus menjadi sebuah kota emporium dan menjadi pusat peradaban pada abad 1-17 Masehi. Namun, ketika itu Barus lebih popular disebut Fansur.

Barus sekarang masih terletak di pinggir laut. Masuk akal bila dulu Barus merupakan pelabuhan internasional. Ia disinggahi oleh berbagai pedagang dari berbagai etnis yang berasal dari berbagai negeri di belahan dunia. Untuk apa? Untuk mendapatkan rempah-rempah dan kapur barus.

Kapur barus memang berasal dari Barus. Ia dihasilkan dari sebuah pohon kamper (dryobalanops camphora), tumbuhan khas Nusantara. Pohon ini berperawakan besar dengan diameter batang berkisar 70 sentimeter. Tingginya bisa mencapai 62 meter.

Konon orang Yunani sudah mengenal Barus sejak abad kedua Masehi. Mereka mengenalnya sebagai bandar niaga bernama Baraosai. Namun, yang diperjual-belikan di sana tetap saja bahan wewangian dan kapur barus.

Saat itu kapur barus menjadi komoditas yang sangat berharga. Konon Marco Polo pernah mengatakan, harga kapur barus semahal emas dengan berat yang sama. Wajar bila kemudian banyak pedagang asing yang mendatangi Barus. Mereka berasal dari Eropa dan Timur Tengah.

Rupanya pedagang asing dari Timur Tengah tidak hanya sekadar membeli rempah-rempah dan kapur barus di Barus. Mereka juga menyebarkan agama Islam. Apa buktinya?

Menurut Detikcom, 5 September 2023, terdapat beberapa bukti arkeologis yang menunjukkan bahwa Barus merupakan kota Islam pertama di Indonesia. Apa saja buktinya?

Pertama, terdapat nisan makam tua di kompleks pemakaman Mahligai, Barus yang salah satunya bertuliskan Syekh Rukunuddin yang wafat pada 672 M/46 H. Kedua, terdapat makam Islam tua di 11 Kota Barus, salah satunya makam Syekh Machmudsyah di Bukit Papan Tinggi yang wafat pada 440 H. Didorong oleh keingintahuanku pada bukti arkelologis yang kedua, aku sempat mengunjungi Bukit Papan Tinggi dan makam Syekh Machmudsyah. Ini dia papan penunjuk nama Bukit Papan Tinggi di desa Pananggahan itu:

Aku sempatkan juga menaiki tangga yang tersedia. Setidaknya terdapat 720 anak tangga yang harus kunaiki untuk mencapai makan Syekh Machmudsyah. Sesampainya di area makam, aku melihat pemandangan seperti ini:

Makamnya panjang. Sekitar 4,5 meter. Muncul pertanyaan dalam pikirkanku, kok sepanjang itu ya? Apakah memang Syekh Machmudsyah setinggi itu?  Aku yakin, tidak. Tapi mengapa makamnya sepanjang itu, tanyaku lagi. Entahlah!

Yang jelas makam itu terawat. Berarti ada yang merawat. Siapa yang merawat? Apakah dia masih keturunan Syekh Machmudsyah? Kecuali itu, muncul juga pertanyaan lain, bagaimana cara membawa mayat Syekh Machmudsyah ke atas bukit yang tingginya sekitar 350 m itu?

Beredar berbagai informasi sebagai jawaban pertanyaan di atas. Namun, jawaban itu tidak mendapat konfirmasi positif. Ia lebih banyak diselubungi kabut mitos dan legenda. Maka, pertanyaan itu tetap menjadi pertanyaan.

Keberadaan bukti arkeologis Barus sebagai kota pertama Islam di Indonesia bisa jadi sudah ditulis dalam berbagai dokumen. Ia sudah menjelma sebagai fakta sosial yang obyektif. Kalau tidak, mustahil Presiden Joko Widodo menandatangani prasasti Kilometer “0” peradaban Islam di Indonesia.

Idealnya cerita tentang peradaban Islam, kebudayaan yang dikembangkannya, daulat masyarakat sebagai pedagang waktu itu bisa  menjadi perspektif renungan yang segar dan tajam di masa kini. Namun, kita tidak lagi mendengar kisah-kisah yang menarik tentang masa itu. Kita tidak lagi mendengar gagasan tentang kaitan masa lalu itu dengan masa sekarang dan masa depan peradaban Islam. Kita tidak mendengar perbincangan di kalangan generasi milenal, generasi y dan generasi z tentang peradaban Islam. Tidak muncul refleksi yang bisa mereka jadikan pegangan untuk membentuk peradaban Islam yang cocok untuk Indonesia sekarang.

Apakah ini berarti bahwa kita tidak lagi peduli dengan sejarah peradaban Islam di Indonesia? Entahlah! Yang jelas, bagiku pribadi, kedatanganku ke Barus tidak sebatas melanglangbuana ke masa lampau dan mengembarakan pikiran ke masa depan yang tidak jelas. Ia mendidikku untuk menimba kepedulian terhadap sejarah peradaban Islam. Agar bisa memperoleh makna yang hakiki untuk dihadirkan pada masa sekarang.

Itulah hasil penting dari kunjunganku ke Barus. Aku memulai perjalanan dari Medan menggunakan kendaraan pribadi ditemani oleh beberapa anggota keluarga besarku. Namun, kami tidak langsung menuju Barus. Kami mampir dulu di Sibolga dan menginap di sini. Besok paginya, barulah kami berangkat ke Barus. Kami butuh dua jam untuk mencapai Barus dari Sibolga. Sebagian perjalanan kami menelusuri pantai yang indah. Perjalanan terasa sangat menyenangkan. Keletihan berkendaraan dari Medan ke Sibolga kemarin terbayar oleh keindahan alam yang kami saksikan. Untuk mencapai Pananggahan dari Barus kami butuh waktu 30 menit. Aku beruntung bisa mancapai makam Syekh Machmudsyah. Dari sini aku bisa dengan bebas melemparkan pandangan ke berbagai arah. Namun, kemana pun arah pandangan itu, ia akan bertemu dengan keindahan alam yang menyejukkan mata. Ini salah satu contohnya:

Keletihan menaiki tangga yang curam segera berganti dengan kepuasan menikmati keindahan alam dan suasana yang tenang. Kebahagiaan segera melingkupi diriku. Hatiku terasa tenteram.  Maka perjalanan ke Barus mendatangkan kepuasan yang beragam, mulai dari kepuasan intelektual, kepuasan batin dan bahkan kepuasan mata. ***

Sibolga, 19 Desember 2023

Pentingnya Prakarsa

Generasi muda suku Bajo sebenarnya bisa bebas, kalau ingin hidup di darat. Namun, sebagian besar yang tinggal di Desa Mantigola, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, menolak. Bagi mereka, tinggal di darat sama halnya dengan mengkhianati leluhurnya. Dengan sikap seperti itu, mereka tetap tinggal di laut dangkal. Mereka memaksimalkan laut sebagai arena kehidupannya. Mereka memanfaatkan batu karang dan kayu bakau (mangrove) untuk membangun rumah.

Foto 1 menunjukkan, desa Mantigola memang terpisah jauh dari daratan. Untuk bisa mencapainya, hanya ada satu jalan. Jalan itu terbentang di atas laut. Belum beraspal. Lebarnya hanya pas untuk dilewati satu mobil saja. Panjangnya sekitar 700 m. Ujung jalan itu disambung dengan jembatan yang terbuat dari kayu. Jembatan ini bercabang ke berbagai arah, sesuai dengan lokasi rumah yang ada.

Foto 1

Bisa dibayangkan betapa repotnya warga Mantigola kalau harus pergi ke darat. Namun, mereka tidak pernah mengeluh. Mereka terima saja kenyataan itu dengan ridha. Bersamaan dengan itu, mereka asah kemampuannya untuk bisa membangun kampung yang nyaman untuk ditempati.

Orang-orang yang sempat mengenal Suku Bajo akan menganggap mereka mustahil bisa hidup di laut tanpa memiliki prakarsa. Lalu, dari mana mereka menimba prakarasa itu? Bukankah secara tradisional tidak banyak warga Bajo yang sekolah di darat? Apakah mereka hanya belajar dari laut saja?

Ternyata mereka menimba prakarsa itu dari tradisi yang diciptakan oleh pendahulu mereka. Pendahulu mereka adalah nelayan tulen. Kini, penduduk Mantigola, kata Lafasa, penanggungjawab seksi pengelolaan Taman Nasional Wakatobi (TNW), hampir semuanya nelayan tradisional. Akibatnya, mereka bergantung pada ketersediaan sumber daya di perairan empat pulau yang membentuk istilah Wakatobi–Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko.

Sebagai nelayan tradisional, penduduk desa Mantigola, kata Nurdin, sang kepala desa, masih mempertahankan tradisi. Mereka menggunakan alat tangkap sederhana (seperti terlihat dalam Foto 2). Mereka juga menggunakan panah tradisional atau tombak tembak. Namun, mereka tidak menggunakan bom dan bius ikan. Dengan demikian, kata Lafasa, pemanfaatan sumber daya laut di Mantigola masih terkendali.

Foto 2

Kendati begitu, Lafasa mensinyalir, ada ajakan suku Bajo dari daerah lain, misalnya Kendari, untuk menggunakan alat tangkap yang merusak lingkungan. Mereka bahkan memberikan fasilitas yang lebih baik, tambah Lafasa. Ini jelas sangat menggoda. Maka, perhatian pemerintah sangat penting untuk mencegahnya.

Rupanya, pemerintah sudah lama menyadari keadaan ini. Melalui TNW, pemerintah memberdayakan masyarakat Mantigola. Misalnya melalui program kemitraan konservasi. Memang tidak semua program berjalan lancar. Yang lancar, antara lain: bantuan usaha ekonomi, pengadaan keramba budidaya, dan pengadaan bibit budidaya. Untuk melakukan semua, itu TNW mengadakan pelatihan dan pendampingan untuk masyarakat Mantigola. Ini sudah berlangsung sejak 2018, tambah Lafasa.

Agaknya perkembangan ini bisa menjadi jaminan, pengunjung akan tetap merasa nyaman berkunjung ke Mantigola. Mereka akan tetap bisa menikmati keindahan alam Mantigola yang cantik seperti dalam Foto 3 dan Foto 4 ini:

Foto 3

Foto 4

Bila dibandingkan dengan rumah di atas air di luar negeri, misalnya, di Thousand Islands, Sungai Saint Lawrence, di perbatasan Amerika Serikat-Kanada (Foto 5), rumah warga Bajo di Mantigola ini mungkin kalah indah. Namun, usaha mereka untuk membangun rumah di laut dan tinggal di sana seumur hidup, perlu diacungi jempol. Mereka sangat bersemangat membangun kehidupan di laut. Mereka layak disebut pionir.

Foto 5

Rumah warga Bajo di Mantigola bukan rumah peristirahatan. Rumah itu merupakan tempat tinggal mereka sehari-hari. Rumah itu menjadi pusat pertumbuhan keluarga. Untuk mengadakan kegiatan di luar rumah, warga Mantigola menggunakan perahu, yang disebut bodi batang (Foto 6). Mereka juga menggunakannya untuk mencari ikan dan teripang. Untuk yang terakhir ini, perjalanannya cukup jauh. Kami mencari teripang sampai ke Kupang bahkan masuk ke perairan Australia, kata Nurdin.

Foto 6

Melihat bodi batang di atas, sekalipun menggunakan mesin Yanmar 35 PK, tetap saja terlihat sederhana. Namun, Ketika dikendalikan oleh nelayan Mantigola, daya jelajahnya jauh. Tanpa cadik dan tanpa alat penunjuk arah yang memadai, mereka bisa berkelana di laut. Kami hanya mengandalkan posisi bintang, tambah Nurdin.

Kecuali sebagai penjelajah laut, nelayan Mantigola, juga penyelam handal. Konon mereka bisa menyelam hingga kedalaman hingga 30 meter di bawah permukaan laut hanya dengan satu tarikan napas.

Sampai di sini tentu muncul pertanyaan, apakah warga Mantigola tidak tersentuh modernisme? Masyarakat Mantigola sudah menggunakan telepon pintar. Sinyal telepon di sini stabil. Tidak heran mereka terbiasa dengan YouTube dan media sosial yang lain. Hebatnya, mereka malah mengkonversi perkembangan teknologi media itu menjadi semangat untuk memperbaiki kehidupannya.

Generasi muda Mantigola juga sudah mulai berkuliah di perguruan tinggi. Setidaknya sudah enam warga Mantigola yang menjadi sarjana. Saya merupakan calon sarjana ketujuh, kata Husna, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Baubau, putri kedua Nurdin.

Penting juga untuk ditulis, warga Mantigola mengakomadasi kehadiran kapital. Mereka tidak keberatan bekerja dengan juragan punya modal besar. Mereka megikuti aturan main yang sudah ditetapkan sang juragan. Namun, mereka tetap memelihara sakralitas hubungan dengan laut.

Mereka yang berhasil mmebangun akses dengan dunia luar Mantigola, bahkan sampai ke Wangi-Wangi, berhasil meningkatkan taraf hidup mereka. Ini terlihat dari rumah miliknya yang berbeda dengan rumah warga lain (Foto 7). Rumah ini sangat mencolok di antara rumah-rumah yang lain. Semua bagunan yang terlihat dalam foto itu sangat lazim ditemukan di darat. Namun, warga Mantigola membangunnya di laut dangkal.Mengangumkan!

Foto 7

Modernisme dan kapitalisme sangat dekat dengan warga Mantigola, rupanya. Warga sadar keduanya sangat penting dalam membangun kehidupan mereka. Mereka menjadikan keduanya sebagai sarana untuk memperbaiki hidupnya. Mereka tahu persis, kalau mereka pasif dan tak punya prakarsa, mereka akan dilindas oleh keduanya. Namun, mereka juga sangat sadar perlunya pengendalian diri. Lalu, apa yang mereka lakukan?

Beruntung semua warga Mantigola beragama Islam. Penghayatan terhadap ajaran Islam membantu mereka membantu mereka melawan gaya hidup hedon yang dibawa modernisme dan kapitalisme. Salah satu buktinya, ketika menyambut Hari Raya Idul Adha 1444 lalu, mereka beramai-ramai salai Idul Adha di masjid. Lihatlah Foto 8, yang mengabadikan warga Mantigola pulang ke rumah usai melaksanakan shalat Idul Adha.

Foto 8

Namun, cepatnya perubahan di zaman ini memaksa warga Mantigola untuk bertindak cepat. Apakah warga Mantigola memiliki prakarsa untuk mengikuti kecepatan itu? Melihat Foto 9, rasanya warga Mantigola memiliki prakarsa itu. Lihatlah, wajah Nurdin, kepala desa mereka (di sebelah kanan penulis), memancarkan optimisme. Seolah-olah menunjukkan kuatnya mentalnya dalam menghadapi cobaan yang dibawa modernisme dan kapitalisme. Maka, kita tidak perlu risau dengan perkembangan masyarakat Mantigola di masa mendatang.

Foto 9

***

Rejodani, 6 Agustus 2023

Bungkutoko-Pangulubelo: Penemuan Sebuah Keindahan

Pemandangan di atas terlihat 45 menit setelah kapal Jetliner berlayar meninggalkan pelabuhan Bungkutoko. Kapal ini tergolong Kapal Feri Cepat (KFC). Namun, ia bergerak pelan. Laut tenang. Matahari mulai terbenam. Angin bertiup lemah. Perjalanan menuju pelabuhan Pangulubelo di Wanci, menjadi menyenangkan. Saya pun bersyukur ke hadirat Allah Swt.

Tiba-tiba terdengar suara azan dari arah deck 3. Muncul ide, saya ingin melanjutkan rasa syukur itu. Saya bergegas menuju arah suara azan. Ternyata suara itu berasal dari sebuah mushala. Di sana sudah berkumpul beberapa penumpang. Saya masih punya wudhu. Tanpa berpikir panjang lagi, saya masuk mushala.

Saat berada di dalam mushala, saya mendengar takmir mushala memberi brifing kepada jemaah tentang pelaksanaan salat magrib. Karena kita dalam perjalanan, salat magribnya biasa. Setelah itu, kita salat Isya dua rakaat sebagai jamak takdim. Inilah bentuk pelayanan lain dari kapal. Wajar bila para penumpang merasa senang menumpang ini kalau ingin pergi ke pulau Wangi-Wangi.

KFC Jetliner yang setia melayari Kendari-Wanci pp.

Kapal mulai berjalan agak cepat. Namun, ini tidak mengurangi keinginan saya untuk menikmati keindahan alam di buritan. Saya bergegas ke sana. Saya berdiri santai memandang ke arah laut yang ditinggalkan kapal.

Saya pun menemukan pemandangan seperti ini:

Langit bersih. Sebuah bintang terlihat bersinar terang. Di bawahnya terlihat awan merona kemerahan. Di bawahnya lagi terlihat lampu dari sebuah pulau. Sedangkan air laut biru, memantulkan warna langit. Diantara yang berwarna biru, itu muncul air laut yang berwarna kecoklatan, sebagai jejak yang ditinggalkan kapal.

Inilah keindahan alam yang hanya bisa terlihat di laut. Keindahan yang menjadi dambaan setiap penikmat perjalanan. Keindahan yang membuat kita tersadar betapa indahnya alam ciptaan Allah. Namun, keindahan itu sering dirusak oleh manusia.

Kapal menembus kegelapan. Sepanjang jalan terlihat alunan ombak air laut tidak besar. Aneh. Bukankah ini musim timur? Dalam bayangan samar terlihat noktah-noktah putih di kejauhan. Ya, kapal semakin jauh meninggalkan daratan.

Saya menoleh ke samping saya. Terlihat beberapa penumpang berasyik-asyik dengan hp-nya. Ada juga yang terkantuk-kantuk. Mereka bersandar di dinding teras buritan. Namun, itu tidak membuat saya berhenti menikmati keindahan alam. Ini salah satu pemandangan yang saya saksikan.

Angin dingin menerpa saya, membawa uap laut. Namun, berbeda dengan angin laut dari samudera besar, angin laut di sini tidak ganas. Mungkin karena laut dilindungi oleh beberapa pulau. Saya pun tidak merasa khawatir akan kedinginan dan mabuk laut. Saya terus saja menikmati keindahan laut di atas.

Saya tidak menyangka akan menemukan pemandangan seperti ini. Sepulang dari ziarah di Masjid Al Alam di Kendari siang tadi, saya hanya membayangkan diri saya akan tidur saja selama di kapal. Lucu, tubuh saya yang pegal-pegal akibat kurang tidur semalam dan ziarah ke Masjid Al Alam, tiba-tiba terasa segar. Darah saya terasa mengalir hangat. Saya pun betah berlama-lama menikmati keindahan alam.

Masjid Al Alam di Kendari, Sulawesi Tenggara, yang dibangun di atas laut.

Pemandangan di sekitar kapal betul-betul menawarkan suasana yang damai dan santai. Saya jadi mengerti mengapa orang bersedia repot-repot menyewa kapal feri untuk melakukan perjalanan laut selama semalam atau dua malam. Pengalaman yang diperoleh akan menjadi pengalaman tidak terlupakan.

Keriangan yang saya rasakan mendadak sontak mendengar komentar seorang penumpang asal Wanci yang berdiri di samping kanan saya. Untung bapak berangkat malam. Kalau berangkat siang, bapak akan saksikan tanah di pulau sebelah itu sudah merah. Kering kerontang sebagai akibat penambangan nikel. Entah berapa tahun lagi tanah itu akan hijau, subur seperti semula.

Saya memandang ke arah yang ditunjukkan penumpang itu. Saya tidak melihat apa-apa, kecuali kelam. Gelap saja, kata saya.

Ya, katanya. Segelap hati kami orang Sultra. Kekayaan alam di sini dikeruk orang pusat dan pengusaha. Mereka kaya. Kami seperti ini saja. Hanya bisa menikmati kerusakan alam yang ditimbulkan penambangan nikel.

Saya gelagapan, tidak tahu harus bicara apa. Soalnya, saya tahu yang mengeluarkan Surat Izin Pertambangan (SIP) adalah pemerintah pusat. Pemberian SIP pun tidak transparan dan akuntabel. Berbekal SIP itulah, para pemiliknya mencari investor untuk menambang nikel.

Salah satu menara Masjid
Al Alam.

Memang ada investor daerah yang bersedia menambang. Namun, jumlahnya tidak banyak. Yang terbanyak justru investor dari luar negeri. Jamaknya investor ini, mereka tidak peduli dengan dampak negatif penambangan nikel. Mereka langgar saja Undang-Undang yang mewajibkan reboisasi di area bekas tambang. Mereka juga tidak transparan menyebutkan hasil turunan dari bongkahan batu yang mereka peroleh dari area pertambangan.

Turunannya macam-macam, Bapak. Ada emas dan uranium juga. Tapi yang disebutkan hanya nikel. Demikian komentar seorang bekas pekerja tambang di Sultra yang kini beralih jadi sopir taksi Bosowa di Kendari.

Kapal terus melaju. Di pelabuhan Pangulubelo saya akan turun untuk selanjutnya menuju Pulau Kaledupa. Di situ saya akan menyaksikan bagaimana kemajuan pembangunan di dua desa, Sombano dan Mantigola. Di Desa Mantigola, saya akan menyaksikan kehidupan sosial masyarakat bajo yang dikenal sebagai suku laut. Pengetahuan ini akan saya pakai untuk menilai hasil KKN mahasiswa di kedua desa itu. Sebagai dosen pembimbing mereka, saya harus punya pengetahuan yang memadai tentang kehidupan sosial di sana.

Saya tidak membiarkan pikiran saya dikuasai cerita tentang tambang nikel di Sulawesi Tenggara. Ada bagian dari cerita itu yang membuat saya jengkel. Kejengkelan itu kalau saya biarkan bersimaharajela akan membuat saya tidak bisa menikmati keindahan alam di perjalanan Bungkutoko-Pangulubelo.

Apakah perjalanan ini masih lama, kata saya mengalihkan pembicaraan. Sekitar jam 6 besok sampainya, jawabnya. Masih lama ya, kata saya sembari melihat jam tangan saya. Waktu menunjukkan pukul 21.00. Masih ada sekitar 9 jam lagi. Lalu, apa yang harus saya lakukan?

Saya masuk kapal, ruangan crew di deck 4. Pukul 22.00 saya  tidur, agar bisa terbangun sejam sebelum waktu subuh datang. Beruntung saya bisa mewujudkan keinginan itu. Usai salat subuh berjamaah di mushala kapal pada 27 Juni 2023, saya kembali ke buritan kapal. Tidak lama kapal berjalan, saya menyaksikan pemandangan ini:

Inilah Pulau Wangi-Wangi, sebagai pulau pertama dari singkatan Wakatobi (Wa=Wangi-Wangi atau Wanci, Ka=Kaledupa, To=Tomia, dan Bi=Binongko). Semua pulau di Wakatobi merupakan lokasi sempurna untuk menikmati keindahan bawah laut. Semuanya merupakan tempat yang pas buat pencinta pulau dan penyelam. Terumbu karangnya indah-indah. Kehidupan bawah lautnya pun beragam. Air lautnya jernih kehijauan. Hampir semua wisatawan yang berkunjung ke sini ingin menyelam menikmati keindahan alam bawah laut. Namun, wisatawan asing lebih tertarik untuk melakukan scuba diving atau snorkeling di Pulau Tomia.

Saya terpaku melihat keindahan yang diciptakan alam. Memang tidak terlihat matahari terbit. Namun, limpahan cahaya matahari pada alam sekitarnya membuat pemandangan ibarat lukisan. Lukisan alami. Saya tidak tahu harus berbicara apa, selain mengucapkan: Masya Allah. Indahnya alam ciptaan-Mu ya Allah. Tanpa terasa saya berdecak kagum.

Kapal seolah-olah mengerti dengan perasaan saya. Buktinya, kapal memperlambat kecepatannya. Saya pun bisa berlama-lama menikmati keindahan alam. Saya tidak tahu penumpang kapal yang lain. Yang jelas, saya benar-benar dipagut kebahagiaan menyaksikan Pulau Wangi-Wangi.

Bagaimanapun kapal memperlambat jalannya, tetap saja ia harus memasuki area Pelabuhan Pangulubelo. Ini pemandangan yang ditinggalkan kapal saat masuk Pelabuhan Pangulubelo:

Sudah terlihat hutan kecil yang terdapat di Pulau Wangi-Wangi. Air laut terlihat jernih berwarna kebiruan. Namun, dari dekat warnanya kehijauan. Suasananya terlihat tenang. Ada semburat warna oranye di kejauhan sebagai pantulan sinar matahari yang sudah mulai meninggi.

Saya tidak ingin kehilangan keindahan dan kedamaian ini. Namun, saya harus turun ke Pelabuhan Pangulubelo. Tiket kapal yang saya beli hanya sampai di sini. Saya harus menaklukkan diri saya sendiri. Soal ini saya teringat pesan penting Edmund Hillary, pendaki gunung asal Selandia Baru, yang menjadi penakluk pertama Mount Everest: It is not the mountain we conquer but ourselves. Ya, bukan gunung yang kita taklukkan, tapi diri kita sendiri.

Semboyan inilah sebenarnya yang dipraktikkan oleh para penikmat perjalanan. Berkat berjalan jauh, mereka bisa berlatih menaklukkan diri mereka sendiri. Apakah mereka benar-benar berhasil menaklukkan diri mereka sendiri? Entahlah! Yang jelas Indonesia membutuhkan pemimpin yang bisa menaklukkan dirinya sendiri.

***

Mantigola, 27 Juni 2023: 21.50

Tak Sekadar Tadabur Alam

Segala puji bagi Allah Swt.

Di musala itu hanya ada dua orang. Seorang laki-laki, dan yang lainnya perempuan. Sang perempuan itu menyambut kami dengan ramah. Dia menunjukkan kamar mandi dan tempat berwudhu. Usai berwudhu, dia masuk ke musala.

Kami berada di sana untuk salat subuh pada 2 Juni 2023. Kami mengikuti petunjuk yang diberikan. Usai berwudhu kami masuk musala dan menunaikan salat subuh. Usai salat subuh, sang imam menyapa kami. Dia lantas bercerita pajang lebar tentang Kampung Pitu, Padukuhan Nglanggeran Wetan, Kalurahan Nglanggeran, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunung Kidul. Ternyata dia bukan hanya imam musala, juga salah seorang sesepuh adat di Kampung Pitu.

Mengikuti silsilah Kampung Pitu, sang imam merupakan generasi ketiga dari awal berdirinya Kampung Pitu. Leluhurnya berasal dari Klaten.  Namun, ada yang lebih senior dari dirinya, yakni Yatnorejo, yang merupakan generasi kelima dari awal berdirinya Kampung Pitu. Yatnorejo kini membuka home stay di Kampung Pitu. Bagi yang ingin bermalam di Kampung Pitu, mereka bisa bermalam di home stay milik Atnorejo dan berbincang-bincang soal Kampung Pitu.

Kepada sang imam, kami mengungkapkan keinginan kami untuk menikmati matahari terbit di salah satu puncak gunung api purba yang berjarak sekitar 100 m dari musala. Dia mempersilakan kami. Tiba-tiba jamaah perempuan tadi berkata, Mau saya siapkan kopi? Nanti bisa saya antar ke puncak.

Membayangkan bisa menikmati kopi hangat di puncak sembari menyeruput kopi panas, tentu nikmat sekali. Kami pun setuju. Karena kami berdelapan, kami harus mengeja satu per satu keinginan anggota romobongan kami. Perempuan itu mendengarkan dengan saksama. Ternyata dia merupakan istri sang imam.

Sesampainya di puncak Kampung Pitu, kami lega. Pandangan kami lepas ke bawah. Lembah-lembah terlihat masih tidur. Di kejauhan kami melihat kelap-kelip cahaya lampu. Angi bertiup semilir.

Keindahan alam yang kami saksikan seolah-olah menjadi tangan Allah yang dijulurkan kepada saya. Saya segera menyambutnya seraya beucap, patuh dan setia kepada Allah. Dengan begitu, hati saya jadi tentram. Saya pun bisa mereguk kenikmati alam sepuas-puasnya.

Kami tidak percaya berada di puncak kampung dalam ketinggian 740 meter di atas permukaan laut. Soalnya, pemandangan ke bawah sangat dalam dan pemandangan jauh sangat lebar. Namun, menurut informasi, ketinggian puncak ini hanya 740 meter dari permukaan laut.

Memang saya hanya melihat keindahan alam. Namun, keindahan itu menghubungkan saya dengan Allah. Mendadak saya merasa hanyut terbawa gelombang menuju Allah. Terasa Allah hadir dn bergabung dengan saya. Maha Besar Engkau ya Allah. Sambil menunggu matahari terbit, kami pun berfoto untuk membuat kenangan: suatu saat kami pernah ke sini. Siapa tahu foto-foto ini bisa jadi inspirasi buat siapa saja yang membaca tulisan ini. Inilah foto-foto itu:

Kami kaget. Cuaca mendung. Lama menunggu, kami tidak kunjung menyaksikan matahari terbit. Kedua foto di atas menjadi buktinya. Keduanya menunjukkan hari sudah mulai siang. Matahari sudah terbit.

Namun, menjelang pukul 6 pagi, tiba-tiba kami lihat matahari muncul dari arah timur. Saya pun cepat-cepat berfoto dengan latar belakang matahari terbit itu. Inilah fotonya:

Sebelum itu, Saya sempatkan juga berfoto dengan anak-anak saya dan sahabat saya, Muhammad Supraja. Ini fotonya:

Setelah matahari agak meninggi, saya berfoto dengan istri dan anak-anak saya seperti ini:

Kami tidak menyesal tidak bisa melihat matahari terbit sejak awal. Semua foto di atas sudah menunjukkan kepuasan kami bisa berada di sini. Kecuali itu, kami merasa beruntung bisa berkunjung ke puncak Kampung Pitu. Kampung ini konon merupakan tanah bertuah. Di sini ada peraturan: hanya tujuh keluarga yang boleh tinggal di sana. Tak kurang, tak lebih. Konon pula, tak semua orang kuat atau sanggup tinggal di sana.

Kami juga memperoleh pelajaran dari kisah perjalanan Kampung Pitu. Soalnya, kisah itu menyebutkan:

Kampung Pitu berasal dari kakak beradik Iro Dikromo dan Tirtosari yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah.  Mereka bisa sampai ke Kampung Pitu karena berhasil memenangkan sayembara Kraton Jogja. Hadiahnya adalah: mereka bisa menempati lahan kosong dan berhak jadi penduduk kampung di sekitar Telaga Guyangan. Namun, mereka juga berkewajiban pohon pusaka bernama Kinah Gadung Wulung maka diperbolehkan tinggal di sana. Hanya kedua orang inilah yang bisa tinggal di sekitar telaga guyangan. Tempat mereka tinggal inilah yang kemudian diberi nama Kampung Pitu. Mengapa harus Kampung Pitu? Karena Iro Dikromo dan Tirtosari sudah berikrar: keturunan mereka kelak boleh tinggal di kampung itu sebanyak tujuh kepala keluarga. Tidak boleh lebih. Maka, setiap ada potensi penambahan kepala keluarga harus siap-siap pindah ke tempat lain. Masyarakat mematuhinya. Mereka malah menjadikannya sebagai tradisi yang harus dipatuhi sebagai bentuk penghargaan terhadap leluhur.

Kompas.com

Lihatlah betapa besarnya penghargaan mereka terhadap leluhur. Ini terasa logis. Leluhur sudah bersusah payah meninggalkan warisan buat anak keturunannya. Mereka telah mengembangkan imajinasi mereka tentang yang terbaik untuk untuk masa depan anak cucunya. Maka tidak ada pilihan lain buat anak keturunan Iro Dikromo dan Tirtosari selain memelihara tradisi yang ditinggalkannya.

Tidak mudah bagi kami bisa mencapai puncak Kampung Pitu ini. Satu-satunya akses jalan menuju ke kampung itu adalah lewat jalan semen yang diapit batuan andesit raksasa di kanan-kiri. Sepanjang jalan kami harus waspada karena kelokan yang berliku. Belum lagi tanjakan yang curam. Sudah begitu, kadang-kadang jalan semen tiba-tiba saja beralih jadi makadam.

Beruntung sopir jip Suzuki Katana yang kami tumpangi cukup handal. Mereka sangat professional. Kamipun bisa sampai di puncak Kampung Pitu dengan selamat dalam waktu sekitar 35 menit. Kami bisa tadabur alam. Kami bisa pula menimba kearifan dari penduduk Kampung Pitu. Berikut foto mobil jip Suzuki Katana yang menjadi tumpangan kami ke Puncak Kampung Pitu pp.

Kopilimo, 2 Juni 2023:10.30

Ana Nadhya Abrar

Suatu Hari di Pinggir Danau Ranau

Segala puji bagi Allah Swt.

“Sementara berpikir itu, ia terus berjalan di antara pohon kopi yang tinggi-tinggi. Dengan tiada diketahuinya tibalah ia di tepi danau yang lebar itu.

Matahari telah lama terbenam di balik pegunungan di sebelah timur, tetapi bayang-bayang cahayanya masih kelihatan jua di Gunung Seminung yang tinggi itu, sehingga puncaknya seperti bara yang menyala keungu-unguan rupanya. Rimba-rimba yang di lereng gunung itu telah hitam lembayung, diselubungi oleh cahayanya yang kabur dan gelap. Tetapi di langit mega-mega bertambah permai jua. Cahaya kuning yang gilang-gemilang itu makan lama makin suram, dan kesudahannya tampaklah sekalian awan bersusun-susun kemerah-merahan, laksana sutra yang tiada terperi halusnya. Perlahan-lahan warna keungu-unguan yang indah itu pun lenyap pula, diganti oleh warna lembayung yang bertambah lama bertambah gelap. Dan di balik selubung yang gelap itu timbullah perlahan-lahan bintang satu per satu, mula-mula takut berani, tetapi kesudahannya bersinar-sinar sebagai permata yang tiada ternilai harganya.

Batang-batang kayu, bukit dan gunung, sekaliannya menjadi satu, ya hitam belaka, tiada tentu corak dan warnanya.

Danau ranau yang besar itu tiada bergerak-gerak sedikit jua pun, seakan-akan sebuah cermin yang kabur dan gelap, yang membayangkan sekalian gambaran hitam sekelilingnya, penuh liku yang ganjil-ganjil.

Dari muka air yang tenang itu naiklah suatu cahaya yang gaib yang tak dapat dikaji. Cahaya itu membumbung ke atas, seakan-akan menyongsong sinar bintang dari langit.

Laki-laki yang berdiri di atas tebing itu pun memandang ke bawah, ke muka air yang bersinar kekabur-kaburan itu, dan lambat laun sentosa lah rasa hatinya seakan-akan cahaya muka air itu meresap ke dalam kalbunya membawa keteduhan tasik di tengah pegunungan yang kukuh-kuasa itu. Hilang sekalian penderitaan, lenyap tak tentu arahnya.”

Itulah bagian akhir dari novel Dian Yang Tak Kunjung Padam karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA), hal. 153-154, yang selalu kuingat. Dari ingatan itu, aku membayangkan Yasin (tokoh utama novel tersebut) saat itu berada di pinggir Danau Ranau. Dia bisa menikmati pemandangan ke Gunung Seminung. Dia mengalami kejadian spiritual yang mengejutkan. Begitu mengejutkannya, sehingga penderitaannya belasan tahun tidak bisa menikahi Molek jadi hilang. Dia pun jadi lega. Siap untuk menempuh kehidupan selanjutnya dengan penuh pengabdian kepada Allah.

Semua itu melahirkan pertanyaan dalam benakku, seperti apa persisnya Danau Ranau itu? Di sisi bagian mana danau terletak Gunung Seminung? Bisakah aku mengalami kejadiaan yang mengejutkan seperti yang dialami Yasin?

Semua pertanyaan itu mendorongku untuk berkunjung ke Danau Ranau. Aku ingin merasakan atmosfir Danau Ranau dan Gunung Seminung itu. Siapa tahu, aku beruntung dan mengalami kejadian spiritual di sana.             Kesimpulan ini mendorongku untuk bisa melihat dari dekat Danau Ranau dan Gunung Seminung. Kesadaran tentang keterbatasan diri mendorongku untuk berdoa kepada Allah agar memberiku kesempatan menikmati keindahan alam itu. Tidak terhitung berapa kali aku berdoa agar bisa ke sana. Doaku dikabulkan Allah pada 17 Desember 2022. Pagi hari, sekitar jam 11, aku menyaksikan Danau Ranau dan Gunung Seminung seperti ini:

Danau Ranau dengan latar belakang Gunung Seminung (Foto: Abrar)

Karena matahari senang naik, Gunung Seminung terlihat biru. Rimba-rimbanya juga terlihat biru. Namun, di antara warna biru, itu menyeruak warna putih. Itulah atap rumah penduduk di kaki gunung itu. Ternyata penduduk sudah banyak yang berumah di kaki Gunung Seminung.

Aku bersyukur kepada Allah. Alhamdulillahirabbila’lamin. Akhirnya aku sampai juga di sini. Aku membisu. Menikmati keindahan alam di depanku. Setelah itu aku menatap lama-lama hamparan Danau Ranau yang dikawal oleh Gunung Seminung.

***

Sebelum sampai di Danau Ranau, Alif dan aku sudah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Kami berangkat dari Yogyakarta menuju Jakarta pada 16 Desember 2022 jam 7 pagi naik pesawat. Sesampainya di Jakarta, kami transit dulu selama tiga jam. Jam 14 baru kami berangkat ke Bandar Lampung. Kami beruntung karena di bandara Raden Inten dijemput oleh seorang doktor akuntansi bernama Syamsu Rizal, dosen Universitas Bandar Lampung, menggunakan Kijang Innova 2017. Kami harus melewati tiga kabupaten sebelum sampai di Danau Ranau.

Syamsu belum bicara apa-apa sebelum kami sampai di RM Begadang 1, Bandar Lampung. Memang dia mengajukan beberapa pertanyaan. Namun, semua pertanyaan itu bak basa-basi saja. Betapa tidak, dia bertanya: bagaimana di perjalanan, Alif sudah terima rapor, sudah pernah ke Bandar Lampung?Aku menjawab seadanya: Perjalanan menyenangkan. Alif sudah meliburkan diri. Aku pernah ke Bandar Lampung tempat tahun lalu, persisnya 24 Oktober 2018. Waktu itu aku diundang memberikan ceramah tentang bagaimana menulis artikel di jurnal ilmiah oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah II.

Usai makan siang, barulah Syamsu menyampaikan gagasannya. Sekarang kita langsung saja berangkat menuju Liwa. Di Liwa kita menginap. Besok paginya baru kita ke Ranau, katanya.

Aku setuju saja. Berada di samping seorang laki-laki gempal asal Mandiangin, Bukittinggi, yang sudah 36 tahun berdomisili di Bandar Lampung, aku percaya dia akan membawaku ke Danau Ranau lewat jalan yang menyenangkan. Apalagi dia sudah pernah berkunjung ke Danau Ranau. OK, balasku.

Maka berangkat lah kami dari Bandar Lampung sekitar pukul 15.30. Kata Syamsu, perjalanan Bandar Lampung-Liwa sekitar 250 km akan ditempuh dalam waktu 6-7 jam. Aku manut saja. Aku merasa sudah menyerahkan perjalanan ke Danau Ranau kepada yang ahlinya.

Seperti biasa, aku senang bisa melakukan perjalanan. Hatiku gembira menikmati keindahan alam. Sekalipun hujan turun ketika kami memasuki jalan tol, aku senang-senang saja. Kulihat daerah Lampung ini memang luas, namun datar saja. Karena luasnya itu, di kiri-kanan kami terhampar banyak perkebunan. Terutama perkebunan pisang dan singkong. Lampung mengirimkan hasil pisang dan singkongnya ke Jawa, kata Syamsu.

Di perjalanan, kami antara lain melewati Bandar Jaya, Kota Bumi dan Bukit Kemuning. Bandar Jaya termasuk Lampung Tengah. Memang Bandar Jaya sebuah kecamatan saja. Namun, posisinya sangat strategis karena menjadi daerah transit kendaraan yang melintasi Jalan Raya Lintas Sumatra dan Jalan Tol Bakauheni-Bandar Lampung-Terbanggi Besar.

Sedangkan Kota Bumi merupakan ibu kota Lampung Utara. Ia sudah sejak zaman penjajahan Belanda dulu. Konon di sini masih terdapat penduduk asli yang disebut Lampung Abung Nyunyai (Abung Siwo Migo). Keberadaan suku ini disimbolkan oleh Tugu Payan Emas yang dalam bahasa Lampung Abung artinya Tombak Emas yang terletak di pusat kota.

Sudah agak lama berjalan, kami sampai di Bukit Kemuning, yang juga termasuk Lampung Utara. Tidak jauh dari Bukit Kemuning, terdapat sebuah air terjun Curup Waras. Ini penampakannya:

Air Terjun Curup Waras (foto: Alib M)

Lazimnya air terjun, di sini kita bisa menawarkan pemandangan indah. Terdengar suara gemuruh dari air terjun yang mengalir. Di bawah air terjun, terlihat  kolam yang sangat bersih dan jernih. Kita bisa berenang atau atau sekedar berendam di kolam air terjun ini.

Namun, kami tidak mampir di sini. Kami langsung saja menuju Liwa. Kami melewati Abung Barat, Sumber Jaya, dan Sukau. Sepanjang jalan hanya ada hutan dan hutan. Kalaupun sesekali bertemu rumah penduduk, cuma satu dan dua. Ketika aku membuka kaca mobil, tercium bau-bauan yang datang dari dari pohon-pohon di kiri-kanan jalan. Kami merasa seperti berada di hutan saja.

Melewati Bukit Kemuning, Syamsu bicara banyak tentang kota Liwa. Katanya:

Liwa merupakan ibu kota Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten kelima di Provinsi Lampung. Ia merupakan daerah dataran tinggi yang dikelilingi oleh pegunungan, yaitu Gunung Seminung, Gunung Pesagi, Gunung Sekincau serta Bukit Barisan Selatan. Udaranya sejuk. Para penduduknya terbiasa memakai jaket.

Mendengar Syamsu menyebut Gunung Seminung, aku tersentak. Berarti tidak lama lagi kami akan sampai di Danau Ranau. Aku sudah tidak sabaran ingin segera melihat wujudnya. Namun, sesuai dengan kesepakatan sore tadi, kami menginap dulu di Liwa.

Belum lama memasuki Liwa, kami sampai di Tugu Ara. Tugu ini merupakan sebuah landmark Liwa. Ini tugunya:

Tugu Ara (foto: Simplezerro)

Tugu ini terletak di sebuah pertigaan. Di sini, kami memilih belok kanan. Kita menuju komplek perkantoran pemkab. Jalan ini juga akan menuju Danau Ranau. Kalau belok kiri, kita akan Kabupaten Pesisir Barat, yang terkenal dengan Pantai Tanjung Setia, ujar Sjamsu. Aku menjawab, berarti kita sekarang cari penginapan, ya.

Ya, jawab Syamsu sembari tetap menyetir dengan semangat. Sekalipun sudah menyetir sekitar enam jam, ternyata Syamsu belum capek. Aku senang melihat dia masih bersemangat. Sekitar seperempat jam berjalan dari Tugu Ara, kami sampai di penginapan. Namanya: Permata Hotel. Kami turun dari mobil dan siap untuk menginap di sini.

***

Usai sarapan, kami meninggalkan hotel. Dari Amran, sang resepsionis hotel, kami dapat informasi tentang Danau Ranau sebagai berikut:

Danau Ranau merupakan Danau terbesar kedua di Sumatera setelah Danau Toba. Yang unik dari danau ini adalah, letaknya di dua provinsi, yaitu provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Lampung. Persisnya ia berada di perbatasan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan dan Kabupaten Lampung Barat.

Untuk memperkaya informasi tentang Danau Ranau, aku melayari sebuah situs https://infolpg.com/wisata-danau-ranau-lampung/. Dari tulisan Reskiana Putri yang berjudul 5 Fakta Wisata Danau Ranau Lampung Yang Wajib Anda Ketahui, aku menemukan foto berikut:

Danau Ranau (Foto: Reskiana Putri)

Ada juga tentang profil Danau Ranau seperti ini:

Danau ini memiliki pemandangan Gunung Seminung di belakangnya dan juga di kelilingi oleh perbukitan dan lembah. Hal ini yang menjadikan Danau Ranau tidak hanya memiliki pemandangan yang indah, namun udaranya juga yang segar (Putri, 2022).

Soal objek lain di sekitar Danau Ranau, tulisan tersebut menjelaskan:

Di sisi lain kaki Gunung Seminung terdapat sumber air panas yang berasal dari dasar danau. Di dekat danau ini juga terdapat air terjun Subik. Selain keindahan alam yang ditawarkan Danau Ranau ini, pengunjung bisa pula memancing di pinggir danau (Putri, 2022).

Lalu, ikan apa saja yang ada di Danau Ranau? Tulisan itu menyebutkan:

Danau ini dihuni oleh berbagai macam jenis ikan tawar seperti, ikan mujair, ikan harongan, ikan kepiat dan ikan kepo (Putri, 2022). Apa lagi? Tulisan tersebut menulis:

Di tengah danau terdapat sebuah pulau kecil yang oleh penduduk setempat disebut Pulau Marisa. Pulau ini merupakan daerah persawahan milik warga sekitar. Di sana terdapat pohon-pohon kelapa yang menjadi rumah bagi beberapa jenis hewan primata (Putri, 2022).

Semua informasi di atas membuatku lega. Aku kini punya pengetahuan yang cukup memadai tentang Danau Ranau. Berbekal pengetahuan ini aku siap berangkat menuju Danau Ranau. Sebagai simbol kesiapanku, aku pun berfoto di bawah papan nama hotel.

Sekadar kenangan pernah mampir di sini
(Foto: Alif Azra Abrar)

Aku sudah berada di jalur yang tepat menuju Danau Ranau. Mendadak sontak aku merasa tidak asing lagi dengan Danau Ranau. Aneh? Ya. Namun, itulah yang terjadi. Aku merasa sudah akrab dengan Danau Ranau.

Bersama Syamsu dan Alif aku akan segera mereguk kenikmatan berhadapan dengan Danau Ranau. Memang kunjungan ini merupakan kunjungan pertamaku ke Danau Ranau. Namun, ia merupakan kunjunganku yang kelimabelas ke danau indah di seluruh Indonesia. Sembilan danau di antaranya berada di Sumatra (Danau Laut Tawar, Danau Toba, Danau Maninjau, Danau Singkarak, Danau Diateh, Danau Dibawah, Danau Talang, Danau Kerinci, dan Danau Gunung Tujuh). Sedangkan lima danau lainnya berada di Papua (Danau Sentani, Danau Love, Danau Paniai, Danau Anggi Giji dan Danau Anggi Gida).    

Aku memang sering kali merindukan pemandangan indah di danau. Kerinduan itu muncul sejak aku pertama mengunjungi Danau Singkarak. Ya, Danau Singkarak merupakan danau pertama yang kukunjungi. Aku mengunjunginya ketika aku bersekolah di SD, bersama ayahku. Saat itu aku sangat takjub menyaksikan Danau Singkarak.

Setelah itu, aku merindukan atmosfirnya. Merindukan riak airnya. Merindukan kesejukan udaranya. Merindukan bisa masuk ke dalamnya. Akhirnya, aku malah merindukan kebesaran Allah. Dari semua itu, aku menyadari betapa kecilnya aku dibandingkan dengan alam yang luas. Betapa tak berartinya aku dibandingkan kekuasaan Allah.

Semuanya berujung kepada kesadaranku untuk selalu bersyukur ke hadirat Allah. Ini harus selalu kuperbarui. Paling tidak untuk menegaskan kepada setan, aku tidak mau diperdayanya. Tegasnya, kunjungan ke setiap danau meninggalkan kesadaranku untuk meningkatkan rasa syukurku kepada Allah Swt. Pada sebuah titik dari perjalanan menuju Danau Ranau, aku sempat mengabadikan Danau Ranau di bawahnya. Lihatlah, betapa eloknya pemandangan ini:

Danau Ranau dari jalan menuju ke sana dari arah Liwa (Foto: Abrar)

Kegembiraan segera muncul ketika mengarahkan pemandangan ke sana. Kebahagiaan datang bertangkai-tangkai. Ketenteraman segera muncul. Ia menguasai seluruh diriku.

Namun, itu terasa belum cukup. Aku ingin segera berinteraksi dengan Danau Ranau. Aku pun minta Syamsu segera mengantarkan kami ke sana. Dengan sigapnya Syamsu memacu kendaraannya menuju sebuah taman yang dibangun oleh PT Pupuk Sriwijaya. Taman itu sangat luas. Ia mengakomodasi wisma dan penginapan bagi mereka yang ingin menginap di sana. Di bawah taman itu, terdapat dermaga perahu motor yang bisa membawa pengunjung ke Pulau Marisa. Setibanya di taman, kami bergegas turun ke tepi Danau Ranau. Kami meneruskan perjalanan ke dermaga. Nah, foto Danau Ranau dengan latar belakang Gunung Seminung di atas merupakan hasil jepretanku dari dermaga. Kecuali itu, Alif dan aku diabadikan pula oleh Syamsu dalam foto berikut:

Alif dan aku bergaya dengan latar belakang G. Seminung (foto: Syamsu)

Ada pula foto seperti di bawah ini:

Aku meletakkan tanganku di bahu Alif (Foto: Syamsu)

Apakah ini berarti sudah tidak ada lagi bebanku tentang Danau Ranau? Apakah sudah tidak ada lagi kerinduan tentang Danau Ranau yang kusimpan? Ternyata, masih ada kerinduan yang tersisa, yakni berenang di Danau Ranau. Lalu, aku dan Alif mencebur ke Danau Ranau. Kami berenang di pinggirnya. Ini foto kami berenang yang dijepret oleh Syamsu:

Berenang di sini terasa menyenangkan. Airnya sejuk. Jernih. Sekalipun kami tidak berenang ke tengah, kebahagiaan merasuki diriku. Menerpa lapis dadaku. Aku menemukan kebahagiaan berinteraksi dengan alam.

Angin mulai bertiup kencang. Sebentar lagi pasang datang. Kalau pasang datang, tentu airnya jadi keruh. Kami tidak ingin menikmati air keruh. Maka setelah berenang sekitar seperempat jam, kami pun naik ke atas. Di atas, di dekat dermaga, aku sempat berfoto seperti di samping kiri ini.

Sembari berdiri di pinggir Danau Ranau, mataku menerawang ke arah danau. Pikiranku berbicara banyak. Rasa-rasanya, belum lama kami berada di pinggir Danau Ranau. Namun, kami sudah mereguk kenikmatan indahnya Danau Ranau. Getaran kebahagiaan serasa merambati kulitku. Perjalanan jauh dari Yogya ke sini terasa tidak melelahkan. Kepuasan yang kuperoleh jauh melampaui usaha yang kulakukan. Oh, betapa beruntungnya aku bisa menikmati keindahan alam ini. Betapa sayangnya Allah kepadaku memberiku kesempatan bercengkerama dengan alam di sekitar Danau Ranau.

Usai berenang di pinggir Danau Ranau (foto: Alif Azra Abrar)

Aku ingin tetap memperoleh keberuntungan dalam hidup. Untuk itu, aku antara lain, akan mematuhi perintah Allah dalam Al Qur’an, Surah Al Mukminun, Ayat 1-3, yakni: khusyuk dalam salat dan menjauhkan diriku dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna. Tidak mudah memang melakukannya. Selalu saja ada godaan yang menghadang, baik berupa bisikan setan maupun ajakan hawa nafsu. Namun, aku akan tetap berusaha seoptimal mungkin.

Sampai di sini muncul beberapa pertanyaan, yakni, pertama, bisakah aku mengidentifikasi titik keberadaan Yasin dalam nukilan novel Dian Yang Tak Kunjung Padam di atas? Belum. Agaknya aku akan bisa menemukannya bila aku mengelilingi Danau Ranau dan berhenti di setiap tempat yang sesuai dengan ciri yang disebutkan oleh novel itu (Waktu di Danau Laut Tawar dulu, aku pernah mengelilinginya mengendarai mobil). Namun, aku tidak melakukannya. Aku khawatir Syamsu dan Alif jadi capek.

Kedua, bisakah aku membayangkan pondok Yasin tempat dia memperoleh pencerahan seperti yang digambarkan novel Dian Yang Tak Kunjung Padam itu? Pencerahan itu digambarkan STA sebagai berikut:

Dalam gelap-gulita itu, dihapusnya setitik air mata yang tergantung pada bulu matanya. Air mata itu bukan air mata kedukaan yang mengalir dari laut penderitaan! Air mata itu ialah air mata kegirangan batin yang tiada berhingga.

Malam itu ia mendapat kemenangan, kemenangan atas keduniaan. Ia mulai merasa hidup di dunia, di tengah keduniaan bagi akhirat yang kekal (hal. 154).

Aku bisa membayangkan pondok yang dimaksud. Sebuah pondok sederhana. Hanya diisi oleh perabot sederhana pula: ranjang dari bambu, sebuah meja kecil dan kursi juga dari bambu, sebuah lemari kecil tempat menyimpan pakaian dan piring serta seperangkat alat salat. Lalu ada dapur kecil dengan tungku untuk memasak nasi dan membakar ikan. Dengan semua perlatan itu Yasin bisa menemukan kebahagiaan. Dia bisa menjalani sisa umurnya dengan beramal baik. Soal yang terakhir ini, STA menulis:

Siapakah yang tiada tahu akan Yasin orang tua yang saleh dan taat beribadat itu, yang suka menolong siapa jua pun dengan segala tenaganya, tak memandang untung atau laba? (hal. 154).

Ketiga, apakah aku mengalami peristiwa spiritual yang meningkatkan keimananku? Tidak. Aku tidak mengalaminya secara tegas. Namun, tiba-tiba aku bertekad akan menyiapkan ruang ikhlas dalam hatiku untuk menerima hidayah-Nya. Untuk itu aku siap minta petunjuk-Nya. Soal ini, aku ingat sebuah firman Allah: Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian (Hadis qudsi yang diriwayatkan Muslim).

Petunjuk itu, kuminta dalam seuntai doa seperti yang diajarkan Rasulullah saw: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri (dari segala keburukan) dan kekayaan hati (selalu merasa cukup dengan pemberian-Mu). Yang terakhir inilah yang harus kupegang teguh. Ya, aku akan mengejar kekayaan hati dalam sisa hidupku.

Maka mengejar kekayaan hati inilah yang menjadi capaian tertinggiku berada di pinggir Danau Ranau pada 17 Desember 2022. Aku lega. Aku memandang sekali lagi ke arah Danau Ranau dan Gunung Seminung. Lalu aku membalikkan badan. Berjalan meninggalkan pinggir Danau Ranau.

***

Birugo Puhun, 20 Desember 2022.

Tiga Malam Menuju Rinca

Gunung Rinjani yang tertutup awan tebal melepas perjalanan kami meninggalkan Pelabuhan Labuhan, Lombok, pada suatu siang di bulan April.

Tulisan ini telah dimuat di Koran Tempo Edisi Akhir Pekan Tanggal 3-4 Juni 2017 dan dapat diakses pada link berikut