Patriot (bagian II)

Manusia tak bisa dipisahkan dari tanah airnya. Tanah dan air adalah sumber kehidupan. Simbol kebahagiaan. Di mana manusia dilahirkan, di situlah tumpah cinta kasihnya. Mereka rela menyerahkan jiwa dan raganya  untuk kepentingan bangsa dan negaranya. Mereka melaksanakan perintah Allah: Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (QS. At Taubah: 41). Lucunya, mereka tidak pernah menyebut dirinya patriot. Orang lain yang menilainya patriot. Namun, ada kenyataan yang bertolak belakang dengan keadaan itu. Menghadapi persaingan bebas dalam kontestasi politik, banyak kontestan mengklaim sebagai patriot. Demi mengejar impiannya, mereka memanfaatkan peluang untuk dianggap patriot. Mereka tega menjual Indonesia kepada bangsa lain. Mereka juga tak segan-segan membodohi rakyat. Pada titik ini sebenarnya mereka sudah mengkhianati tanah airnya. Mereka sama sekali tidak layak memimpin Indonesia. Kalau ada di antara mereka yang terpilih, itu adalah kecelakaan sejarah (bersambung).

(05/12/2022)

Author: Ana Nadhya Abrar

Gagal menjadi jurnalis profesional, tapi berhasil meraih jabatan profesor jurnalisme. Itulah peruntungan hidup Prof. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., Ph.D. yang dikukuhkan sebagai guru besar Jurnalisme di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 10 Maret 2022. Di samping mengajar jurnalisme, dia juga rajin menulis. Selain ratusan artikel dan kolom untuk media massa, dia juga telah menulis dan menyunting puluhan buku. Penulisan biografi adalah spesialisasinya sebagaimana tergambar dari pidato pengukuhannya sebagai guru besar dengan judul “Menarik Garis Batas Jurnalisme dalam Penulisan Biografi”. -Hasril Caniago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *