Perjuangan Yang Mengilhami

Dengan mengunjungi makam Teuku Umar (TU), penulis dan kawan seperjalanan bisa menggali kebaikannya. Kami bisa berimajinasi tentang hasrat Aceh merdeka yang sangat kuat dalam dirinya. TU memang tidak tahu kapan Belanda akan hengkang dari Aceh. Namun, dia sangat mencintai rakyat Aceh. Rasa cinta itu yang medorong dia sangat bersemangat berperang melawan Belanda. Dorongan itu diperkuat lagi oleh tuntunan Allah.  Bukankah Allah pernah berfirman: Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan (semua makhluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkannya (QS. Al-A’la: 1-3). Semua ini mengilhami kami memiliki hasrat hidup untuk bermanfaat buat orang lain. Selama ini hasrat tersebut terancam oleh hasrat untuk mementingkan diri dan keluarga sendiri. Maka kami sangat bersyukur bisa ziarah ke makam TU. Kami pun berdoa semoga Allah memberi tempat yang mulia kepada Teuku Umar dan menuntun kami agar punya hasrat kuat bermanfaat buat orang lain. Aamiin.

(24/10/2022)

Author: Ana Nadhya Abrar

Gagal menjadi jurnalis profesional, tapi berhasil meraih jabatan profesor jurnalisme. Itulah peruntungan hidup Prof. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., Ph.D. yang dikukuhkan sebagai guru besar Jurnalisme di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 10 Maret 2022. Di samping mengajar jurnalisme, dia juga rajin menulis. Selain ratusan artikel dan kolom untuk media massa, dia juga telah menulis dan menyunting puluhan buku. Penulisan biografi adalah spesialisasinya sebagaimana tergambar dari pidato pengukuhannya sebagai guru besar dengan judul “Menarik Garis Batas Jurnalisme dalam Penulisan Biografi”. -Hasril Caniago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *