Bepergian (bagian III)

Anak-anak SD berwisata stiap akhir semester. Para remaja kemping di luar kota pada akhir pekan. Orang dewasa berpiknik ke luar negeri pada saat liburan kerja. Semuanya bersenang-senang. Mereka seolah-olah memiliki semboyan: nikmatilah hidup ini. Gambaran semacam ini membuat kita senang. Ternyata manusia Indonesia telah menjadi manusia modern. Namun, perlukah bepergian itu dipamerkan? Masih banyak lho manusia Indonesia yang tidak sempat bepergian.  Mereka bisa nelangsa melihat orang yang sering bepergian. Akibat lanjutannya, lahirlah jurang pemisah antara yang bisa bepergian dengan yang tidak. Maka ganti saja sikap pamer itu  dengan tadabur alam, menikmatinya sembari tafakur tentang kebesaran Allah. Menghayati lingkungan sekitar seraya bersyukur kepada Allah sudah berkesempatan  menyaksikannya. Yang terakhir ini penting, sebagaimana firman Allah: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7) (habis).

(03/12/2022)

Author: Ana Nadhya Abrar

Gagal menjadi jurnalis profesional, tapi berhasil meraih jabatan profesor jurnalisme. Itulah peruntungan hidup Prof. Ana Nadhya Abrar, M.E.S., Ph.D. yang dikukuhkan sebagai guru besar Jurnalisme di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 10 Maret 2022. Di samping mengajar jurnalisme, dia juga rajin menulis. Selain ratusan artikel dan kolom untuk media massa, dia juga telah menulis dan menyunting puluhan buku. Penulisan biografi adalah spesialisasinya sebagaimana tergambar dari pidato pengukuhannya sebagai guru besar dengan judul “Menarik Garis Batas Jurnalisme dalam Penulisan Biografi”. -Hasril Caniago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *