Patriot (bagian I)

Kasih ibu kepada beta/Tak terhingga sepanjang masa/Hanya memberi tak harap kembali/Bagai sang surya menyinari dunia. Demikian satu bait lagu anak-anak  “Kasih Ibu”. Melalui lagu itu kita diyakinkan: ibu hanya memberi dan tidak pernah minta kembali. Nilai itu terpatri dalam hati kita sampai sekarang. Kita pun sangat menghagai dan memuliakan ibu. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw: Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu kemudian ibumu sekali lagi ibumu kemudian bapakmu kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat. (HR. Abu Dawud). Nah, sifat ibu ini terkandung dalam kata patriot.  Seorang patriot hanya memberi, tidak pernah minta kembali. Dia memberikan segala-galanya buat tanah airnya. Semua itu terjadi karena dia mencintai  tanah airnya. Dari sinilah kemudian lahir nasionalisme. Nasionalisme itu konon harus dilandasi humanisme. Kalau tidak, lahirlah chauvinisme, memandang rendah bangsa lain. Chauvinisme membuka ekspansi sebuah negara ke negara lain. Sekarang ekspansi itu muncul dalam bentuk hutang. Maka memberi hutang perlu diwaspadai sebagai bentuk chauvinisme (bersambung).

(04/12/2022)

Author: Ana Nadhya Abrar

Gagal menjadi jurnalis profesional, tapi berhasil meraih jabatan profesor jurnalisme. Itulah peruntungan hidup Prof. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., Ph.D. yang dikukuhkan sebagai guru besar Jurnalisme di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 10 Maret 2022. Di samping mengajar jurnalisme, dia juga rajin menulis. Selain ratusan artikel dan kolom untuk media massa, dia juga telah menulis dan menyunting puluhan buku. Penulisan biografi adalah spesialisasinya sebagaimana tergambar dari pidato pengukuhannya sebagai guru besar dengan judul “Menarik Garis Batas Jurnalisme dalam Penulisan Biografi”. -Hasril Caniago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *