Kebahagiaan(bagian III)

Memperoleh kebahagiaan butuh keterampilan. Ia bisa diperoleh lewat latihan. Lalu siapa yang memeriksa latihan itu? Suara batin. Ketika batin menjerit, sebenarnya itu sinyal, latihan tersebut gagal. Kalau batin ok, latihannya sukses. Kesuksesan ini mengantarkan pelakunya pada mahir. Kalau sudah mahir, kebahagiaan mudah menjelma. Maka manusia harus mengakrabi dunia batinnya. Mereka harus sering-sering mendengarkan suara batinnya. Sedikitnya terdapat dua hal yang menyenangkan batin. Yakni: bertindak secara proporsional dan lapang dada. Keduanya otomatis bisa menjadi alat untuk mencapai kebahagiaan. Namun, Allah berfirman, Siapa-siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, maka Dia melapangkan dadanya. Dan siapa-siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka Allah menjadikan dadanya sesak dan sempit (QS. Al An’am: 25). Ini menunjukkan, lapang dada lahir berkat pertolongan Allah. Pertolongan itu konon datang karena manusia memperbaiki tauhidnya, memperbaiki amal salehnya, serta ridha dengan qada. Maka marilah kita mendekatkan diri kepada Allah tanpa ada atau tidaknya musibah (habis).

(09/12/2022)

Author: Ana Nadhya Abrar

Gagal menjadi jurnalis profesional, tapi berhasil meraih jabatan profesor jurnalisme. Itulah peruntungan hidup Prof. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., Ph.D. yang dikukuhkan sebagai guru besar Jurnalisme di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 10 Maret 2022. Di samping mengajar jurnalisme, dia juga rajin menulis. Selain ratusan artikel dan kolom untuk media massa, dia juga telah menulis dan menyunting puluhan buku. Penulisan biografi adalah spesialisasinya sebagaimana tergambar dari pidato pengukuhannya sebagai guru besar dengan judul “Menarik Garis Batas Jurnalisme dalam Penulisan Biografi”. -Hasril Caniago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *