Bercermin ke Finlandia

Tahun 2022, Finlandia menjadi negara paling bahagia di dunia. Ia menduduki peringkat ini sejak 2017. Anehnya, pada 2020 Finlandia menduduki peringkat 35 sebagai negara paling banyak bunuh diri. Setiap 100 ribu penduduk Finlandia,  terdapat 13,78 kasus bunuh diri. Biasanya orang bunuh diri karena merasa tidak punya masa depan. Sedangkan untuk menyiapkan masa depan, dibutuhkan pendidikan. Apakah pendidikan di Finlandia tidak bagus? Ternyata Finlandia memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Konon 39% penduduk Finlandia memiliki gelar sarjana. Apakah tingkat keberagamaannya rendah? Konon hanya 3% masyarakat Finlandia yang rutin ke gereja. Jumlah penduduk yang menyatakan tidak beragama malah mencapai 22 persen. Agaknya ini bisa disebut sebagai penyebab utama orang Finlandia bunuh diri. Namun, ini perlu dicek dan ricek. Yang jelas Islam melarang pemeluknya bunuh diri, sebagaimana firman Allah: Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (QS. An Nisa’: 29-30).

(29/10/2022)

Hasrat Bersatu

Tidak lama setelah menjadi PM Inggris, Rishi Sunak berkata: Prioritas utama adalah untuk menyatukan partai kita dan negara kita dalam menghadapi tantangan ekonomi yang mendalam. Ya, dia mengutamakan persatuan. Dia yakin persatuan akan bisa menyelamatkan negaranya. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia sudah mencanangkan persatuan sejak 28/10/2022, melalui Sumpah Pemuda. Ini ditegaskan, terutama, oleh sumpah kedua: mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Persatuan ini membangkitkan hasrat merdeka dari penjajahan. Hasrat merdeka ini segera menjalar ke berbagai lapisan masyarakat. Semuanya berjuang untuk mencapai kemerdekaan. Namun, seiring dengan perjalanan berbangsa, persatuan Indonesia terancam. Gegara pilkada, pileg dan pilpres, masyarakat terbelah. Persatuan menjadi mahal. Padahal Rasulullah saw pernah bersabda: Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti satu bangunan, sebagiannya menguatkan yang lainnya (HR. Bukhari dan Muslim). Kita menjadi risau. Maka marilah kita bangkitkan kembali hasrat bersatu. Kita gugah rasa kemanusiaan masyarakat untuk menjadikan hasrat bersatu sebagai dasar menemukan solusi untuk menghilangkan penderitaan bangsa.

(28/10/2022)

Pengendalian Diri

Dalam menjalani kehidupan, kita sering kali merasa jengkel. Jengkelnya bisa beraneka ragam. Mulai dari jengkel kepada lingkungan, anggota keluarga hingga pemerintah. Pelampiasan kejengkelan itu juga beraneka gaya, sejak dari melalui media sosial, tulisan, lisan sampai lukisan. Tentu tidak ada yang melarang kita melampiaskan kejengkelan itu. Bukankah kita human free will? Namun, ada kendala yang bisa menghambat pelampiasan itu, yakni nalar dan nurani yang kita miliki. Kalau keduanya memberi konfirmasi, silakan dilampiaskan. Kalau tidak, lebih baik jangan. Bukan mustahil kelak akan menimbulkan masalah baru. Di atas itu ada norma agama. Sebuah sabda Rasulullah berbunyi: Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat (HR. Al-Bukhari, Muslim). Maka dibutuhkan pengendalian diri. Sampai di sini, kita berurusan dengan kemampuan bertindak positif secara mandiri. Kemampuan ini tidak dibawa malaikat dari langit. Ia lahir melalui pergulatan kita dengan kondisi sosial dan budaya yang ada.

(27/10/2022).

Banggalah Dengan Kebesaran Indonesia

Allah berfirman: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al Hujurat: 13). Mengikuti arahan firman Allah ini, konon di Indonesia, pada 2022,  terdapat 491 suku bangsa. Jumlah mereka 275.361.267 jiwa dan mendiami wilayah seluas 8.300.000 km persegi. Wilayah ini sangat kaya dengan sumber daya alam. Tidak jarang negara asing dating ke sini hanya untuk mengeruk sumber daya alam sebanyak-banyaknya. Ini menunjukkan, Indonesia merupakan negara besar. Maka kita harus bangga dengan kebesaran Indonesia itu. Kita jangan minder dengan orang asing dan konsep yang dibawanya. Kita perlu mengidentifikasi kearifan lokal dan menggunakannya dalam pergaulan global. Agar kebesaran Indonesia itu benar-benar menjadi anugerah illahi.

(26/10/2022)

Mengenang Tengku Amir Hamzah

Itulah sebait puisi yang tertulis pada batu nisan makam Tengku Amir Hamzah (TAH). Makam itu terletak di Kompleks Pemakaman Masjid Azizi Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara. Sejatinya, TAH merupakan bangsawan Kerajaan Langkat. Gelarnya Pangeran Indrapura Putra. Dia pernah menjadi Kepala Luhak Langkat Hilir dan Langkat Hulu. Namun, dia tidak sombong. Dia punya semangat nasionalisme yang tinggi. Dia mengikuti sumpah pemuda. Sekembalinya ke Langkat, dia berkeliling kota meneriakkan Indonesia sudah merdeka. Di samping itu, dia merupakan seorang penyair. Dalam posisi ini, TAH, kata Sutan Takdir Ali Sjahbana (1996) merupakan  penyair besar antara dua zaman. Karya monumentalnya berjudul Nyanyi Sunyi, yang terdiri atas 24 puisi. Maka sesungguhnya TAH merupakan orang besar. Pantas dia ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 3 November 1975. Namun, kematiannya sangat mengerikan. Konon dia diculik dan dipenggal kepalanya. Ini menegaskan kebenaran firman Allah berikut:…..Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Luqman: 34).

(25/10/2022)

Perjuangan Yang Mengilhami

Dengan mengunjungi makam Teuku Umar (TU), penulis dan kawan seperjalanan bisa menggali kebaikannya. Kami bisa berimajinasi tentang hasrat Aceh merdeka yang sangat kuat dalam dirinya. TU memang tidak tahu kapan Belanda akan hengkang dari Aceh. Namun, dia sangat mencintai rakyat Aceh. Rasa cinta itu yang medorong dia sangat bersemangat berperang melawan Belanda. Dorongan itu diperkuat lagi oleh tuntunan Allah.  Bukankah Allah pernah berfirman: Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan (semua makhluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkannya (QS. Al-A’la: 1-3). Semua ini mengilhami kami memiliki hasrat hidup untuk bermanfaat buat orang lain. Selama ini hasrat tersebut terancam oleh hasrat untuk mementingkan diri dan keluarga sendiri. Maka kami sangat bersyukur bisa ziarah ke makam TU. Kami pun berdoa semoga Allah memberi tempat yang mulia kepada Teuku Umar dan menuntun kami agar punya hasrat kuat bermanfaat buat orang lain. Aamiin.

(24/10/2022)

Manajemen Kematian Teuku Umar

Demikianlah pesan penting Teuku Umar (1854-1899) yang diabadikan di pintu gerbang makamnya, di Kampung Mugo, hulu Sungai Meulaboh. Usai berpesan, dia dan pasukannya menyerang Belanda. Namun, belum lama berperang di perbatasan Meulaboh, dia tertembak mati. Rakyat Aceh berduka. Istrinya, Cut Nyak Dien, juga berduka. Merenungi ucapannya itu, kita mengerti, Teuku Umar tahu persis risiko menyerang Belanda: menang atau kalah. Kalau menang, dia dan pasukannya bisa minum kopi di Meulaboh. Kalau kalah, dia bisa tertembak dan mati. Maka kematian merupakan risiko kekalahannya. Dia tidak gentar. Baginya kematian adalah risiko hidup, sebagaimana firman Allah: Setiap jiwa akan merasakan kematian (QS. Ali ‘Imran: 183). Namun, dia ingin menjalani kematiannya dengan gembira. Ya, berperang bagi Teuku Umar merupakan kegiatan yang menggembirakan. Dia sudah berperang sejak berumur 24 tahun. Selama berperang, dia menggunakan berbagai strategi. Satu di antaranya membelot ke Belanda. Setelah itu, dia kembali menyerang Belanda. Dari pembelotan itu, dia dan pasukannya konon berhasil merampas 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kilogram bubuk mesiu, 5 ton timah, dan uang 18.000 gulden.

(23/10/2022)

Beutong Ateuh (bagian III)

Penulis tidak pernah menanyakan perasaan kawan seperjalanan. Namun, penulis tak berhenti berdoa agar selamat sampai di Meulaboh. Sejam perjalanan dari Takengon, jalanan sudah sepi. Jalan dinaungi hutan. Ternyata kami berjalan menyusup hutan. Jalannya mulus, tapi sempit. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Yang ada hanya tanda-tanda alam. Sesekali terlihat tanda-tanda lalu-lintas. Ini membantu agar darah kami tidak berdesir saat menghadapi tikungan tajam saat mendaki dan menurun. Agar mata kami tetap terbuka melihat jurang dalam pada satu sisi jalan. Maka kami harus tetap terbangun dan berjaga-jaga. Lengah sedikit saja, kami bisa terperosok ke jurang dalam. Namun, kewaspadaan itu terbayar oleh pemandangan indah di sepanjang lereng Gunung Singgah Mata (berbeda dengan gunung di daerah lain, di sini lereng gunung dijadikan jalan raya). Gunung ini terletak di dua kabupaten: Aceh Tengah dan Nagan Raya. Setelah istirahat dua kali dan bersusah payah menguras tenaga dan konsentrasi, akhirnya kami sampai di Meulaboh pukul 1 pagi. Alhamdulillah. Kami lega. Kami ungkapkan rasa syukur ini dengan lantang. Ini sesuai dengan firman Allah: Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (QS. Al-Duha: 11).

(22/10/2022)-habis.

Beutong Ateuh (bagian II)

Kami merasa perlu ke Meulaboh, untuk: (i) menyambung silaturahim dengan seorang kawan, (ii) melihat dari dekat monumen tsunami, dan (iii) ziarah ke makam Teuku Umar, suami Cut Nyak Dien. Menyambung silaturahim merupakan anjuran Nabi Muhammad saw, sebagaimana sabdanya: Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahim (HR. Bukhari–Muslim). Dengan menyaksikan monumen tsunami kami bisa meningkatkan kesadaran tentang ganasnya tsunami. Ziarah kubur juga anjuran Rasulullah saw lewat sabdanya: Sesungguhnya aku dahulu telah melarang kalian untuk berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah karena akan bisa mengingatkan kalian kepada akhirat dan akan menambah kebaikan bagi kalian (HR. Muslim). Maka perjalanan ke Meulaboh untuk mencari kebaikan. Kalau kelak ada halang-rintang yang menyebabkan kami tidak sampai ke Meulaboh, itu takdir. Allah sudah menetapkannya, sebagaimana firman-Nya: Allah telah menetapkan bagi segala sesuatu kadarnya (QS. Al-Thalaq: 3). Kalau sudah begini, apa lagi yang harus kami risaukan? Kami pun memutuskan untuk tetap berangkat. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, usai salat Magrib, kami berangkat ke Meulaboh melalui Beutong Ateuh.

(21/10/2022)- bersambung.

Beutong Ateuh (bagian I)

Informasi tentang Beutong Ateuh yang sampai ke tangan penulis membuat gentar. Simaklah: untuk sampai ke sana, medannya bukan alang kepalang. Harimau atau kawanan gajah bisa tiba-tiba menghadang jalan setapak. Info lain: Tanggal 23 Juli 1999, di Beutong Ateuh, terjadi salah satu peristiwa paling mengerikan dan juga merupakan satu dari sekian banyak pembantaian selama operasi militer yang dilaksanakan di Aceh, yakni Peristiwa Beutong Ateuh atau juga dikenal sebagai Peristiwa Tengku Bantaqiah. Info yang lebih baru: Secara umum kalau sore sepi. Pelintas jalan minim. Kecuali kalau sudah masuk daerah Beutong Nagan Raya. Selama di gunung, sepi pemukimannya. Menyadari kenyataan ini muncul pertanyaan, perlukah perjalanan diteruskan ke Meulaboh dari Takengon via Beutong Ateuh? Soalnya penulis dkk berangkat sore hari. Pada titik ini kami berhitung. Menggunakan akal, membuat neraca untung rugi. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw: Kemuliaan seorang laki-laki pada agamanya, kehormatannya pada akalnya, dan kesempurnaannya pada akhlaknya (Quraish Shihab, 2019).

(20/10/2022) -bersambung